September 15, 2007
KB
Periksa KB Harus Rutin?
Masalah :
Dokter yang terhormat.
Apakah tindakan saya itu benar, tidak pernah memeriksakan diri ke dokter? Kalau harus memeriksakan alat KB, dalam kurun waktu berapa lama? Dalam usia saya sekarang, sebenarnya apa saja yang mesti saya periksakan secara teratur agar badan saya tetap sehat?
Sekadar tambahan informasi, kakak perempuan saya meninggal karena kanker payudara.
Terima kasih atas perhatiannya.
Ny. M. Anwar di Bandung
Jawaban :
Ibu Anwar yang terhormat.
Masalah yang berhubungan dengan KB IUD umumnya masalah haid, keputihan, atau peradangan panggul. Umumnya, ibu yang memakai KB IUD haidnya lebih lama, lebih banyak, siklusnya lebih pendek, dan sering ada perdarahan bercak di luar haid. Gejala- gejala tersebut juga dapat merupakan akibat penyakit kandungan lain seperti mioma, polip serviks, erosi mulut rahim yang berat, bahkan kanker mulut rahim.
Gejala lain yang sering dianggap hal biasa oleh pemakai KB IUD adalah keputihan atau keluarnya cairan dari vagina yang berlebihan. Lendir berlebih akibat IUD biasanya bening, seperti air liur dan tidak berbau. Sering kali jenis keputihan lain akibat infeksi diduga sebagai efek samping IUD dan tidak dianggap sebagai penyakit, padahal itu dapat merupakan gejala radang mulut rahim atau bahkan tanda keganasan.
Kadang-kadang ada juga ibu yang ber-KB IUD tetapi hamil, karena posisi IUD dalam rahim berubah atau IUD lepas sebagian atau seluruhnya.
Yang harus Ibu lakukan adalah memeriksakan KB minimal 6 bulan sekali dan melakukan pemeriksaan Pap smear (deteksi dini kanker mulut rahim) setahun sekali.
Wanita seusia Ibu, sebaiknya sudah melakukan pemeriksaan kesehatan umum yang menyeluruh (general medical check up). Hal itu untuk mengetahui apakah ada penyakit yang Ibu derita dan tidak disadari gejalanya. Apabila dalam keluarga ada yang menderita atau meninggal karena kanker, saudara-saudaranya harus waspada dan memeriksakan diri secara teratur untuk deteksi dini.
Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Peranakan Bisa Turun?
Masalah :
DOKTER Sofie, saya wanita 40 tahun. Kalau saya mengangkat benda-benda agak berat sering terasa sakit di bawah perut. Jika sudah begitu, saya mengangkat kaki ke atas (disenderkan ke tembok), agak lumayan.
Kata ibu saya, itu karena peranankan turun. Apakah benar ada istilah peranakan turun? Bagaimana cara mengatasinya?
Terima kasih.
Ny. Ida Z . di Bandung
Jawaban :
Ibu Ida yang terhormat.
ISTILAH peranakan turun memang ada, dan istilah kedokterannya adalah prolaps uteri.
Rahim wanita dipertahankan kedudukannya di dalam rongga panggul oleh otot-otot penyangga/ ligamen yang menjaga rahim tetap pada tempatnya. Namun demikian, ada faktor-faktor yang dapat melemahkan otot-otot penyangga dan ligamen tersebut sehingga rahim dapat turun, bahkan dapat keluar dari jalan lahir. Pekerjaan ibu yang berat, penyakit-penyakit menahun yang meningkatkan tekanan di dalam perut seperti batuk-batuk yang lama, sering melahirkan, robekan jalan lahir akibat persalinan yang tidak dijahit dengan baik, persalinan lama, adanya tumor dalam perut, atau faktor keturunan dapat merupakan faktor penyebab turunnya rahim.
Gejala yang dapat dirasakan antara lain rasa berat, pegal, tidak nyaman, atau nyeri di bagian perut bawah, sering kencing, kencing tidak puas, atau perasaan ingin kencing terus. Cara mencegahnya adalah menghindarkan faktor risiko tersebut di atas, senam kegel (otot vagina), mengobati batuk-batuk kronis, hindari mengangkat beban berat. Apabila memang telah terjadi dan tidak dapat diatasi dengan senam, tidakan operatif dapat dilakukan.
Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Tags: Alat KB, Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Pikiran Rakyat Onlline






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.