January 5, 2008
Mata Jendela Kehidupan
Masalah :
Dr. Rahmi, saya ingin memulai dengan pertanyaan yang sangat mendasar yang mungkin sebagian mungkin sudah tahu tapi saya yakin banyak juga yang belum tahu tentang apa sebetulnya vitamin A dan darimana sumber-sumber vitamin A itu bisa didapatkan?
Jadi dari apa yang dikatakan oleh Ibu dokter tadi, sebenarnya tidak semua kebutuhan vitamin A itu diperoleh dari makanan yang mahal harganya, artinya gizi yang cukup bisa didapatkan dari sumber-sumber yang banyak tersedia disekitar kita. Kekurangan vitamin A seperti yang kita semua sudah pahami menyebabkan kerusakan mata, tapi Ibu bisa jelaskan bagaimana itu bisa terjadi? Kemudian kerusakan mata seperti apa yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A?
Salah satu penyakit mata yang disebabkan karena kekurangan vitamin A adalah Xeroftalmia atau keringnya selaput bening mata. Bisa Ibu jelaskan gejalanya seperti apa dan kemudian bagaimana mendeteksinya secara dini sehingga masih bisa untuk diobati?
Bagaimana cara memberikan pengobatan terhadap kasus penyakit mata ini?
Berkaitan dengan defisiensi vitamin A, kelompok mana saja atau kelompok masyarakat mana saja atau kelompok balita mana saja yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami resiko kekurangan vitamin A?
Ibu sempat mengatakan tentang pembagian vitamin A secara gratis, bisa Ibu jelaskan lagi dimana masyarakat bisa mendapatkan kapsul vitamin A ini, kemudian kapan waktu pelaksanaannya?
Jawaban :
Mata adalah jendela kehidupan, itu satu hal yang rasanya perlu kita camkan dalam hati. Karena itu memelihara kesehatan mata adalah prioritas utama bagi kita semua, tapi tahukah anda bahwa menjaga kesehatan mata sebaiknya diawali sejak dini, sejak anak masih berusia balita atau bahkan sejak berada dalam kandungan. Sayangnya tidak banyak yang paham tentang hal ini, sehingga berbagai kasus penyakit mata yang muncul sudah berada pada kondisi yang buruk hingga sulit untuk diobati, terutama penyakit mata yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A. Banyak juga yang tidak tahu bahwa penyakit mata yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A itu relatif sulit untuk disembuhkan dan bisa menyebabkan terjadinya resiko kebutaan.
Kita sebetulnya sudah belajar sejak SD tentang Ilmu Hayat, vitamin A adalah suatu zat gizi yang sangat penting bagi manusia, karena zat gizi ini tidak dibuat oleh tubuh jadi harus dipenuhi dari luar yaitu makanan. Vitamin A dapat kita konsumsi dari bahan makanan yang berwarna hijau, seperti sayur-sayuran warna hijau atau berwarna jingga sebagai contoh adalah bayam, daun singkong, pepaya yang warnanya jingga yang matang, hati kuning telur dan juga Air Susu Ibu (ASI), itu bahan makanan yang kaya dengan vitamin A. Jika kita tidak bisa mengkonsumsi dari makanan. kita bisa mendapatkannya dari bahan makanan yang sudah diperkaya dengan vitamin A. Berbagai makanan sekarang di dalam labelnya disebutkan sudah diperkaya dengan vitamin A atau untuk balita saat ini tersedia kapsul vitamin A dengan dosis tinggi.
Sebelum kita bicara tentang kerusakan mata akibat kekurangan vitamin A, kita melihat dulu mata yang sehat. Mata yang sehat itu ditandai dengan selaput bening mata yang menutupi bagian hitam dari mata yang dikenal dengan kornea itu benar-benar jernih transparan, tembus sinar dan bagian putih mata itu terlihat putih warnanya. Bagian hitam itu benar-benar hitam, kelopak warna yang sehat itu dapat membuka dan menutup dengan baik dan bulu matanya teratur mengarah keluar pertumbuhannya. Sedangkan mata yang kekurangan vitamin A , selaput matanya pada daerah hitam dan daerah putih itu menjadi kering dan bila tidak segera diobati, selaput mata yang kering ini akan mengakibatkan kebutaan. Kita tadi sudah mendengar bahwa mata adalah jendela hati, itu artinya indera mata sangat penting dari 5 indra kita untuk kita dapat menangkap stimulus2 atau rangsangan2 dari luar dan itu berkaitan juga dengan kecerdasan.
Mata yang sehat itu bening, mula-mula saya akan ceritakan kasusnya pada balita, bila kita melihat balita kita pada waktu menjelang magrib atau sudah agak menjelang malam terantuk-antuk jalannya, itu dikenal dengan buta senja. Kemudian bagian putih mata itu mengalami kekeringan, kusam dan tidak bersinar. Kalau pada bagian putih mata itu ada satu bercak seperti busa sabun, itu tandanya sudah makin parah. Bila selaput bening yang ada pada bagian hitam atau yang ada pada kornea sudah mulai kering dan kusam, itu berarti sudah terjadi kekeringan pada selaput korneanya dan lebih lanjut lagi sebagian hitam mata itu akan melunak seperti bubur dan pada akhirnya bagian kornea itu seluruh bagian hitam melunak dan bola matanya mengecil atau mengempis. Itulah ciri-ciri orang yang terkena Xeroftalmia atau keringnya selaput bening mata.
Seperti yang tadi saya katakan, kita harus mendapatkan makanan dari luar karena zat gizi ini harus didapatkan melalui makanan. Pada anak balita, kita sudah mempunyai program untuk mencegah kering mata ini dengan memberikan kapsul vitamin A dengan dosis yang tinggi. Kapsul vitamin A ini dibagikan setiap bulan Februari dan Agustus setiap tahun, bisa didapatkan di Puskesmas dan Posyandu terdekat didaerah masing-masing. Jadi sebetulnya dengan pemberian kapsul yang relatif mudah ini akan menentukan bagaimana masa depan dari seorang anak. Bila Ibu terlambat memberikannya maka pencegahannya juga akan membawa akibat pada kebutaan nanti.
Kita akan berbicara lebih general tentang kondisi Indonesia karena ada yang mengatakan bahwa Indonesia mengalami apa yang disebut dengan defisiensi vitamin A, apa maksud pernyataan tersebut sebetulnya?
Tadi saya sampaikan bahwa kekurangan vitamin A akan menyebabkan kebutaan. Saya ingin mengingatkan bahwa satu lagi fungsi dari vitamin A ini adalah meningkatkan daya tahan tubuh atau meningkatkan kekebalan anak. Anak yang kekurangan vitamin A akan mudah terserang infeksi, yang untuk anak sehat penyakit itu tidak menyebabkan kematian atau tidak menyebabkan kecacatan yang parah, sebagai contoh penyakit yang sering diderita anak-anak seperti campak, diare, itu akan menjadi lebih parah bila anak tersebut kurang vitamin A. Sebetulnya masalah kekurangan vitamin A di Indonesia secara klinis dan dari segi kesehatan masyarakat bukan lagi masalah kesehatan masyarakat karena angkanya kurang dari 0,3% (menurut WHO), tetapi jika diperiksa secara laboratorium masih terdapat 50% balita yang menderita vitamin A sub klinis. Kalau diperiksa di laboratorium oleh ahli, batasannya adalah anak itu mempunyai serum retinol (calon vitamin A) kurang dari 20 mikrogram /desiliter, karena itu secara klinis sudah cukup rendah angkanya tapi secara sub klinis cukup memprihatinkan. karena 50% dari balita kita yang berjumlah 20 juta balita atau sekitar 10 juta balita indonesia berpotensi untuk kekurangan vitamin A. Karena itulah kita membuat program yang menyeluruh untuk para balita kita.
Kelompok-kelompok yang beresiko kekurangan vitamin A, pertama adalah bayi berat lahir rendah yaitu bayi yang waktu lahir beratnya kurang dari 2500 gram. Bayi berat lahir rendah ini pada umumnya berasal dari Ibu yang kekurangan gizi. Jadi Ibu yang kurang gizi akan melahirkan anak yang kurang gizi juga dan anak ini juga berpotensi menderita gangguan gizi lain disamping kekurangan vitamin A. Yang kedua adalah anak yang tidak mendapatkan ASI pada usia dininya. Jadi ASI adalah makanan yang terbaik bagi bayi dan 99% sebetulnya Ibu bisa menyusui, hanya masalah psikologis saja yang bisa mempengaruhi tidak keluarnya ASI. Jadi tidak beralasan apabila ada Ibu yang mengatakan tidak bisa memberi ASI karena air susunya tidak keluar padahal semakin sering dihisap akan semakin banyak pula produksinya. Air Susu Ibu adalah sumber vitamin A yang paling baik untuk bayi dan anak sampai 2 tahun. Anak yang tidak mendapatkan ASI sesudah berumur 6 bulan maka membutuhkan makanan pendamping ASI yang bermutu artinya cukup sumber energinya, cukup proteinnya, cukup lemaknya, cukup vitamin dan mineralnya sesuai dengan yang ditetapkan oleh pakar. Anak yang kurang gizi bisa kita lihat dari grafik pertumbuhannya yang ditujunka oleh garis merah dan hijau pada Kartu Menuju Sehat yang terdapat di Posyandu . Jika anak sudah di ditimbang beratnya di Posyandu dan beratnya berada di bawah garis merah maka anak tersebut berpotensi beresiko untuk menderita kekurangan vitamin A dan anak yang sering menderita infeksi, campak, diare, TBC, infeksi saluran pernapasan akut dan cacingan akan lebih beresiko kekurangan vitamin A. Secara ekonomis, anak-anak yang berasal dari lingkungan yang miskin dan keluarga miskin, seperti anak yang tinggal di daerah pengungsian, anak yang tinggal di daerah yang kekurangan sumber vitamin A, kekurangan sayur-sayuran hijau, buah-buahan berwarna jingga, merupakan anak-anak yang lebih berpotensi mengalami kekurangan vitamin A. Anak-anak yang tidak mendapat imunisasi, tidak mendapat kapsul vitamin A dan Ibu yang kurang menyediakan sumber vitamin A pada makanan keluarganya juga sangat beresiko mengalami kekurangan vitamin A.
Tadi kita sudah berbicara tentang sebagian besar penyakit mata itu disebabkan karena kekurangan vitamin A, tapi kita juga ingin tahu adakah penyebab lain selain kekurangan vitamin A, yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit mata seperti mungkin katarak dan penyakit–penyakit lain, ini perbedaannya dimana? Kemudian tingkat resiko atau tingkat keberhasilan dalam penyembuhan itu lebih berat yang mana, apakah kekurangan vitamin A atau karena faktor –faktor lain?
Kalau xeroftalmia terjadi akibat dari kekurangan vitamian A, karena salah gizi atau di dalam konsumsi makanan kita tidak mengandung cukup vitamin A. Kalau katarak itu penyakit degeneratif, siapapun itu akan beresiko mengalami karena terjadi sesuai dengan proses ketuaan, tetapi orang yang menderita kurang gizi cenderung lebih cepat menderita katarak. Kalau katarak mudah pengobatannya dengan operasi yang sederhana saja, diganti lensanya sudah bisa segera melihat.. Tetapi kalau akibat xeroftalmia tidak mungkin diperbaiki dengan operasi karena sudah terjadi kerusakan pada alat mata. Kalau katarak kerusakan terjadi karena adanya kekeruhan pada lensa dan lensanya bisa diganti.
Ada satu hal penting yang bisa kita pahami dari perbincangan diatas bahwa kalau penyakit mata yang disebabkan karena kekurangan vitamin A itu lebih beresiko untuk tidak bisa sembuh dan menyebabkan kebutaan dibandingkan dengan penyakit –penyakit mata yang disebabkan oleh faktor-faktor yang lain. Tadi terungkap bahwa Indonesia meskipun secara klinis jumlah penderita kekurangan vitamin A tidak terlalu besar, tapi secara sub klinis masih banyak balita kita yang mengalami defisiensi vitamin A. Saya ingin bertanya kepada Ibu tentang seberapa seriuskah Defisiensi vitamin A yang terjadi di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain sehingga kita perlu membuat sebuah program khusus untuk melakukan atau menanggulangi persoalan ini?
Angka kebutaan yang terjadi karena akibat kekurangan vitamin A cukup tinggi. Informasi yang penting untuk disampaikan bahwa salah satu fungsi dari vitamin A adalah meningkatkan kekebalan tubuh. Jadi kalau anak sudah menderita kekurangan gizi dan terkena infeksi akan lebih parah dibandingkan anak yang kena infeksi dalam keadaan gizi yang baik. Tadi kita sudah melihat bahwa yang sub klinis itu 10 juta dan itu bukan angka yang kecil, angka yang cukup besar. Disamping itu kita juga sudah melihat bahwa sebagian besar anak-anak kita hidup berada dibawah garis kemiskinan mengingat lebih dari 20% masyarakat Indonesia adalah masyarakat miskin. Ditambah lagi sekarang banyak terjadi pengungsian, sehingga menambah jumlah yang beresiko menderita defisiensi vitamin A ini.
Kapsul vitamin A sebagai satu upaya untuk mencegah kekurangan vitamin A ini dibagikan untuk bayi berusia antara 6-11 bulan, balita berusia 12–59 bulan atau kurang lebih 5 tahun dan Ibu nifas, karena Ibu nifas itu menyusui dan melalui darah Ibu akan dikeluarkan ASI yang mengandung vitamin A. Untuk bayi berumur 6 sampai 11 bulan diberikan kapsul vitamin A berwarna biru, dosisnya 100.000 Internasional unit. Untuk balita berusia diatas satu sampai lima tahun diberikan kapsul berwarna merah dengan dosis 200.000 Internasional unit dan Ibu nifas juga diberikan 200.000 internasional unit. Jadi ada tiga target populasi kita yaitu bayi, balita dan Ibu nifas. Kapsul ini tersedia di semua Puskesmas dan diberikan antara lain pada hari-hari Posyandu. Jadi bagi Ibu-Ibu yang tidak bisa ke Puskesmas untuk daerah-daerah terpencil tapi kegiatan Posyandu-nya berjalan, bisa mendapatkan pelayanan ini di Posyandu.
Ini mungkin jadi isu bagi masyarakat dari kelompok ekonomi lemah, apakah pembagian ini gratis atau adakah biaya yang harus dikeluarkan ketika Ibu-Ibu harus membawa anaknya?
Kapsul vitamin A ini diberikan gratis untuk semua balita, karena itu disediakan di seluruh Puskesmas dan Posyandu. Kita kurang lebih mempunyai 7000 Puskesmas dan 240.000 Posyandu. Semua kita sediakan kapsul vitamin A secara gratis dan tidak dipungut bayaran apapun untuk pemberian ini.
Kita kembali ke soal kekurangan gizi tadi dan satu hal yang menarik perhatian saya adalah sejak didalam kandungan bayi pun sebetulnya sudah harus kita persiapkan agar supaya dia tidak mengalami kekurangan atau Defisiensi Vitamin A. Hal berarti ini adalah treatment yang diberikan kepada Ibu-Ibu yang sedang hamil dan yang sedang menyusui. Ibu barangkali bisa memberikan semacam tips atau nasehat bagi Ibu yang sedang hamil atau yang sedang menyusui?
Saya ingin mengingatkan, Ibu yang sedang hamil sebetulnya mempersiapkan calon sumberdaya manusia yang baru, karena itu Ibu harus memberi makan untuk dua orang. Ibu hamil harus makan lebih banyak dibandingkan kalau Ibu tidak hamil. Ibu juga harus menimbang berat badannya, karena dengan menimbang berat badan maka kita bisa mengetahui secara tidak langsung bagaimana tumbuh kembang anak. Ibu yang sehat. Sampai akhir kehamilannya kenaikan berat badan ibu hamil harus sekitar 10 sampai 15 kilo, tergantung pada kondisi Ibunya. Kalau dibawah itu berarti Ibu harus waspada . Yang penting sekali bahwa awal dari kehidupan dalam kandungan itu menentukan kualitas masa depan anak yang dilahirkannya, karena di dalam kandungan sampai usia balita terjadi suatu pesat tumbuh yang sangat cepat dan kita mengenalnya sebagai masa emas yang berkaitan dengan panca indera kita seperti otak, mata. Untuk otak porsi pesat tumbuhnya sebesar 80% terjadi pada waktu kehamilan sampai umur kurang lebih tiga tahun, sedangkan 20%-nya terjadi sesudah masuk usia sekolah. Jadi bayangkan saja kalau Ibu menderita gizi kurang pada waktu hamil dan balita itu kekurangan gizi, maka otaknya tentu tidak berkembang dengan optimal. Jadi secara kasar dia akan kehilangan sekitar 80% kemampuan otak dan kalau diibaratkan sekarang kita analogikan seperti komputer, anak yang Ibunya cukup gizi selama hamil dan waktu balita akan mempunyai kapasitas yang mungkin dianalogikan sudah pentium 4, sedangkan anak yang kurang gizi itu hanya pentium 1 atau kalau di iklan televisi disebutkan tulalit atau jaringan telepon yang tidak nyambung dikarenakan sel-sel otak tidak berkembang baik pada waktu dalam kandungan sampai pada usia balita.
dr. Rachmi Untoro, MPH
Sumber : Gizi.net
Tags: dr. Rachmi Untoro MPH, Gizi.net, Kesehatan Mata






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.