December 3, 2007

Benarkah AIDS Sudah Ada Obatnya?

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dokter Zubairi Yth,

Saat ini, ada dua keponakan saya yang tertular AIDS dan sedang minum obat, tetapi lumayan juga efek sampingnya. Yang satu muncul gejala gatal-gatal hebat, sehingga salah satu obatnya harus diganti. Keponakan yang lain malah kena TBC. Untung cepat ketahuan dan keduanya sekarang kondisinya bagus.
Yang ingin saya tanyakan, benarkah AIDS sudah ada obatnya? Dan apakah bisa disembuhkan. Terima kasih atas penjelasannya.

Henri, Medan

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb
Pak Henri yang baik,
Benar sekali bahwa AIDS sudah ada obatnya. Obatnya tersedia gratis di banyak rumah sakit di seluruh Indonesia. Laporan mutakhir dari Lewden, Chene dkk yang dimuat di Journal of Acquired Immune Deficiency Syndrome tahun 2007, 46(1) halaman 72-77, menyebutkan bahwa angka mortalitas ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang kekebalan tubuhnya pulih, tercermin dari jumlah limfosit CD4 lebih dari 500 sel/mm3 yang cukup lama, maka angka kematian (mortalitas)-nya sama seperti masyarakat umum.

Penelitian di Prancis tersebut mengikutsertakan 2.435 orang dengan HIV/AIDS. Ternyata sebagian ODHA kesehatannya pulih total dan angka kematiannya tidak lebih tinggi dari masyarakat umum yang tanpa HIV. Sebetulnya, sudah banyak penelitian yang diterbitkan mulai tahun 1996, yang membuktikan manfaat ARV jangka panjang. Namun yang hasilnya sebaik masyarakat umum tanpa HIV baru penelitian di atas.

ARV atau ada yang menyebutnya ART adalah singkatan dari Anti Retro Viral Therapy, atau HAART (Highly Active Anti Retroviral Therapy). Ini adalah obat penyakit HIV/AIDS. Apakah benar masalah HIV/AIDS di Indonesia sudah begitu besar? Ya, sebagai contoh di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), ODHA yang berobat jalan setiap hari, rata-rata 53 orang sehingga merupakan salah satu unit rawat jalan yang paling sibuk. Bahkan layanan ini kemudian ditingkatkan menjadi Pusat Layanan AIDS Terpadu oleh direkturnya. RSCM juga merupakan rumah sakit yang paling banyak melayanai ODHA seluruh Indonesia. Yang mendapatkan obat ARV gratis saja sampai bulan ini sudah 2.800 orang.

Tidak hanya Jakarta, di daerah juga banyak ODHA bisa dan telah mendapatkan layanan ARV gratis. Banyak ODHA yang telah pulih kesehatannya, bisa bekerja normal, kembali produktif, bahkan ada juga yang prestasinya menonjol. Jadi, yang penting sekarang Pak Henri dan anggota keluarga yang lain, perlu mendukung, mengingatkan dan memotivasi agar kedua keponakan terus melanjutkan minum obat, jangan sampai putus obat.

Sebetulnya masih banyak sekali ODHA di Indonesia yang belum dites HIV, sehingga tidak minum ARV dan karena itu bisa sakit atau bahkan meninggal. Para ahli yang difasilitasi oleh pemerintah menyatakan, paling sedikit pada tahun 2002 Indonesia mempunyai 100 ribu ODHA dan tahun lalu (2006) lebih dari 190 ribu ODHA. Masalh ini akan dibahas lebih lanjut di artikel lain.

Mengenai efek samping, obat-obat lainnya seperti antibiotik, obat hipertensi, diabetes, bahkan parasetamol pun dapat menyebabkan efek samping. Untung pemerintah juga telah menyediakan obat pengganti, bila salah satu obat ARV menimbulkan efek samping seperti gatal-gatal atau anemia misalnya. Menjaga komunikasi yang lancar antara dokter yang mengobati dan ODHA merupakan kewajiban dokter dan juga kewajiban ODHA beserta keluarga, agar kalau ada efek samping bisa dideteksi lebih cepat dan diobati.

Tuberkulosis atau TBC pada keponakan Anda bukan akibat efek samping obat. Seperti diketahui, kekebalan tubuh ODHA dirusak oleh virus HIV, sehingga mudah diserang jamur, TBC, toksoplasma, dan lain-lain. Jadi TBC yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis bisa muncul pada ODHA. Pada tahap awal infeksi HIV, sekitar 30 persen ODHA terkena TBC. Pada tahap AIDS, yaitu tahap lanjut infeksi HIV, sekitar 50 persen ODHA yang juga sakit TBC, bisa berupa TBC paru, namun juga bisa TBC kelenjar, TBC perut, dan TBC selaput otak. Pada sebagian kecil ODHA yang sedang minum ARV, kekebalannya pulih. Kekebalan yang pulih ini dapat menimbulkan manifestasi penyakit TBC menjadi lebih mencolok.

Dr Zubairi Djoerban

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://dhealthweb.com/aids/benarkah-aids-sudah-ada-obatnya-178/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.