September 20, 2007
Kanker Payudara dan Rahim
Kanker Payudara Dapat Dicegah
Masalah :
Assalamualaikum wr wb
Dokter Zubairi yang baik,
Kakak perempuan saya sedang menjalani pengobatan kemoterapi kanker payudara, setelah operasi yang dilanjutkan dengan radioterapi. Proses yang amat melelahkan dan stres untuk seluruh keluarga besar kami.
Saya takut sekali, jangan-jangan saya akan mengalami nasib serupa. Dari bacaan yang saya dapat, saya menjadi tahu bahwa kanker payudara dapat dan cukup sering menyebabkan kematian. Sementara faktor yang memudahkan timbulnya kanker payudara antara lain kegemukan. Apakah benar? Untuk dokter ketahui, berat badan saya 60 kg dan tinggi 155 cm, umur saya 41 tahun.
Pertanyaan saya apakah benar kanker payudara dapat dicegah? Bagaimana caranya?
Diana, Jakarta
Jawaban :
Waalaikumussalam wr wb
Mbak Diana Yang baik,
Memang benar, kanker payudara sering menyebabkan kematian. Sebetulnya, penyakit ini dapat dicegah, dan bila ditemukan pada tahap awal dapat disembuhkan dan angka kematian menjadi kecil. Ilmu kedokteran telah mencapai kemajuan pesat sekarang ini untuk pencegahan kanker payudara maupun untuk pengobatannya.
Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada wanita, baik di Indonesia, di Amerika maupun di banyak negara lain. Di Amerika misalnya, pada tahun 2000, ditemukan sekitar 180 ribu pasien baru kanker payudara dan 40 ribu wanita meninggal karena kanker ini pada tahun yang sama. Di Indonesia urutan kanker tersering menurut registrasi berdasarkan rumah sakit oleh POI-YKI (Perhimpunan Onkologi Indonesia-Yayasan Kanker Indonesia) tahun 2006 adalah sebagai berikut: kanker payudara, serviks, nasofaring, limfoma malignum, leher dan kepala, ovarium, paru, usus besar, prostat, dan jaringan lunak.
Angka kematian karena kanker payudara dapat ditekan sampai minimal, bila didiagnosis pada tahap dini, tahap awal. Pemeriksaan mamografi merupakan metode yang paling efektif untuk mendeteksi dini kanker payudara. Beberapa uji klinik membuktikan bahwa uji saring dengan mamografi dapat menekan angka kematian sebesar 20-39 persen untuk wanita usia 50-74 tahun. Sedangkan untuk usia 40-49 tahun, angka kematian turun menjadi 17 persen.
Kanker payudara dapat dicegah. Ada faktor yang memudahkan timbulnya kanker payudara yang bisa diperbaiki. Misalnya kelebihan berat badan. Bila badan kita upayakan tidak gemuk dengan olahraga teratur dan diet, khususnya pada wanita yang sudah menopause, terbukti merupakan upaya ampuh untuk mencegah kanker payudara. Apalagi bila kita lengkapi dengan makan sayur tiga kali sehari dan makan buah tiga kali sehari.
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa makan sayur, buah, olahraga, dan menjaga berat badan tidak kegemukan dapat mencegah timbulnya berbagai kanker (khususnya kanker payudara), bahkan juga mencegah stroke dan serangan jantung.
Memang ada beberapa faktor risiko yang tidak bisa kita intervensi, misalnya riwayat keluarga kanker payudara, riwayat penyakit payudara sebelumnya, etnik dan ras serta densitas payudara. Artinya, kita tidak bisa menghilangkan ada riwayat salah satu anggota keluarga yang telah sakit kanker payudara, demikian pula asal kita dari ras atau etnik.
Bila hanya ada satu anggota keluarga Mbak Diana yang sakit kanker payudara, tidak usah khawatir. Kanker bukan penyakit keturunan. Walaupun memang ada kekecualian, yaitu sekitar 7 persen pasien kanker payudara cenderung menurun dalam keluarga bila ada tiga orang yang sakit kanker payudara. Di keluarga Mbak Diana hanya ada satu, jadi bukan jenis kanker payudara yang cenderung menurun.
Mengenai berat badan Mbak Diana, ya memang kelebihan sedikit, ada baiknya diusahakan turun. Tetapi jangan terlalu dipikirkan mengenai berat badan ini, selama Anda setiap hari makan banyak sayur dan buah, dan olahraga atau paling tidak berjalan cepat setengah jam setiap hari. Selain itu, karena usia Mbak Diana sudah lebih dari 40 tahun, saya anjurkan untuk check up, yang dilengkapi dengan skrining kanker payudara, dengan mamografi misalnya.
Dr Zubairi Djoerban
Sumber : Republika Online
Kista Ovarium
Masalah :
Dokter, beberapa hari lalu saya diperiksa ke laboratorium (”general check up”). Hasil pemeriksaan darah, thorax, dan lain-lainnya bagus. Namun, ada satu yang mengganjal, ketika di-USG, kata dokter yang memeriksa, di rahim saya ada sesuatu massa yang diperkirakan kista kira-kira 2 mm. Namun demikian, dokter yang menganalisis pun terlihat masih ragu. Oleh karena itu, saya ingin bertanya kepada Dokter.
1. Apakah saya harus mengecek ulang?
2. Dengan cara apa saya harus mengecek ulang, apakah USG lagi di dokter yang lain?
3. Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa massa itu memang kista, yang ganas maupun jinak?
4. Bagaimana penanganan terhadap kista tersebut?
Terima kasih atas perhatiannya.
Ny. Arinda di Bandung
Jawaban :
Ibu Arinda yang terhormat,
Yang dimaksud dengan kista ovarium adalah suatu rongga berisi cairan pada indung telur.
Kista pada ovarium sering merupakan gambaran fungsi ovarium yang normal.
Fungsi ovarium setelah pubertas adalah membentuk telur yang matang yang berada dalam folikel graaf. Telur tersebut dikelilingi oleh cairan sampai ia keluar dari folikel (ovulasi). Besarnya folikel yang berisi cairan tersebut rata-rata sampai 20 mm (2 cm), kadang-kadang lebih besar. Pada wanita dengan fungsi ovarium yang normal, folikel ini akan terbentuk setiap siklus haid. Lalu kira-kira 14 hari sebelum haid yang akan datang, akan ovulasi, sehingga apabila ditemukan bentuk kista sekitar 2 cm dalam ovarium saat masa subur, kemungkinan kista tersebut merupakan kista folikel yang sama sekali tidak berbahaya.
Kista folikel dapat mencapai ukuran kurang dari 5 cm. Apabila ukuran kista lebih dari 5 cm, dugaan bahwa kista tersebut adalah neoplasma (tumor, pertumbuhan jinak) harus dipikirkan. Apabila pada evaluasi selanjutnya kista terus menetap dan membesar sampai lebih dari 6 cm, kista tersebut dapat didiagnosis sebagai neoplasma (tumor jinak) dan dapat diangkat dengan cara operasi, baik secara laparoskopi (dengan alat teropong) atau laparotomi (membuka perut).
Selain kista folikel, kista yang berhubungan dengan fungsi ovarium juga sering ditemukan, bahkan pada saat hamil muda (kista lutein) yang besarnya bisa mencapai sekitar 6 cm. Kista ini tidak berbahaya, tidak perlu diangkat, dan akan mengecil dengan bertambahnya usia kehamilan.
Pada umumnya, kista tidak memberikan gejala apa pun, terutama bila ukurannya kecil. Kista fungsional yang terlalu besar (lebih dari 6 cm), dapat terpuntir dan menyebabkan nyeri perut akut. Dalam keadaan seperti ini kista harus diangkat.
Bentuk kista lainnya adalah kista endometriosis/kista cokelat. Kista tersebut sering berhubungan dengan nyeri haid atau subfertilitas (berkurangnya kesuburan). Kista lainnya adalah dermoid yang dapat berisi rambut, gigi, tulang, cairan pekat kental seperti sekret kelenjar keringat/sebum dll.). Kista dermoid harus diangkat (secara operatif), karena dapat menimbulkan infeksi atau kista terpuntir. Kista tumor (neoplasma) pada umumnya jinak, keganasan pada ovarium lebih sering membentuk tumor pada ovarium dan lebih sering terjadi pada usia tua.
Menurut hasil USG , kista pada ovarium ibu besarnya 2 mm (apa bukan 2 cm?), belum menunjukkan hal-hal yang mencemaskan. Mungkin hanya suatu kista folikel. Ibu dapat mengevaluasi apakah kista tersebut tetap ada, menghilang, atau membesar sekitar 3-6 bulan kemudian.
Pemeriksaannya daat dilakukan dengan USG. Untuk kista kecil pemeriksaan USG melalui jalan lahir (transvaginal) akan lebih baik. Apabila ibu ragu-ragu, dapat meminta konfirmasi USG di tempat lain.
Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Tags: Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, kanker rahim, Pikiran Rakyat Onlline







Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.