December 25, 2007

Mencegah Tertular Leptospira

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dokter Zubairi Yth,

Saya tinggal di Jakarta Barat, daerah Grogol, yang saat ini sedang kebanjiran. Beberapa waktu yang lalu, saya membaca artikel di media cetak tentang laporan dua orang pasien yang sedang dirawat di rumah sakit Jakarta Pusat karena sakit tertular leptospira. Disebutkan di artikel tersebut, hubungan antara infeksi leptospira dan musim hujan serta banjir. Apakah sebetulnya leptospira itu? Apakah gejalanya bila kita tertular? Apakah bisa fatal? Bagaimana mencegahnya? Kan katanya mencegah lebih baik daripada mengobati.

Erna, Jakarta Barat

 

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Mbak Erna yang baik,

Tepat sekali ungkapan Anda, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Leptospirosis memang bisa dicegah. Sebetulnya sebutan yang benar adalah leptospirosis untuk nama penyakitnya, sedangkan penyebabnya adalah bakteri leptospira. Leptospira menular ke manusia, masuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit, atau masuk langsung melalui mukosa mata dan mulut. Penularan antar manusia tidak ada.

Leptospira memerlukan hewan perantara dalam siklus hidupnya, yang paling sering adalah tikus, walaupun juga bisa melalui babi, anjing, kucing, dan hewan ternak. Manusia tertular penyakit tersebut bila bersentuhan dengan air kencing hewan tersebut, atau bersentuhan dengan sampah, tanah, atau air yang terkontaminasi air kencing tikus. Penularan juga bisa terjadi, bila menelan makanan yang terkontaminasi.

Jumlah pasien leptospirosis biasanya memang meningkat sewaktu musim hujan, karena leptospira bisa bertahan di air selama beberapa bulan. Jadi, memang Mbak Erna benar, bahwa penularan leptospira meningkat sewaktu musim hujan atau sewaktu banjir dan setelah banjir reda.

Apakah gejala penyakit leptospirosis? Pertama, tidak semua orang yang tertular leptospira menunjukkan gejala. Masa inkubasi penyakit ini sekitar 2-28 hari. Gejala antara lain mual, muntah, gejala serupa flu dengan demam menggigil, lemah, nyeri di betis, kadang disertai diare, nyeri perut. Mata kemerahan dan dapat disertai kulit dan mata kuning. Panas berlangsung sampai seminggu, kemudian turun. Fase ini disebut sebagai fase satu.

Sebagian pasien kemudian akan masuk fase dua, mengalami demam panas lagi, nyeri otot dan nyeri kepala yang lebih berat, mata menjadi merah karena peradangan, bahkan dapat terjadi radang selaput otak (meningitis) yang menyebabkan pasien kehilangan kesadaran. Komplikasi ke ginjal juga dapat terjadi, bahkan pasien bisa mengalami gagal ginjal akut, yang dapat berakhir dengan kematian.

Dokter mendiagnosis leptospirosis berdasarkan gejala tersebut di atas, dan pemeriksaan laboratorium seringkali menunjukkan kelainan di fungsi hati dan ginjal. Kepastian diperoleh dengan hasil tes leptospira dari sampel darah atau urine. Dengan memberikan cairan infus dan suntikan penisilin, atau minum doksisiklin, kondisi pasien seringkali dapat dipulihkan dalam beberapa hari sampai 3-4 minggu. Kadang-kadang leptospirosis dapat menyebabkan kematian.

Bagaimana pencegahannya? Pertama, hindari kontak dengan bahan yang mungkin tercemar leptospira. Anak-anak ataupun orang dewasa sebaiknya tidak bermain di tempat tergenang air sekarang ini, apalagi berenang di sana. Pakailah sarung tangan dan sepatu bot sewaktu membersihkan rumah setelah banjir usai. Minum doksisiklin sebelum datang ke daerah endemis dapat mengurangi risiko munculnya gejala yang berat dan kematian akibat leptospirosis.

dr. Zubairi Djoerban

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://dhealthweb.com/leptospira/mencegah-tertular-leptospira-219/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.