November 27, 2007
Kulit Sekitar Mata dan Tangan Belang-Belang
Masalah :
Dokter tolong sayaÖ Saya berusia 29 tahun, sudah menikah, tapi belum mempunyai anak. Saya sangat memperhatikan kecantikan kulit. Bahkan, saya enggan terkena sinar matahari. Kalaupun harus keluar, saya menggunakan payung. Sehari-hari saya mengendarai mobil.
Yang ingin saya tanyakan Dok, mengapa kulit saya belang-belang berwarna putih seperti panu? Saya malu sekali, Dok. Itu terjadi di sekitar mata dan sekitar tangan. Saya sampai menggunakan produk kecantikan dari Kota Semarang, tetapi hasilnya nihil. Kulit saya tetap belang-belang seperti panu.
Yang ingin saya tanyakan, Dok:
1. Saya ini sakit apa?
2. Apakah ini karena makanan yang saya konsumsi?
3. Apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan penyakit ini, Dok?
Saya sangat malu sekali. Terima kasih banyak, Dok.
Atiek, Sidoarjo
Jawaban :
Mbak Atiek di Sidoarjo, bercak putih di kulit dalam istilah medis disebut hipopigmentasi. Kondisi itu disebabkan beberapa hal. Antara lain, infeksi (bakteri atau jamur), penyakit autoimun (vitiligo), setelah proses radang pada kulit (diskhromia pascainflamasi), atau penyebab yang belum jelas (pitiriasis alba; hipomelanosis gutata idiopatik).
Infeksi yang disebabkan kuman atau bakteri, seperti mycobacterium leprae, akan menyebabkan penyakit kusta dengan gejala bercak putih mati rasa. Selain kulit, hal itu menyerang saraf tepi sehingga memberikan gejala lain. Seperti, kesemutan, rasa tebal, atau bahkan mati rasa.
Infeksi karena jamur, yaitu malassezia furfur, akan menimbulkan penyakit pitiriasis versikolor atau panu. Gejalanya berupa bercak-bercak putih, kadang kemerahan atau cokelat. Biasanya terdapat di badan tapi bisa juga menyebar ke wajah dan disertai rasa gatal bila berkeringat. Jika sudah sembuh, penyakit panu itu sering meninggalkan bercak putih yang menetap dalam beberapa bulan sebelum kembali ke kulit normal.
Penyakit autoimun yang paling sering adalah vitiligo. Mbak Atiek mungkin mengalami vitiligo. Kondisi itu bukan disebabkan makanan. Penyebabnya diduga faktor neurogenik, obat-obatan, dan autoimun. Gejalanya berupa bercak putih susu berbatas tegas dan sering bersifat herediter (diturunkan).
Dalam jangka waktu lama, penyakit itu bisa meluas ke seluruh tubuh. Respons terhadap pengobatan bervariasi, bergantung tipe vitiligo tersebut. Biasanya diberi obat-obatan yang merangsang timbulnya pigmentasi, penyinaran/fototerapi (PUVA atau narrowband UVB), dan yang terbaru dengan laser excimer.
Pengobatan vitiligo memerlukan kesabaran tinggi, baik dari penderita maupun dokter. Sebab, respons terapi cukup lama dan bisa muncul lagi bercak putih di tempat lain atau tempat yang sama setelah pengobatan berhasil. Selain itu, perlu pemakaian tabir surya dan cover mark untuk menyamarkan bercak putih, terutama di wajah.
Diskhromia paskainflamasi adalah bercak putih yang muncul setelah proses radang di kulit. Bisa disebabkan eksema, psoriasis, dan penyakit alergi lain.
Pitiriasis alba ditandai oleh bercak putih pucat berbatas tegas, kadang-kadang disertai sisik tipis seperti serbuk pada permukaannya dan paling sering muncul di wajah. Orang awam sering menyebut dengan ítratakaní dan sering dikaitkan dengan penyakit alergi/eksema. Kelainan itu secara bertahap menghilang dengan bertambahnya umur, tetapi ada juga yang menetap.
Hipomelanosis gutata idiopatik ditandai bercak putih berbentuk bulat berukuran 0,5-2 cm, terutama di daerah terbuka, dan akan bertambah sesuai dengan umur. Kelainan tersebut tidak diketahui penyebabnya tetapi ada hubungannya dengan paparan sinar matahari dan penuaan kulit.
Perlu dilakukan pemeriksaan langsung untuk melihat bentuk bercak putih dan mencari gejala lain. Bila perlu, dilakukan pemeriksaan laboratorium (darah, mikroskopis, dan biopsi) untuk mencari penyebabnya dan diagnosis pasti. Pengobatannya bergantung penyakit dan respons sangat bervariasi, bahkan ada yang menetap.
dr Ni Putu Susari Widianingsih SpKK
Spesialis Kulit dan Kelamin - RS Spesialis Husada Utama Surabaya
Sumber : Cendrawasih Pos dotcom
Tags: Cendrawasih Pos dotcom, dr Ni Putu Susari Widianingsih SpKK, Infeksi






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.