September 26, 2007
Melahirkan Tanpa Sakit
Melahirkan Tanpa Sakit
Masalah :
Dokter yang terhormat.
SAYA baru saja menikah lima bulan lalu. Kini saya hamil 2 bulan. Saya pernah mendengar ada cara melahirkan tanpa sakit. Katanya dengan cara disuntik, apakah itu benar?
Kalau memang tidak akan menimbulkan efek samping, rasanya saya ingin juga mencobanya. Bagaimana prosesnya Dok? Dan apakah biayanya mahal sekali?
Terima kasih atas perhatian Dokter.
Ny. Rina di Bandung
Jawaban :
Ny. Rina yang terhormat.
PERSEPSI nyeri pada persalinan sering diceritakan berlebihan sehingga menyebabkan rasa takut pada calon ibu. Konseling pemahaman proses persalinan adalah cara untuk mengurangi rasa nyeri secara alami. Hal ini biasanya diberikan oleh dokter ibu pada masa pemeriksaan kehamilan. Usaha lainnya adalah mempersiapkan mental dan fisik sebaik mungkin.
gizi yang baik dalam kehamilan, senam/olah raga selama kehamilan, terutama berenang, dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlancar persalinan.
Yang Ibu Rina maksudkan pada pertanyaan di atas adalah persalinan tanpa nyeri, yakni pemberian obat anestesi (pembiusan) regional yang diberikan pada ibu selama persalinan dan biasanya diberikan mulai fase aktif (pembukaan serviks/mulut rahim 3 cm lebih). Pemberian suntikan biasanya di daerah tulang belakang, dapat sekali suntik atau beberapa kali pemberian melalui kateter (selang) epidural yang dipasang oleh dokter spesialis anestesi. Obat tersebut akan menyebabkan rasa nyeri dari daerah pinggang ke bawah hilang, namun pergerakan tungkai tidak terpengaruh.
Keuntungannya adalah ibu tidak merasa nyeri namun dapat berjalan-jalan atau bergerak sebagaimana biasanya. Ibu tidak akan merasa nyeri kepala sesudah melahirkan seperti pada beberapa pasien yang dilakukan anestesi spinal. Ibu tetap sadar selama persalinan, dan bila perlu dilakukan tindakan operatif/persalinan buatan anestesi yang sama dapat dilanjutkan.
Efek samping yang dapat terjadi adalah penurunan tekanan darah, kepala anak tidak berputar karena relaksasi jalan lahir, sehingga kejadian persalinan buatan (dengan ekstraksi vakum, ekstraksi forseps atau bedah sesar) akan meningkat.
Biayanya berbeda pada rumah sakit dan tergantung juga kelas yang diambil. Obat-obatannya ratusan ribu dan honor dokter anestesinya sekitar 50% dari honor dokter kandungannya.
Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Menjarangkan Kehamilan
Masalah :
Assalamualaikum
DOKTER Sofie, saya baru melahirkan anak kedua, umur saya 30 tahun. Saya ingin menjarangkan kehamilan untuk anak ketiga kelak. Apakah dalam umur saya ini bisa memakai KB suntik? Sebenarnya, untuk memasang KB ada batasan usia tertentu atau tidak?
Terima kasih.
Ny. Mira di Soreang
Jawaban :
Ibu Mira yang terhormat.
KEPUTUSAN ibu untuk menjarangkan kehamilan sangat baik, malah idealnya jangan ada dua balita (anak di bawah usia lima tahun) dalam sebuah keluarga. Tentu saja kalau usia ibu memungkinkan. Pemilihan cara kontrasepsi yang rasional memang antara lain memperhitungkan segi usia.
Demikian juga segi pemanfaatan KB itu sendiri, apakah KB diperlukan untuk menunda kehamilan, menjarangkan kehamilan, atau mengakhiri fungsi reproduksi. Hampir semua KB dapat dipakai untuk menjarangkan kehamilan kecuali KB Mantap (Kontap, sterilisasi, medis operatif wanita/MOW, atau medis operatif pria/MOP) yang dipakai untuk menghentikan kesuburan.
Perlu diperhatikan juga apakah seorang ibu masih menyusui. Untuk ibu-ibu yang menyusui tidak boleh memakai pil kombinasi atau suntikan yang sebulan sekali karena mengandung hormon estrogen yang dapat mengurangi produksi air susu ibu (ASI). Untuk ibu yang menyusui, suntikan yang boleh diberikan adalah suntikan yang 3 bulanan (DMPA).
Usia 30 tahun atau lebih, tetap dapat memakai KB suntik atau KB lainnya selama tidak ada indikasi kontra yang menyebabkan ibu tidak boleh memakainya. Indikasi kontra pemakaian suntikan yang 3 bulan sedikit sekali, yakni hipertensi berat, trombosis, dan ibu perokok berat dengan usia di atas 35 tahun.
Meskipun pada umumnya semua cara KB dapat dipakai, pada usia tua (lebih dari 35 tahun) dianjurkan pemakaian KB yang lebih efektif, bukan hormonal dan KB yang bersifat jangka panjang seperti IUD (intra uterine device/AKDR- alat kontrasepsi dalam rahim) atau KB mantap (sterilisasi).
Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Tags: Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Kehamilan, Pikiran Rakyat Onlline






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.