February 15, 2008

Kehamilan Ektopik

Masalah :

DOKTER, saya sudah menikah 8 tahun. Beberapa hari lalu saya dioperasi karena kandungan yang berusia 2 bulan ternyata ada di luar kandungan. Dioperasi caesar karena katanya janin sudah pecah di dalam. Sel telur saya diambil satu. Beberapa tahun lalu, saya pernah keguguran saat kandungan berusia 3 minggu, tetapi tidak dikuret karena kata dokter sudah bersih.

Yang ingin saya tanyakan: Apakah saya hamil di luar kandungan karena kondisi rahim yang kurang bagus? Atau karena saya terlalu capek dan sering naik turun tangga (kantor saya di lantai 2)? Setelah sel telur dibuang satu, apakah saya masih mungkin hamil dengan mudah?

Terima kasih

Ny. Dian di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Dian yang terhormat,

Pada keadaan normal, bila telur dibuahi oleh sperma akan menjadi zigot (buah kehamilan). Sambil terus berkembang, ia akan melalui saluran telur dan menuju ke dalam rongga rahim untuk bernidasi (menempel dan memasuki dinding rahim) dan tumbuh di dalamnya.

Apabila buah kehamilan tidak bernidasi dalam rahim, keadaan ini disebut hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik. Tempat tersering kehamilan ektopik adalah pada saluran telur (tuba fallopii) di bagian ampula. Karena saluran telur sangat kecil, ia hanya dapat menampung kehamilan sampai sekitar usia kehamilan 8 minggu. Tempat lain kehamilan ektopik adalah pada bagian isthmus saluran telur, bagian ujung (tanduk/cornu) rahim, ovarian/indung telur, leher rahim, atau di dalam rongga perut (primer atau sekunder dari pecahnya kehamilan tuba). Apabila buah kehamilan bernidasi di dalam rongga perut, kehamilan dapat berlangsung lebih lama (kehamilan ektopik lanjut). Kehamilan ektopik yang terganggu dapat menyebabkan perdarahan hebat ke dalam rongga perut dan termasuk keadaan gawat medis; ibu dapat meninggal apabila tidak segera dihentikan perdarahannya (operasi laparotomi).

Penyebab hamil di luar kandungan tidak ada hubungannya dengan naik turun tangga atau terlalu cape, demikian juga tidak ada hubungannya dengan makanan atau pekerjaan/kebiasaan ibu sehari-hari. Yang tersering adalah kerusakan saluran telur, penyebabnya dapat karena infeksi (dapat didahului oleh gejala keputihan misalnya pada vaginosis bakterial, gonore; atau tidak bergejala seperti pada klamidiasis) atau akibat infeksi panggul lainnya seperti infeksi nifasau pasca-abortus. Selain akibat infeksi saluran telur dapat terganggu fungsinya karena endometriosis, mioma, atau kista ovarium yang menekan saluran sehingga terjadi penyempitan. Akibat penyempitan, buah kehamilan tidak dapat melewati saluran menuju rahim dan menetap di dalam saluran, membesar di sana dan menyebabkan pecahnya saluran atau mati dalam saluran, dan darah akan keluar melalui ujung saluran telur (abortus tuba). Hal lain yang dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik adalah riwayat operasi pada perut seperti pascaoperasi usus buntu, pengangkatan kista, atau operasi perut lainnya.

Operasi pada kehamilan di luar kandungan bukan seksio sesarea melainkan laparotomi. Demikian pula yang diangkat umumnya adalah saluran telur tempat kehamilan tersebut. Indung telur jarang menjadi tempat kehamilan ektopik. Apabila ibu masih mempunyai satu saluran telur, asal fungsinya baik (harus dilakukan pemeriksaan HSG/histerosalpingografi terlebih dahulu), masih ada kemungkinan untuk hamil. Demikian pula apabila benar kehamilan yang lalu adalah kehamial ovarial sehingga indung telur ibu sudah tinggal satu, bila fungsi salurannya baik masih tetap dapat hamil di dalam kandungan.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://dhealthweb.com/kehamilan/kehamilan-ektopik-332/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.