October 29, 2007
ODHA Tak Berhak Punya Anak, Benarkah?
Tanya:
1. Pengasuh Yth, Bagaimana cara penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak? Apakah dalam sperma ada HIV?
Kus, Pontianak
2. Pengasuh Yth., Apakah kalangan lesbian bisa tertular HIV padahal sangat jarang kencan dengan laki-laki?
Wati, Pontianak
3. Pengasuh Yth., Bagaimana caranya kami memperoleh ARV bila Global Fund hengkang dari Indonesia? Padahal selama ini kami tergantung dari ARV dan tidak mungkin bisa membeli sendiri setiap bulan karena kami berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Is, Pontianak
4. Pengasuh Yth., Benarkah Odha tidak berhak memiliki anak karena anaknya juga akan tertular HIV?
Dina, Pontianak
Jawab:
Menjawab pertanyaan dari Kus di Pontianak, penularan HIV dari ibu yang HIV-positif ke anak yang dikandungnya terutama terjadi pada saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI). Jika tidak ditangani oleh dokter maka risiko penularan antara 15 – 30 persen.
Artinya, jika ada 100 ibu yang HIV-positif melahirkan maka antara 15 – 30 bayi yang dilahirkan berisiko tertular HIV. Tapi, kalau ditandai dokter maka risiko penularan di bawah 8 persen. Ingat, HIV bukan penyakit turunan tapi penyakit menular sehingga bis dicegah. Di dalam sperma tidak ada HIV. Seorang laki-laki yang HIV-positif bisa mempunyai anak yang HIV-negatif melalui proses bayi tabung asalkan istrinya HIV-negatif.
Menjawab persoalan yang dialami Wati di Pontianak, kalau kencan (melakukan hubungan seks tanpa kondom) dengan laki-laki yang berganti-ganti maka ada risiko tertular HIV. Kalau kencan sesama lesbian tidak ada risiko penularan HIV asalkan tidak memakai narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik yang dipakai bergantian.
Untuk Is di Pontianak, untuk mendapatkan ARV, silakan hubungi KPAD di tempat Anda untuk menanyakan apakah dalam APBD ada dana pembelian ARV. Inilah masalah besar di negara-negara berkemang, seperti Indonesia, penanggulangan HIV/AIDS didanai dengan bantuan negara donor dan lembaga-lembaga internasional karena ketiadaan dana.
Celakannya, dana tidak ada tapi upaya pencegahan tidak dilakukan dengan baik. Bahkan, yang terjadi justru upaya-upaya untuk menyangkal keberadaan HIV/AIDS dan mengaburkan fakta medis HIV/AIDS dengan cara mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan moral dan agama. Akibatnya, yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah) sehingga msyarakat tidak mengetahui cara-cara yang realistis dalam mencegah penularan HIV.
Pernikahan ODHA, seperti yang dikhawatirkan oleh Dina di Pontianak, HIV/AIDS bukan penyakit turunan sehingga bisa dicegah. Pengidap penyakit turunan, seperti diabetes atau thalasemia, tetap menikah dan mempunyai anak yang otomatis mengidap penyakit tersebut.
Ada tehnik-tehnik yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan HIV pada pasangan yang salah satu atau dua-duanya HIV-positif. Hal ini sudah dilakukan di Indonesia. Sedangkan penyakit turunan tidak bisa dicegah.
AIDS LSM
Sumber : Pontianak Post
Tags: AIDS LSM, HIV, Pontianak Post Online







Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.