September 25, 2007

Artritis Rematoid dan Sakit Jantung

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca tentang hubungan penyakit jantung dan rematik di rubrik ini. Kalau tidak salah, jawaban dokter untuk pembaca saat itu adalah sakit rematik yang ia derita tidak berhubungan dengan penyakit jantung rematik. Namun, selintas disebutkan bahwa ada penyakit sendi yang meningkatkan risiko sakit jantung yaitu artritis rematoid. Masalahnya, baru-baru ini seorang sepupu saya, yakni wanita yang baru berumur 40 tahun, didiagnosis menderita artritis rematoid. Jika membaca pernyataan dokter Zubairi yang lalu, maka ia berisiko terkena penyakit jantung. Kapankah rata-rata seorang penderita artritis rematoid akan menderita sakit jantung sejak ia didiagnosis menderita penyakit tersebut? Bagaimana pencegahannya?

Budi, Jakarta

 

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Sekadar mengingatkan kembali para pembaca rubrik kesehatan ini, ada banyak penyakit yang menyebabkan sakit sendi. Sakit sendi demam rematik, sakit sendi osteoartritis, artritis rematoid (AR), dan lain lain. Gejala berbagai penyakit tersebut berbeda-beda, pengobatannya juga tidak sama. Seringkali, AR menyerang banyak sendi (poli artritis) seperti sendi tangan, kaki, siku, dan tumit. Biasanya, sendi yang terkena adalah simetris: kiri dan kanan. Nyeri sendi lebih dirasakan sewaktu pagi ketika bangun tidur. Setelah beberapa waktu terjadi deformitas sendi, bentuk sendi menjadi tidak normal, sendi-sendi sukar diluruskan, jari tangan dan jari kaki pada posisi tertekuk. AR adalah penyakit autoimun. Cukup banyak pasien AR yang mengalami rasa lelah, kehilangan nafsu makan, badan menjadi kurus, dan kadang disertai demam. Sebagian besar pasien AR ada pada kelompok usia 35 sampai 50 tahun, lebih sering ditemukan pada wanita.

Mas Budi yang baik, para peneliti memang telah melaporkan bahwa pasien AR berisiko menderita penyakit jantung koroner. Selain itu, mereka juga berisiko lebih besar mengalami serangan jantung yang gejalanya tidak terlalu jelas (misalnya tanpa nyeri dada) dan kematian tiba-tiba akibat serangan jantung. Risiko ini terutama dimiliki oleh pasien AR perempuan. Risiko serangan jantung ini bisa saja sudah ada sejak pertama kali didiagnosis AR. Bahkan, sebuah penelitian melaporkan, dua tahun sebelum diagnosis ditegakkan, pasien-pasien AR tiga kali lebih sering dirawat karena mendapat serangan jantung akut dan lima kali lebih sering menderita serangan jantung dengan gejala tidak jelas (unrecognized heart attack).

Mengapa hal ini terjadi? Belum jelas benar. Teori yang dikemukakan adalah bahwa AR dan penyakit jantung koroner memiliki jalur yang sama. Proses peradangan AR merupakan proses yang dapat meliputi seluruh tubuh, maka proses peradangan persebut juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung.

Yang bisa dilakukan untuk mencegah sepupu Anda terkena penyakit jantung adalah menghilangkan/mengontrol faktor risiko penyakit jantung koroner yang lain. Faktor-faktor tersebut di antaranya diabetes mellitus (kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), kegemukan, kolesterol tinggi, dan merokok.

Oleh karena proses peradangan memegang peranan penting dalam terjadinya penyakit jantung, maka pengobatan AR dengan obat anti-peradangan juga akan menimbulkan efek pengurangan risiko terhadap penyakit jantung.

Ada baiknya sepupu Anda konsultasi juga dengan dokter spesialis penyakit dalam konsultan rematologi, dan bila perlu akan dikonsultasikan dengan spesialis penyakit dalam konsultan jantung dan tentu perlu dukungan penuh dari keluarga, termasuk Anda.

Dr  Zubairi Djoerban

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://dhealthweb.com/jantung/artritis-rematoid-dan-sakit-jantung-27/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.