March 9, 2008

Infeksi HIV, Hepatitis C dan TBC Sekaligus

Masalah :

Assalamualaikum Wr Wb
Dokter Zubairi Yth,

Anak saya 19 tahun, sebulan yang lalu dirawat di rumah sakit karena badannya panas tinggi selama seminggu. Mula-mula dokter menduga anak saya sakit demam tifus atau demam berdarah. Waktu itu trombositnya memang rendah 95 ribu per mm3. Setelah melewati beberapa pemeriksaan darah dan rontgen, akhirnya ditemukan anak saya sakit tuberkulosis paru, hepatitis C, dan AIDS. Memang anak saya memakai putauw tiga tahun yang lalu, tetapi sudah berhenti total selama setahun terakhir. Menurut dokter, gara-gara memakai putauw, ia bisa kena tiga penyakit yang gawat tersebut. Alhamdulillah, setelah rawat inap 14 hari, kondisi anak saya membaik dan boleh pulang. Sekarang, ia mulai mengonsumsi obat AIDS, selain minum obat TBC. Syukurlah obat AIDS dan obat TBC disediakan gratis di rumah sakit. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana mungkin seorang remaja kena tiga penyakit sekaligus? Yang saya tahu, hal tersebut hanya mungkin terjadi pada manula (manusia usia lanjut). Bagaimana mengobatinya, apakah bisa disembuhkan? Terima kasih, Dok.

Fima, Jakarta

 

Jawaban :

Waalaikumussalam Wr Wb
Bu Fima yang sedang prihatin,

Infeksi HIV berbarengan dengan infeksi virus hepatitis C, memang merupakan masalah yang sering terjadi, karena rute penularannya yang serupa. Artinya, kebiasaan buruk pengguna narkotika, yaitu menyuntik putauw dalam satu kelompok dengan hanya memakai satu jarum suntik secara bergantian, memang bisa dikatakan menjadi budaya pengguna narkotika suntikan.

Karena itu, tidak heran virus hepatitis C dan HIV bisa masuk bersamaan menginfeksi seorang pengguna. Untuk diketahui, beberapa penelitian menunjukkan, 62-91 persen pengguna narkotika terinfeksi virus hepatitis C. Tingginya angka TBC pada ODHA (orang dengan HIV/AIDS) disebabkan oleh rusaknya kekebalan tubuh akibat HIV/AIDS, dan kesamaan mekanisme penyakit pada HIV/AIDS dan TBC, yaitu melalui kerusakan pada sistem kekebalan selular, terutama sel limfosit yang disebut limfosit CD4.

Penekanan jumlah dan fungsi sel limfosit tersebut oleh HIV akan membuat tubuh ODHA sukar mengendalikan infeksi TBC, sehingga penyebaran penyakit TBC menjadi lebih mudah. Pengguna narkotika biasanya juga perokok berat, sehingga lebih memudahkan lagi tertular tuberkulosis. Perokok juga seringkali batuk-batuk, sehingga mudah menularkan TBC ke sesama pengguna narkotika yang lain.

Tuberkulosis, masalah besar di Indonesia, merupakan salah satu penyebab kematian tersering. Apalagi bila disertai penyakit infeksi HIV/AIDS. Angka infeksi TBC pada ODHA tinggi sekali. Sekitar 50-58 persen orang dengan AIDS terinfeksi TBC, sedangkan pada tahap awal 30 persen yang kena TBC. Jadi, anak Ibu tidak sendirian. Banyak sekali ODHA di Indonesia yang juga kena TBC.

Masalah lain yang penting pada koinfeksi tuberkulosis dan HIV adalah sebaran TBC ke hati (lever) dan efek samping kerusakan sel hati akibat obat antituberkulosis dan antiretroviral (ARV). Untuk diketahui, kita tidak bisa mengobati tuberkulosis dengan obat tunggal, harus kombinasi beberapa obat TBC sekaligus. Beberapa obat TBC, misalnya rifampisin, INH dan pirasinamid mempunyai efek samping yang dapat merusak sel hati.

Demikian pula prinsip pengobatan penyakit infeksi HIV/AIDS, juga kombinasi tiga obat ARV. Beberapa obat ARV, misalnya nevirapin — yang banyak digunakan di Indonesia — dapat mempunyai efek samping, efek toksik ke liver. Namun demikian, tidak berarti mengobati ODHA yang juga terinfeksi TBC dan hepatitis C sekaligus, menjadi sukar.

Dengan pemantauan dokter yang baik, hasil pengobatan ARV juga baik sekali. Nevirapin juga boleh diberikan, selama ODHA berobat teratur ke dokter.

Pengobatan bisa dimulai dengan mengobati TBC, disusul dua sampai empat minggu kemudian dengan obat ARV. Kita perlu menghindari pada awal pengobatan, kombinasi obat TBC dan ARV sekaligus, karena kekebalan yang pulih pada ODHA justru memicu reaksi berlebihan terhadap TBC, dengan gejala pembesaran kelenjar getah bening, demam, dan mual. Masalah koinfeksi HIV dan hepatitis C semakin penting, karena saat ini jumlah ODHA yang merupakan pecandu narkotika persentasenya terus meningkat. Di banyak kota besar di Indonesia, ODHA yang berasal dari kalangan pecandu justru jauh lebih banyak dibandingkan penularan seksual.

Sekadar informasi, perkembangan penyakit hepatitis C pada orang yang tidak terinfeksi HIV membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun untuk menjadi sirosis dan kanker hati. Artinya, penyakit hepatitis C saja, tanpa kombinasi dengan HIV/AIDS merupakan penyakit yang serius. Koinfeksi HIV dan hepatitis C pada ODHA, menyebabkan terjadinya sirosis hati lebih cepat dan risiko terjadinya penyakit hati lanjut (gagal hati) enam kali lebih tinggi. Koinfeksi juga meningkatkan kejadian kanker hati, dan memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya gagal hati menjadi 6-10 tahun.

Pengobatan hepatitis C pada anak Ibu, bisa mulai diberikan setelah jumlah limfosit CD4 meningkat, biasanya kalau sudah lebih dari 200. Jadi, pengobatan anak Bu Fima sudah tepat, dimulai dengan mengobati TBC, dilanjutkan kombinasi dengan obat AIDS yaitu obat ARV. Sedangkan pengobatan hepatitis C menyusul, menunggu jumlah limfosit CD4 pulih.

Masalahnya nanti, obat untuk hepatitis C tidak disediakan gratis oleh pemerintah, jadi Bu Fima harus menyediakan sendiri, dan harga obatnya (interferon dan ribavirin) lumayan mahal. Namun masalahnya tidak mendesak, mungkin baru enam bulan atau setahun lagi, yang lebih penting sekarang ini Ibu ikut mengingatkan agar anak Ibu tidak lupa minum obatnya, dan mensyukuri nikmat, anak Ibu telah melampaui krisis yang berat sewaktu dirawat di rumah sakit.

Dapat disimpulkan bahwa sekarang ini penyakit HIV/AIDS yang disertai TBC dan hepatitis C sudah ada obatnya, dan hasil pengobatan lumayan bagus. Obat AIDS dan TBC disediakan gratis oleh pemerintah, di banyak rumah sakit seluruh Indonesia. Khusus obat TBC, mudah didapat di Puskesmas.

Sumber : Republika Online

Tag:
Permalink • Print • Comment

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.