October 20, 2007
Ingin Bebas dari Penyakit ASMA
Masalah :
"SAYA seorang karyawati bank swasta di Jakarta. Sekarang saya berumur 28 tahun. Sejak umur 10 tahun saya menderita penyakit asma. Dulu semasa masih sekolah saya diobati dengan obat asma campuran. Serangan asma saya berkurang meski jika berolahraga berat saya mengalami sesak. Penyakit asma agak mengganggu saat belajar, namun saya berhasil menyelesaikan kuliah pada waktunya.
Dua tahun yang lalu saya menikah dan serangan asma jarang sekali timbul, padahal saya belakangan ini hanya menggunakan satu macam obat, yaitu obat semprot asma. Menurut dokter, obat ini campuran antara obat antiperadangan dan obat untuk melebarkan pipa saluran napas.
Sekitar tiga bulan lalu saya harus lembur sampai malam sehingga saya merasa amat lelah dan kurang tidur. Asma saya kambuh kembali hingga perlu tambahan obat yang diminum, namun tidak sampai memerlukan perawatan di rumah sakit.
Untunglah sekarang saya sudah pulih dan dapat bekerja kembali seperti biasa. Sebulan yang lalu saya kontrol ke dokter keluarga, dan saya dinyatakan hamil. Saya merasa berbahagia dengan kehamilan ini karena kami sudah menunggu cukup lama.
Namun, saya juga khawatir, apakah penyakit asma akan mengganggu kehamilan saya? Sebaliknya, apakah kehamilan akan memperberat asma saya? Mungkinkah saya melahirkan anak kelak dengan cara biasa ataukah saya harus menjalani operasi sectio? Apakah obat semprot yang saya pakai perlu dihentikan dan kapan boleh dipakai kembali?
Bagaimana cara saya dapat bebas dari penyakit asma selamanya? Mungkinkah dapat dicegah agar anak saya nanti tidak terkena asma? Terima kasih atas penjelasan dokter."
(Maimunah Bandung)
Jawab:
ASMA merupakan penyakit kronik yang dapat dikendalikan. Untuk dapat mengendalikan serangan asma, maka faktor pencetus serangan harus dihindari.
Faktor pencetus asma, antara lain alergi (biasanya debu rumah), kelelahan dan influenza. Sedangkan ketegangan jiwa dapat memperberat serangan asma.
Berbeda dengan orang yang tak menderita asma, pada penderita asma terjadi peradangan kronik yang menyebabkan pipa saluran napasnya menjadi sensitif. Mudah terangsang oleh bahan yang menimbulkan alergi maupun polusi udara.
Untuk dapat mengendalikan asma jangka panjang, maka proses peradangan kronik ini perlu dihentikan. Obat yang dapat menghentikan proses peradangan kronik tersebut adalah obat golongan steroid. Namun, obat steroid jika digunakan dalam bentuk tablet atau suntikan untuk jangka lama berisiko menimbulkan berbagai efek samping, seperti peningkatan gula darah, darah tinggi, osteoporosis atau tukak pada lambung.
Oleh karena itu, obat ini digunakan secara topikal, misalnya sebagai obat semprot atau obat hirup. Penggunaan obat ini secara topikal diharapkan dapat menghindari efek samping.
Penderita asma dapat hamil dan melahirkan secara biasa jika keadaan asmanya terkontrol. Pada penatalaksanaan asma perlu rencana pengendalian jangka panjang. Dokter dan pasien perlu bekerja sama agar dapat tercapai hasil yang diharapkan, yaitu pasien dapat hidup bebas serangan asma hingga produktif kembali.
Pasien perlu memahami obat yang harus digunakan pada waktu serangan dan di luar serangan. Hendaknya keadaan bebas serangan asma ini dapat dicapai dengan obat yang sesedikit mungkin. Pada prinsipnya pengobatan asma disesuaikan dengan berat penyakitnya. Sekarang tersedia panduan WHO untuk pengobatan asma sehingga doker Anda dapat mengikuti panduan tersebut.
Sebaliknya, asma yang tak dikendalikan dengan baik pada keadaan hamil dapat berpengaruh buruk pada ibu maupun janin. Jadi, meski prinsipnya pada hamil muda kita menghindari penggunaan obat yang tidak perlu, tetapi jika diperlukan hendaknya Anda tidak ragu menggunakannya. Apalagi obat semprot asma hampir tidak diserap, hingga risiko pengaruh terhadap bayi amatlah kecil.
Para peneliti menyatakan kehamilan pada penderita asma dapat meningkatkan serangan asma, tetapi juga dapat mengurangi serangan asma. Akan tetapi ada juga kelompok yang tak merasakan pengaruh kehamilan terhadap asma. Mudah-mudahan Anda termasuk orang yang gejala asmanya berkurang sewaktu hamil.
Cara menghindari agar anak Anda terhindar dari penyakit asma adalah menciptakan lingkungan yang mengurangi risiko timbulnya asma. Selama hamil usahakan agar di lingkungan Anda tidak ada asap rokok. Jika suami Anda merokok, bujuklah dia agar berhenti merokok demi kesehatan janin Anda.
Jagalah makanan Anda agar bergizi, tetapi hindari makanan yang berisiko menimbulkan alergi. Sehabis melahirkan nanti, kalau dapat amalkanlah ASI eksklusif (bayi hanya diberi ASI selama empat sampai enam bulan). Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, apakah anak Anda memerlukan obat pencegahan agar tidak timbul asma.
Nah banyak upaya yang dapat dilakukan. Namun, yang penting sekarang ini jagalah kesehatan Anda. Berkonsultasilah dengan dokter Anda secara teratur, termasuk pemeriksaan kehamilan Anda. Mudah-mudahan Anda dikaruniai anak yang sehat, cerdas, berbakti kepada orangtua dan masyarakat.
dr Sjamsuridjal Djauzi
Sumber : Kompas Cybers Media
Tags: asma, Dr Samsuridjal Djauzi, kompas






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.