April 17, 2008

Haid Anak Remaja Tidak Teratur?

Masalah :

Ass.wr.wb.

Dok, anak saya 13 tahun, sejak usia 11 tahun 6 bulan sudah mendapatkan haid dan datang secara teratur, dengan siklus 28 hari. Namun bulan Februari ini dia mendapat haid dua kali, jaraknya seminggu setelah haid pertamanya bersih. Jumlah haidnya sama saja, banyak seperti biasanya. Kenapa ya Dok? Apakah kondisi kesehatannya yang memang sedang turun (ia sempat flu) atau karena sebab lain? Mohon penjelasan dari Dokter.

Terima kasih.

Ny. Dwi di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Dwi yang terhormat.

Umumnya sekitar 2 – 3 tahun setelah menarche (mula haid, pertama kali seorang wanita mendapat haid), haid belum teratur, baik siklusnya (dihitung dari hari pertama haid sampai hari pertama datang lagi haid yang berikutnya, demikian juga lamanya haid.

Setelah itu, dalam masa reproduksi kita dapat mengalami gangguan haid, dapat terjadi gangguan siklus haid (normalnya sekitar 28 hari) ; gangguan siklus menyebabkan haid menjadi jarang (lebih dari 35 hari sekali) atau menjadi lebih sering (lebih singkat), kurang dari 21 hari. Gangguan juga dapat terjadi dalam jumlah haid (menjadi sangat banyak atau menjadi sedikit, bercak-bercak) atau lama haid berubah menjadi lebih pendek (kurang dari 3 hari) atau lebih panjang (lebih dari 10 hari).

Penyebab gangguan haid pada remaja sering tidak diketahui, antara lain dapat karena pengaruh obat-obatan, penyakit-penyakit, termasuk influenza (common cold), perubahan lingkungan yang terjadi tiba-tiba, 0besitas (badan terlalu gemuk), gangguan hormonal atau akibat makanan/stres.

Dalam kasus putri Ibu, jangan terlalu khawatir karena biasanya bukan disebabkan oleh hal-hal yang membahayakan. Namun apabila selama 3 bulan berturut-turut kelainan itu tetap ada, kunjungi seorang spesialis ginekologi atau konsultan fertilitas endokronologi reproduksi untuk berkonsultasi tentang penyebabnya.

Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 13, 2008

Pakai Gurita Setelah Melahirkan

Masalah :

Dokter, saya sedang hamil anak pertama. Sekitar sebulan lagi saya akan melahirkan. Dok, apakah setelah melahirkan saya perlu memakai gurita? Kata ibu saya, itu memang lazim untuk wanita sehabis melahirkan. Bahkan gurita harus dipakai selama masa nifas.

Aduh Dok, kebayang ribetnya ya. Apakah kalau tidak memakai gurita atau stagen, perut saya jadi jelek? Apakah olesan-olesan seperti jeruk nipis untuk perut memang dianjurkan? Juga minum jamu setelah melahirkan?

Maaf Dok, pertanyaan saya banyak. Terima kasih sebelumnya.

Ny. Diki di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Diki yang terhormat.

Pemakaian gurita , stagen, atau korset pasca salin tidak ditujukan untuk memperkecil perut atau memperindah perut. Alat tersebut dipakai lebih karena tradisi, dan agar perut yang gembyor setelah melahirkan, tidak berguncang-guncang saat ibu beraktivitas. Untuk mengurangi lemak yang berlebihan sisa hamil atau perut yang kendur, tidak mungkin hilang dengan pemakaian gurita, harus dengan berolah raga (senam nifas atau dengan sit-up). Jadi tanpa memakai gurita perut Ibu tidak akan menjadi jelek.

Oles-olesan (tapel) pada perut juga bersifat tradisional, kebiasaan yang turun temurun. Umumnya ibu diberi minyak yang hangat, kadang-kadang dicampur dengan kapur sirih dan ramuan lainnya. Tujuannya mungkin untuk membuat perut ibu hangat dan mengurangi kerut-kerut pada perut. Pada kenyataannya perut tidak dapat dikecilkan dengan cara ini, bahkan sering tapel-tapel tersebut menyebabkan iritasi pada kulit.

Mengenai jamu-jamu yang sering dianjurkan oleh orang tua dahulu, memang ada yang mengadung herbal berkhasiat, dan apa yang dimakan ibu tidak langsung mengenai bayinya. Obat-obatan atau jamu-jamu akan diserap usus, sebagian kecil akan masuk ke air susu ibu (ASI) dan mempengaruhi bayi. Namun sayangnya kita belum tahu apa saja khasiat tumbuh-tumbuhan yang terdapat dalam jamu tersebut dan berapa dosis yang baik untuk kita. Kemasan dan penyimpanan jamu juga harus dipikirkan, apakah berjamur ataukah kedaluwarsa. Ada juga jamu-jamu yang mengandung bahan vasodilator (melebarkan pembuluh darah) seperti mengandung jahe atau tumbuhan lain yang dapat menyebabkan perdarahan pascasalin lambat, malahan pada etnis tertentu ibu bersalin sering diberi arak yang dapat membahayakan ibu karena dapat menyebabkan perdarahan.

Sebaliknya meskipun tanpa jamu-jamu, organ-organ reproduksi kita Insya Allah akan pulih seperti masa sebelum hamil dalam waktu 6 minggu. Jadi, apabila Ibu akan minum jamu, pastikan dulu isinya apa dan khasiatnya, kedaluwarsa atau tidak, berjamur atau tidak, dan kenali efek sampingnya. Sebaliknya bila Ibu tidak ingin memakai gurita dan tidak ingin minum jamu, Insya Allah akan baik-baik saja.

Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

March 23, 2008

Belum Haid

Masalah :

Dokter, teman-teman saya yang seumur (16) sudah mendapat menstruasi sejak mereka berumur 11 atau 12 tahun. Namun, saya kok sampai sekarang belum haid sekali pun.

Kenapa ya Dok? Apakah saya tidak normal? Kalau saya tidak haid berarti saya tidak bisa punya anak dong nanti? Dok tolong ya, saya diberi penjelasan tentang haid ini. Terima kasih.

Ana di Bandung

 

Jawaban :

Ananda Ana

Lazimnya saat ini seorang remaja mulai haid pada usia sekitar 11-13 tahun. Apabila sampai dengan usia 16 tahun seorang gadis belum pernah mendapat haid, keadaan seperti ini adalah suatu kelainan yang disebut primary amenorrhea (amenore primer).

Penyebab amenore primer ini antara lain adalah:
1. Perubahan berat badan yang tiba-tiba (menjadi sangat kurus) misalnya karena tidak mau makan, anoreksia nervosa, stres fisik, bulimia.
2. Malnutrisi (kurang gizi)
3. Obesitas (berat badan naik > 10 kg)
4. Penyakit-penyakit kronis (menahun)
5. Kelainan bawaan pada saluran genital (rahim tidak terbentuk, kelainan indung telur, sekat pada vagina, atau hymen menutup/hymen imperforate)

Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kelainan hormonal seperti disgenesis gonad, hipotiroidi, hipertiroidi, penyakit cushing, sindroma polikistik ovarium, dll.

Banyak hal yang harus dilakukan untuk memastikan penyebabnya, dari mulai pemeriksaan fisik, laboratorium untuk pemeriksaan hormonal, sonografi/USG , pemeriksaan kromosom atau laparoskopi (meneropong alat genital dalam dari perut/bawah pusar).

Segeralah kunjungi dokter spesialis kandungan konsultan fertilitas endokrin reproduksi agar kelainan tersebut segera dapat diketahui dan diobati.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Tumor Dalam Rahim

Masalah :

Dokter, saya berusia 40 tahun. Beberapa waktu lalu saya diperiksa ke dokter kandungan untuk keluhan keputihan yang agak banyak. Ternyata di rahim saya ada tumor. Namun, kata dokter itu tumor jinak.

Apakah tumor yang ada di rahim harus selalu diangkat Dok? Kenapa tumor itu muncul? Apakah pengaruh makanan atau ada penyebab lainnya? Saya mohon penjelasan Dokter. Terima kasih.

Ny. Alia di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Alia yang terhormat.

Biasanya yang tumor jinak rahim dimaksud oleh seorang dokter adalah mioma (leiomyoma/fibroid) yaitu nodul atau benjolan padat yang terdiri dari jaringan ikat. Tumbuhnya dapat ke dalam rongga rahim (mioma submukosa), di dalam otot rahim (mioma intramural) dan di bagian luar rahim (mioma subserosa) atau bertangkai (pedunculated myoma). Ukurannya dapat sangat kecil dalam ukuran milimeter sampai diameter 20–30 sentimeter.

Tumor ini biasanya jinak, umumnya terjadi pada wanita usia 30–40 tahun. Biasanya tumbuh lambat, dapat tunggal (soliter) atau banyak (multiple) dan seringnya tidak bergejala.

Mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim dan ukurannya besar dapat menyebabkan gangguan haid, haid menjadi lebih banyak, lebih lama, dan lebih nyeri. Tumor yang besar dapat diraba dari dinding perut. Mioma terbesar yang pernah dilaporkan, beratnya sampai 40 kg.

Penyebab tumor tidak diketahui pasti, diduga ada hubungannya dengan hormon estrogen, karena tidak pernah ditemukan pada wanita yang belum haid. Tumor membesar dengan pengaruh estrogen dan mengecil saat menopause (estrogen berkurang). Pada umumnya tidak berhubungan dengan makanan.

Keberadaan tumor sering diketahui secara tidak sengaja, yakni ketika wanita memeriksakan diri pada seorang ginekolog untuk keluhan ganngguan haid, keputihan, atau pemeriksaan rutin, dan diketahui saat dilakukan pemeriksaan ginekologis atau sonografi (USG).

Penanganannya bergantung dari besarnya tumor dan gejala yang ditimbulkannya. Tumor ukuran kecil pada wanita yang telah cukup anak dan tidak mengganggu kualitas hidup dapat dibiarkan sampai saat menopause, karena diharapkan mengecil. Tumor yang mengganggu kualitas hidup, bergejala seperti nyeri atau haid banyak dan lama, ukurannya besar, sebaiknya dilakukan operasi pengangkatan mioma (miomektomi) atau kadang-kadang diperlukan pengangkatan seluruh rahim (histerektomi).

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

February 15, 2008

Kehamilan Ektopik

Masalah :

DOKTER, saya sudah menikah 8 tahun. Beberapa hari lalu saya dioperasi karena kandungan yang berusia 2 bulan ternyata ada di luar kandungan. Dioperasi caesar karena katanya janin sudah pecah di dalam. Sel telur saya diambil satu. Beberapa tahun lalu, saya pernah keguguran saat kandungan berusia 3 minggu, tetapi tidak dikuret karena kata dokter sudah bersih.

Yang ingin saya tanyakan: Apakah saya hamil di luar kandungan karena kondisi rahim yang kurang bagus? Atau karena saya terlalu capek dan sering naik turun tangga (kantor saya di lantai 2)? Setelah sel telur dibuang satu, apakah saya masih mungkin hamil dengan mudah?

Terima kasih

Ny. Dian di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Dian yang terhormat,

Pada keadaan normal, bila telur dibuahi oleh sperma akan menjadi zigot (buah kehamilan). Sambil terus berkembang, ia akan melalui saluran telur dan menuju ke dalam rongga rahim untuk bernidasi (menempel dan memasuki dinding rahim) dan tumbuh di dalamnya.

Apabila buah kehamilan tidak bernidasi dalam rahim, keadaan ini disebut hamil di luar kandungan atau kehamilan ektopik. Tempat tersering kehamilan ektopik adalah pada saluran telur (tuba fallopii) di bagian ampula. Karena saluran telur sangat kecil, ia hanya dapat menampung kehamilan sampai sekitar usia kehamilan 8 minggu. Tempat lain kehamilan ektopik adalah pada bagian isthmus saluran telur, bagian ujung (tanduk/cornu) rahim, ovarian/indung telur, leher rahim, atau di dalam rongga perut (primer atau sekunder dari pecahnya kehamilan tuba). Apabila buah kehamilan bernidasi di dalam rongga perut, kehamilan dapat berlangsung lebih lama (kehamilan ektopik lanjut). Kehamilan ektopik yang terganggu dapat menyebabkan perdarahan hebat ke dalam rongga perut dan termasuk keadaan gawat medis; ibu dapat meninggal apabila tidak segera dihentikan perdarahannya (operasi laparotomi).

Penyebab hamil di luar kandungan tidak ada hubungannya dengan naik turun tangga atau terlalu cape, demikian juga tidak ada hubungannya dengan makanan atau pekerjaan/kebiasaan ibu sehari-hari. Yang tersering adalah kerusakan saluran telur, penyebabnya dapat karena infeksi (dapat didahului oleh gejala keputihan misalnya pada vaginosis bakterial, gonore; atau tidak bergejala seperti pada klamidiasis) atau akibat infeksi panggul lainnya seperti infeksi nifasau pasca-abortus. Selain akibat infeksi saluran telur dapat terganggu fungsinya karena endometriosis, mioma, atau kista ovarium yang menekan saluran sehingga terjadi penyempitan. Akibat penyempitan, buah kehamilan tidak dapat melewati saluran menuju rahim dan menetap di dalam saluran, membesar di sana dan menyebabkan pecahnya saluran atau mati dalam saluran, dan darah akan keluar melalui ujung saluran telur (abortus tuba). Hal lain yang dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik adalah riwayat operasi pada perut seperti pascaoperasi usus buntu, pengangkatan kista, atau operasi perut lainnya.

Operasi pada kehamilan di luar kandungan bukan seksio sesarea melainkan laparotomi. Demikian pula yang diangkat umumnya adalah saluran telur tempat kehamilan tersebut. Indung telur jarang menjadi tempat kehamilan ektopik. Apabila ibu masih mempunyai satu saluran telur, asal fungsinya baik (harus dilakukan pemeriksaan HSG/histerosalpingografi terlebih dahulu), masih ada kemungkinan untuk hamil. Demikian pula apabila benar kehamilan yang lalu adalah kehamial ovarial sehingga indung telur ibu sudah tinggal satu, bila fungsi salurannya baik masih tetap dapat hamil di dalam kandungan.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

February 14, 2008

Bayi Tabung

Masalah :

Dokter, istri saya sudah kedua kalinya hamil di luar kandungan. Dua kali dioperasi, terakhir minggu lalu. Jadi dua saluran telurnya sudah hilang. Namun kata dokter kami masih bisa punya anak dengan cara bayi tabung, benarkah itu? Bagaimana caranya? Terima kasih.

Budi di Bandung

 

Jawaban :

Pak Budi yang terhormat,

Bayi tabung (IVF-Invitro Fertilization atau ART- Assisted Repruductive Technology - TRB- Teknik Reproduksi Berbantu) memang merupakan jalan keluar bagi pasangan yang istrinya memiliki gangguan pada saluran telur atau gangguan ovulasi. Keberhasilan bayi tabung yang tertinggi yakni apabila pasangan tersebut hanya mempunyai masalah saluran telur yang tersumbat, sedangkan telur dan spema baik.

Caranya, yakni dengan mengunjungi Klinik Fertilitas, misalnya ke Klinik Aster di RS Hasan Sadikin. Di sana pasangan suami istri (pasutri) akan dilayani oleh dokter spesialis Obgin konsultan fertilitas endokrinologi reproduksi (SpOG-KFER). Pasutri akan diminta datang terjadwual, pada saat haid, istri biasanya akan diberi obat untuk menstimulasi indung telur agar menghasilkan telur dalam jumlah yang cukup. Ibu juga akan mendapat obat-obat hormonal agar telur tidak terlalu cepat keluar dan untuk mempersiapkan rahim menerima buah kehamilan.

Ibu akan berkali-kali diperiksa darah untuk melihat keadaan hormonal dan dipatau perkembangan telurnya (folikel) dengan alat sonografi (USG transvaginal). Apabila telur sudah matang dokter akan mengambilnya melalui prosedur khusus. Kemudian telur tersebut dipersatukan dengan sperma suami di laboratorium. Untuk mempertinggi keberhasilan, saat ini sperma disuntikkan ke dalam sel telur. Beberapa hari kemudian sel telur yang sudah dibuahi tersebut akan menjadi embrio. Dua sampai empat embrio akan dimasukkan ke dalam rahim ibu, embrio sisanya dibekukan untuk dipakai kemudian hari bila proses bayi tabung yang sedang berlangsung tidak berhasil. Apabila berhasil, ibu akan hamil dengan kemungkinan hamil kembar. Lama program satu siklus sekitar 4 – 6 minggu.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

November 19, 2007

Mengatur Waktu Menyusui

Masalah :

Dokter, saya baru saja melahirkan anak pertama sebulan lalu. Sebentar lagi saya harus masuk kerja. Saya bingung mengatur ASI untuk bayi saya. ASI saya banyak, tapi saya tidak mungkin pulang dulu mengingat jarak yang jauh dari rumah ke kantor (pergi pagi dan pulang malam). Bagaimana ya Dok caranya agar ASI tak sia-sia dan anak saya mendapatkan jatah ASI yang cukup? Terima kasih Dok. 

Ny. Tini di Bekasi

 

Jawaban :

Ibu Tini yang terhormat,

Syukur Ibu berniat tetap memberikan ASI meskipun Ibu bekerja.

Memang benar Ibu bekerja akan lebih repot mengatur dan merencanakan pemberian ASI, namun apabila kita mengingat manfaatnya, ASI tidak mungkin digantikan oleh susu binatang apa pun termasuk susu formula yang berasal dari susu sapi.

Agar dapat tetap menyusui, ibu bekerja harus merencanakan penyusuan lebih baik. Untuk Ibu yang merencanakannya sejak hamil, pastikan Ibu menyusui dini saat melahirkan dan rawat gabung. Kedua hal ini menjamin pengeluaran ASI yang baik dan penyusuan yang baik. Kemudian berikan penyusuan eksklusif (ASI saja, tanpa cairan lain). Setelah minggu pertama menyusui, mulailah belajar menyimpan ASI dengan cara memerah ASI setelah penyusuan. Segera setelah bayi disusui, ASI diperah (dapat dengan tangan, pompa susu khusus yang mempunyai gelas sendiri untuk menampung ASI, atau pompa listrik yang mulai banyak dijual di maternity shop.

Untuk Ibu yang saat ini masih menyusui eksklusif dan akan bekerja kembali, mulailah dari sekarang memompa ASI setiap selesai menyusui, tampung dalam gelas bermulut lebar, tutupi dengan baik dan simpanlah dalam lemari es. Sebaiknya ASI perahan jangan disatukan, simpan sesuai urutan pemerahan. Cantumkan tanggal sehingga pemberiannya pada bayi dapat diatur (yang lebih lama disimpan lebih dahulu dipakai).

Dari penelitian terakhir di negara maju, ASI dalam lemari es (refrigerator, bukan dalam freezer) dapat disimpan 2-5 X 24 jam, sedangkan dalam freezer dapat disimpan berbulan-bulan ( 3-6 bulan).

Apabila Ibu mulai bekerja, sebelum bekerja susui dulu bayi Ibu. Selama ditinggalkan bekerja bayi akan mendapat susu perah yang sudah Ibu siapkan di lemari es sebelumnya. ASI yang baru dikeluarkan dari lemari es dapat tahan 4-8 jam di udara luar (suhu kamar). Sebelum diberikan, jangan dipanaskan. ASI dalam gelas cukup dihangatkan dengan mencelupkan gelasnya ke dalam wadah berisi air hangat. Kemudian ASI simpanan diberikan dengan sendok, jangan dengan dot, karena akan menyebabkan bayi bingung puting.

Di tempat bekerja, carilah tempat yang cukup nyaman untuk memerah ASI sesering mungkin (idealnya 2-3 jam sekali),. Cukup beberapa menit yang diperlukan untuk memerah ASI apabila ibu telah mahir melakukannya. Jangan sampai payudara mengeras karena ASI terlalu penuh. Apabila payudara mengeras dan ASI keluar menetes, produksi ASI akan segera berkurang karena sel-sel kelenjar yang memproduksi ASI terlalu diregang dan dapat rusak. ASI yang diperah di kantor dapat disimpan dalam lemari es untuk esok hari atau dikirimkan ke rumah.

Saat Ibu pulang, Ibu dapat segera menyusui dan malam hari sambil berbaring (tertidur) Ibu masih tetap dapat menyusui. Setelah bayi minimal 4 bulan (sebetulnya ASI eksklusif dapat dilakukan sampai 6 bulan, tergantung tumbuh kembang bayi Ibu), bayi dapat diperkenalkan pada makanan pendamping. Ini akan mempermudah Ibu menyusui, karena selain ASI sudah ada makanan selingan. Demikian pula bulan-bulan selanjutnya, makanan pendamping ASI akan lebih sering dan lebih banyak jenisnya sehingga Ibu dapat tetap menyusui sampai 2 tahun.

Dengan kemauan dan usaha yang baik serta dukungan seluruh keluarga, termasuk dukungan lingkungan kerja, Ibu bekerja tetap dapat menyusui ekslusif dan penyusuan 2 tahun seperti yang dianjurkan . Hal ini berarti kualitas generasi yang akan datang akan jauh lebih baik daripada generasi susu sapi.

  Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

October 18, 2007

Lupus Boleh Hamil?

Masalah :

Dokter Sofie yth.

SAUDARA perempuan saya menderita penyakit lupus. Dia sudah sering keluar masuk rumah sakit karena penyakitnya beberapa kali kambuh. Dalam waktu dekat ini, dia akan melangsungkan pernikahan dengan lelaki pilihan hatinya.

Namun, saya khawatir dengan keadaannya, apakah kalau sudah menikah nanti ia dapat hamil dan melahirkan? Apakah jika dia hamil kelak anaknya juga bisa menderita penyakit yang sama?

Terima kasih atas perhatian dan jawaban Dokter.

Ny. A di Cianjur

Ibu A yth.

LUPUS (kependekan dari SLE, Systemic Lupus Erythematosus) adalah penyakit menahun yang lebih sering menyerang wanita daripada laki-laki. Gejala lupus sering seperti gejala flu, oleh karena itu sering luput keberadaannya. Gejala yang umum adalah demam, lesu, sakit kepala, dan nyeri sendi. Gejala yang khas adalah adanya bercak berbentuk kupu-kupu pada hidung, pipi, atau bagian badan lainnya. Sampai saat ini penyebabnya belum diketahui pasti. Karena penyakit ini menahun, dapat menyebabkan peradangan, nyeri, dan kerusakan organ-organ tubuh seperti ginjal, jantung, paru-paru, dan organ dalam lainnya.

Dahulu penderita lupus tidak dianjurkan untuk hamil dan bahkan penderita lupus yang hamil dianjurkan untuk aborsi. Saat ini ilmu pengetahuan sudah jauh berkembang dan banyak bukti bahwa ibu dengan lupus (meskipun cukup sulit) dapat hamil dalam pengawasan dokter.

Kesuburan ibu dengan lupus pada umumnya dapat normal. Pada penderita yang ringan dan sedang umumnya dapat hamil beberapa tahun setelah menikah. Pada lupus yang berat, kesuburan menurun karena obat-obat yang dipakai untuk mengatasi gejala lupus dapat mengurangi kesuburan bahkan menghentikan haid. Saat ini banyak bukti yang menunjukkan pasien lupus dapat hamil dengan aman. Tidak benar bahwa penyakitnya akan menjadi lebih berat bila ibu hamil. Ibu dengan lupus dianjurkan hamil pada keadaan "sehat", yakni saat lupusnya lama tidak kambuh.

Dalam kehamilan sering terjadi kelainan kulit sehingga kambuhnya lupus dapat tidak diketahui, namun pada umumnya tetap dapat diobati dengan obat yang terseleksi. Lebih baik apabila ibu dengan lupus tidak mendapat obat-obatan selama hamil, namun belum ada laporan bahwa obat-obat untuk lupus (kecuali cyclophosphamide atau golongan kortikosteroid selain prednison) menyebabkan cacat janin meskipun jumlah kasus belum banyak.

Risiko terhadap bayi: sekira 25% kehamilan pada ibu lupus akan berakhir dengan keguguran (pada ibu normal tanpa lupus keguguran sekira 8 - 10%), 25 - 50% dapat hamil cukup bulan, dan sekira 25 - 50% melahirkan pada usia kurang bulan. Sekira 3% bayi yang dilahirkan dapat mengalami neonatal lupus berupa kelainan pada kulit dan kelainan irama jantung. Tidak didapatkan peningkatan angka kejadian cacat fisik lainnya atau cacat mental pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan SLE. Demikian juga perkembangan bayi dengan nenonatal lupus pada umumnya normal.

Risiko pada ibu meningkat dalam hal terjadinya preeklamsi/eklamsi (kenaikan tekanan darah yang terjadi dalam kehamilan, dapat disertai kejang), turunnya trombosit dan terdapatnya protein dalam air kemih.

Oleh karena itu, selama kehamilan harus terjalin hubungan baik antara ibu, spesialis kandungan, dan spesialis penyakit dalam untuk penanganan bersama. Kunjungan pada dokter harus lebih sering agar gejala yang timbul segera diketahui dan segera diantisipasi. Risiko persalinan dengan operasi caesar meningkat.

Hubungi dokter spesialis terdekat untuk konseling pranikah.

Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 30, 2007

Akibat Puasa Jadi Banyak Keputihan?

Akibat Puasa Jadi Banyak Keputihan? 

Msalah :

Assalamualaikum wr. wb.

Dok, saya berusia 25 tahun, belum bersuami. Saya sedang menjalani puasa Ramadan. Akan tetapi, kenapa ya rasanya keputihan saya lebih banyak ketimbang biasanya? Mungkinkah keputihan itu berhubungan dengan puasa? Atau, mungkin itu hanya perasaan saya?
Dok, sebenarnya keputihan itu berbahaya tidak jika keluar setiap hari? Penyebab keputihan itu apa ya Dok?
Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Adinda di Bandung 

 

Jawaban :

Ananda Adinda,

Istilah keputihan dipakai untuk menggambarkan cairan yang bukan darah yang keluar dari vagina (alat kelamin wanita). Dalam keadaan normal, cairan pada vagina selalu ada sebagai hasil sekresi kelenjar-kelenjar pada alat reproduksi wanita (vagina, mulut/leher rahim /serviks dan rahim/uterus). Cairan yang normal berwarna bening seperti air liur, terutama pada saat subur atau putih kental seperti lem terutama pada saat dekat haid dan pada umumnya tidak berbau. Cairan ini bertujuan untuk membersihkan dan pelumas vagina.

Keputihan yang normal juga dapat bertambah jumlahnya (lebih basah pada saat subur/ovulasi; saat hamil, rangsangan seksual atau stamina tubuh yang sedang menurun).

Mungkin keputihan yang Nanda rasakan bertambah adalah akibat stamina Nanda yang menurun saat berpuasa.

Keputihan yang tidak normal (patologis) terutama terjadi karena infeksi. Tampilan cairan vagina akan berubah, baik jumlahnya, warnanya, baunya, bahkan dapat mengiritasi sehingga terasa gatal. Penyebab infeksi dapat ber-macam-macam, bisa virus, bakteri, parasit, atau jamur. Yang paling sering menyebabkan keputihan adalah jamur kandida (kandidiasis/kandidosis), sekitar 75% wanita dalam masa hidupnya pernah mengalami penyakit ini. Gejala kandidiasis/kandidosis terutama adanya rasa gatal, keputihan yang kenyal seperti keju cair atau seperti tepung yang diberi air, warnanya dapat putih kekuningan, kuning atau kehijauan karena infeksi campuran.

Jenis lain yang juga sering diderita wanita adalah Bacterial Vaginosis (Vaginosis Bakterialis/VB). Penyebabnya adalah perubahan ekosistem dalam vagina yang menyebabkan keasaman vagina berkurang (menjadi lebih basa), sehingga terjadi pertumbuhan berlipat ganda mikroorganisme yang hidup di vagina. Cairan vagina akan bertambah, warnanya putih keabuan, encer, dan berbau amis; apalagi setelah berhubungan intim, baunya akan bertambah menyengat.

Kedua jenis keputihan akibat infeksi di atas (jamur dan VB) umumnya bukan penyakit menular seksual (STD/Sexual Transmitted Diseases), meskipun ada juga yang berpendapat bahwa VB merupakan STD, VB sering ditemukan pada virgin (wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual).

Keputihan yang digolongkan dalam penyakit menular seksual (penyakit kelamin) adalah Trikomoniasis (penyebabnya suatu parasit, Trichomonas vaginalis) atau Gonorre (penyebabnya Neisseria gonorrhoea). Keputihan jenis ini lebih jarang ditemukan.

Keputihan juga dapat merupakan tanda keganasan alat reproduksi wanita (kanker mulut/leher rahim atau kanker badan rahim).

Apabila seorang wanita merasakan perubahan yang nyata dari keputihan yang biasa dialami sehari-hari, baik dalam jumlahnya, warnanya maupun baunya, segeralah memeriksakan diri pada dokter yang berkompeten, dan mintalah dokter tersebut memeriksa/melihat tampilan cairan vaginanya.

Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

Sumber : Pikiran Rakyat Online

 

 


 

Anak-anak ”Kok” Keputihan 

Masalah :

Dokter yang terhormat, anak saya (12) sudah mendapat haid 5 bulan lalu. Namun, sekarang di celana dalamnya saya suka melihat ada bekas keputihan. Kenapa ya Dok? Bagaimana mengatasinya? Terima kasih.

Ny. Indah di Bandung

Jawaban :

Ibu Indah Yth.,

Putri Ibu sudah bukan anak-anak lagi, melainkan sudah menjadi remaja yang sifat cairan vaginanya sudah seperti orang dewasa karena sudah haid. Meskipun belum menikah, perubahan cairan vagina pada remaja belum tentu selalu normal. Dapat saja cairan yang berlebih itu disebabkan oleh infeksi (lihat penjelasan untuk pertanyaan sebelum ini). Bahkan, anak kecil pun dapat keputihan. Keputihan pada anak kecil sering disebabkan oleh cacing keremi (Enterobius vermicularis) yang menjalar dari anus ke vagina atau ada benda asing (kotoran) di vagina.
Bila tanda-tanda keputihannya seperti yang digambarkan pada keadaan infeksi, segeralah bawa putri Ibu untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 26, 2007

Melahirkan Tanpa Sakit

Melahirkan Tanpa Sakit

Masalah :

Dokter yang terhormat. 

SAYA baru saja menikah lima bulan lalu. Kini saya hamil 2 bulan. Saya pernah mendengar ada cara melahirkan tanpa sakit. Katanya dengan cara disuntik, apakah itu benar?

Kalau memang tidak akan menimbulkan efek samping, rasanya saya ingin juga mencobanya. Bagaimana prosesnya Dok? Dan apakah biayanya mahal sekali?

Terima kasih atas perhatian Dokter.

Ny. Rina di Bandung

 

Jawaban :

Ny. Rina yang terhormat.

PERSEPSI nyeri pada persalinan sering diceritakan berlebihan sehingga menyebabkan rasa takut pada calon ibu. Konseling pemahaman proses persalinan adalah cara untuk mengurangi rasa nyeri secara alami. Hal ini biasanya diberikan oleh dokter ibu pada masa pemeriksaan kehamilan. Usaha lainnya adalah mempersiapkan mental dan fisik sebaik mungkin.

gizi yang baik dalam kehamilan, senam/olah raga selama kehamilan, terutama berenang, dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan memperlancar persalinan.

Yang Ibu Rina maksudkan pada pertanyaan di atas adalah persalinan tanpa nyeri, yakni pemberian obat anestesi (pembiusan) regional yang diberikan pada ibu selama persalinan dan biasanya diberikan mulai fase aktif (pembukaan serviks/mulut rahim 3 cm lebih). Pemberian suntikan biasanya di daerah tulang belakang, dapat sekali suntik atau beberapa kali pemberian melalui kateter (selang) epidural yang dipasang oleh dokter spesialis anestesi. Obat tersebut akan menyebabkan rasa nyeri dari daerah pinggang ke bawah hilang, namun pergerakan tungkai tidak terpengaruh.

Keuntungannya adalah ibu tidak merasa nyeri namun dapat berjalan-jalan atau bergerak sebagaimana biasanya. Ibu tidak akan merasa nyeri kepala sesudah melahirkan seperti pada beberapa pasien yang dilakukan anestesi spinal. Ibu tetap sadar selama persalinan, dan bila perlu dilakukan tindakan operatif/persalinan buatan anestesi yang sama dapat dilanjutkan.

Efek samping yang dapat terjadi adalah penurunan tekanan darah, kepala anak tidak berputar karena relaksasi jalan lahir, sehingga kejadian persalinan buatan (dengan ekstraksi vakum, ekstraksi forseps atau bedah sesar) akan meningkat.

Biayanya berbeda pada rumah sakit dan tergantung juga kelas yang diambil. Obat-obatannya ratusan ribu dan honor dokter anestesinya sekitar 50% dari honor dokter kandungannya.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

 


 

Menjarangkan Kehamilan

Masalah :

Assalamualaikum

DOKTER Sofie, saya baru melahirkan anak kedua, umur saya 30 tahun. Saya ingin menjarangkan kehamilan untuk anak ketiga kelak. Apakah dalam umur saya ini bisa memakai KB suntik? Sebenarnya, untuk memasang KB ada batasan usia tertentu atau tidak?

Terima kasih.

Ny. Mira di Soreang

 

Jawaban :

Ibu Mira yang terhormat.

KEPUTUSAN ibu untuk menjarangkan kehamilan sangat baik, malah idealnya jangan ada dua balita (anak di bawah usia lima tahun) dalam sebuah keluarga. Tentu saja kalau usia ibu memungkinkan. Pemilihan cara kontrasepsi yang rasional memang antara lain memperhitungkan segi usia.

Demikian juga segi pemanfaatan KB itu sendiri, apakah KB diperlukan untuk menunda kehamilan, menjarangkan kehamilan, atau mengakhiri fungsi reproduksi. Hampir semua KB dapat dipakai untuk menjarangkan kehamilan kecuali KB Mantap (Kontap, sterilisasi, medis operatif wanita/MOW, atau medis operatif pria/MOP) yang dipakai untuk menghentikan kesuburan.

Perlu diperhatikan juga apakah seorang ibu masih menyusui. Untuk ibu-ibu yang menyusui tidak boleh memakai pil kombinasi atau suntikan yang sebulan sekali karena mengandung hormon estrogen yang dapat mengurangi produksi air susu ibu (ASI). Untuk ibu yang menyusui, suntikan yang boleh diberikan adalah suntikan yang 3 bulanan (DMPA).

Usia 30 tahun atau lebih, tetap dapat memakai KB suntik atau KB lainnya selama tidak ada indikasi kontra yang menyebabkan ibu tidak boleh memakainya. Indikasi kontra pemakaian suntikan yang 3 bulan sedikit sekali, yakni hipertensi berat, trombosis, dan ibu perokok berat dengan usia di atas 35 tahun.

Meskipun pada umumnya semua cara KB dapat dipakai, pada usia tua (lebih dari 35 tahun) dianjurkan pemakaian KB yang lebih efektif, bukan hormonal dan KB yang bersifat jangka panjang seperti IUD (intra uterine device/AKDR- alat kontrasepsi dalam rahim) atau KB mantap (sterilisasi).

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 24, 2007

Sudah Menopause Bisa Hamil?

Masalah :

SAYA ibu empat anak berusia 53 tahun. Sudah setahun ini saya berhenti haid (menopause) total. Sedangkan setahun sebelumnya kadang-kadang haid itu datang (tidak menentu).

Kegiatan seksual saya normal-normal saja, bahkan mungkin termasuk rajin. Karena itu, saya takut dibuka alat KB, takut hamil lagi walaupun secara medis tidak mungkin karena sudah berhenti haid. Ketakutan saya itu karena ada teman saya yang sudah setahun berhenti haid dan dibuka alat KB-nya ternyata hamil lagi.

Menurut Dokter, apakah saya harus membuka IUD atau diteruskan, sampai usia berapa tahun?

Terima kasih, Dokter Sofie yang terhormat.

Ny. Endang di Bandung Selatan

 

Jawaban :

Ibu Endang yang terhormat.

Ketakutan untuk hamil pada usia lebih dari 40 tahun memang sangat beralasan karena banyak risiko medis yang dapat terjadi baik pada ibu maupun pada bayinya. Beberapa risiko yang dapat terjadi pada kehamilan usia di atas 40 tahun, secara teoretis dapat ditanggulangi (misalnya hipertensi, diabetes, kelainan letak, perdarahan), namun risiko untuk mendapat anak yang cacat meningkat sekitar 4 kali lipat pada usia 40 tahun dan sampai saat ini belum dapat dilakukan intervensi.

Yang harus para ibu ketahui, di atas usia 40 tahun, seorang ibu meskipun kesuburannya mulai menurun namun masih tetap dapat hamil dan masih membutuhkan kontrasepsi (alat KB). Kehamilan di atas usia 50 tahun sangat jarang, data dari USA menunjukkan pernah ada wanita yang hamil sampai 9 bulan pada usia 56 tahun, sedangkan wanita tertua yang pernah hamil di UK ialah pada usia 54 tahun.

Ber-KB telah Ibu lakukan dengan baik, tapi masalahnya saat ini adalah kapan seorang wanita boleh menghentikan KB-nya?

Pada umumnya, seorang yang telah mengalami menopause (tidak haid berturut-turut selama minimal 1 tahun) tidak dapat hamil lagi, sehingga dapat menghentikan KB–nya apabila ia memakai KB IUD atau KB lain yang bukan hormonal (kondom/ istibra berkala / sanggama terputus). Usia menopause wanita Indonesia sekitar 46,9 tahun, sedangkan pada umumnya sekitar 99 % wanita telah menopause pada usia 55 tahun.

Apabila Ibu memakai KB hormonal (pil, suntik, susuk) dan tidak haid selama 1 tahun, meskipun usia Ibu di atas 40 tahun, belum tentu menunjukkan keadaan menopause. Untuk mengetahui apakah pemakai KB hormonal benar-benar menopause harus diperiksa kadar hormon FSH yang dapat dikonsultasikan pada dokter Ibu. Anjuran umum, bila wanita di atas 50 tahun memakai KB hormonal dan telah berhenti haid selama 1 tahun, dianjurkan tetap memakai KB-nya sampai 1 tahun setelah menopause.

Untuk wanita usia di bawah 50 tahun yang memakai kontrasepsi hormonal dan tidak mendapat haid atau haid-nya tidak teratur, dianjurkan untuk memakai dulu KB nonhormonal, dan baru boleh menghentikan KB-nya 1 tahun setelah menopause.

Kembali pada masalah Ibu, karena Ibu memakai IUD (bukan hormonal) dan telah menopause, Ibu dapat mencabut IUD-nya. Segera hubungi dokter Ibu untuk mengangkat IUD atau penjelasan lebih lanjut bila Ibu memerlukannya.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online


ASI Berdarah?

Dokter Sofie yang terhormat.

Saya (29) baru melahirkan tiga bulan yang lalu dan sedang memberi ASI kepada bayi saya.

Sebelumnya tidak ada masalah dengan pemberian ASI, namun beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang tidak biasanya. Beberapa kali ada darah menetes saat pertama-tama menyusui. Ketika baru-baru ini saya menyedot ASI saya ternyata yang keluar darah dengan jumlah yang cukup banyak, sampai 20 cc.

Saya sudah ke dokter umum, tetapi katanya beliau tidak bisa memberikan diagnosis yang akurat. Dokter menyarankan agar saya berkonsultasi dengan dokter ahli laktasi. Sekarang ini saya merasa sakit dari daerah dada menuju ke puting. Kenapa ya, Dok? Apakah kalau kejadiannya seperti itu, saya masih boleh menyusui?

Terima kasih sebelumnya.

Ibu Dadan di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Dadan yang terhormat.

Syukur alhamdulillah Ibu telah memilih yang terbaik untuk bayi Ibu, yakni menyusui (memberi ASI), dan tetap berkeinginan menyusuinya meskipun mempunyai masalah menyusui.

Air susu berdarah memang hal yang jarang terjadi. Biasanya terjadi pada ibu yang menyusui pertama kalinya terutama minggu pertama, namun dapat juga pada ibu yang sudah menyusui bayi sebelumnya (bukan anak pertama).

Kolostrum berwarna merah jambu (pink) atau coklat kotor seperti darah tua adalah hal yang lebih sering terjadi dari hal yang dikemukakan oleh ibu (berdarah segar sekitar 20cc), demikian juga pada penyusuan berikutnya dapat terjadi air susu ibu berwarna seperti besi karat, karena itu disebut rusty pipe syndrome. Hal ini dapat disebabkan oleh perdarahan di bawah gelanggang susu, misalnya pada puting tenggelam (retracted nipple), puting lecet, atau yang lebih jarang lagi adalah dari pecahnya papiloma (pertumbuhan jinak pada puting susu).

Darah yang segar dan agak banyak harus dicurigai berasal dari intraductal papilloma yakni sejenis pertumbuhan jinak seperti kutil pada puting susu. Biasanya tidak teraba sebagai benjolan dan seringnya tidak menimbulkan nyeri. Perdarahan dapat terjadi karena gesekan baik oleh bra (BH) atau akibat menyusui. Seringnya, perdarahan ini berhenti sendiri dan tidak berbahaya untuk terus menyusui. Namun apabila perdarahan berulang, sebaiknya Ibu menemui dokter spesialis untuk meyakinkan apakah itu benar intraductal papilloma atau hal yang lebih serius.

Dr.dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Kehamilan dan Varises

Masalah :

Ass. wr. wb

DOKTER yang terhormat. Saya sedang hamil anak pertama. Usia kehamilan sekarang memasuki bulan ketujuh.

Dok, kenapa ya akhir-akhir ini saya sering merasa pegal di dekat mata kaki. Setelah saya periksa ke dokter kandungan (sambil memeriksakan kandungan), katanya di kaki saya ada varises. Padahal, sebelumnya saya tidak punya varises dan tidak pernah mendapat keluhan seperti ini.

Berkaitan dengan kejadian ini, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan:

1. Kenapa varises ini bisa terjadi?
2. Apakah varises muncul disebabkan oleh kehamilan? Jika ya, apakah setelah saya melahirkan nanti varises itu masih akan muncul?
3. Bagaimana mengatasi varises ini, minimal mengurangi jumlahnya?
4. Jika saya kelak hamil lagi, apakah varises juga akan muncul lagi lebih banyak?

Atas perhatian Dokter, saya ucapkan terima kasih.

Ny. Adri di Bekasi

 

Jawaban :

Ibu Adri yang terhormat.

Varises adalah pelebaran pembuluh darah balik yang mengalirkan darah dari seluruh tubuh kembali ke jantung. Pembuluh darah balik yang kecil-kecil dari ujung tungkai, akan bermuara ke pembuluh darah balik yang lebih besar dan akhirnya melalui satu pembuluh darah balik ia masuk ke jantung.

Pada saat hamil, terdapat beberapa hal yang membuat dinding pembuluh darah melemah misalnya perubahan hormonal, bendungan akibat tertahannya pembuluh darah balik oleh perut ibu yang membesar. Hal ini menyebabkan pembuluh darah balik melebar, sehingga dipenuhi oleh darah, dan pembuluh darah kadang-kadang berkelok-kelok dan melingkar membentuk benjolan pembuluh darah yang terlihat biru menonjol di permukaan kulit. Keadaan seperti itulah yang disebut varises.

Varises juga dapat terjadi pada wanita yang tidak sedang hamil, terjadinya dapat tidak diketahui/tidak diperhatikan. Genetik, usia ibu, diet kurang serat, kekurangan vitamin, kurang olah raga akan berpengaruh terhadap kejadian varises. Demikian juga pekerjaan yang membutuhkan berdiri lama dan berat badan yang berlebihan menambah risiko perempuan terkena varises.

Varises sering tidak bergejala. Beberapa wanita merasakan pegal dan rasa berat pada kaki, kadang-kadang disertai bengkak.

Varises juga dapat terjadi pada tempat lain. Dalam kehamilan dapat terjadi di daerah vagina dan bibir kemaluan. Bila terjadi peradangan pada varises, penderita akan merasa nyeri. Dapat juga terjadi luka sebagai komplikasinya.

Kebanyakan penderita varises tidak membutuhkan pengobatan. Pengobatan biasanya dibutuhkan bila terjadi komplikasi seperti luka, varises sangat menonjol (kepentingan kosmetik), atau untuk mengurangi rasa nyeri, terutama pada varises sekitar anus (hemorrhoid).

Tindakan pengobatan bisa bermacam-macam. Penderita dapat mengenakan kaus kaki khusus untuk varises, menjalani pembedahan untuk menghilangkan atau memperpendek pembuluh darah balik, menjalani pengobatan dengan suntikan. Pengobatan dengan laser pun bisa dilakukan untuk menutup varises pembuluh darah yang kecil.

Untuk mengatasi varises ini hendaknya penderita berolah raga teratur, diet banyak serat, minum yang banyak, hindarkan berat badan berlebih, hindari berdiri lama, saat istirahat tidak menyilangkan kaki, bergerak/ berjalan sejenak setelah duduk atau berdiri lama, tidur miring atau meninggikan kaki, menghindari mengenakan sepatu berhak tinggi, memakai baju yang santai/ tidak ketat. Upaya-upaya ini akan mengurangi kemungkinan varises dan hemorrhoid.

Meskipun pada kehamilan berikut biasanya varises terjadi lagi, namun setelah persalinan pada umumnya varises vagina dan vulva akan menghilang, sedangkan varises pada tungkai akan berkurang.

Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 21, 2007

Kehamilan dan Varises

Masalah :

Ass. wr. wb

DOKTER yang terhormat. Saya sedang hamil anak pertama. Usia kehamilan sekarang memasuki bulan ketujuh. Dok, kenapa ya akhir-akhir ini saya sering merasa pegal di dekat mata kaki. Setelah saya periksa ke dokter kandungan (sambil memeriksakan kandungan), katanya di kaki saya ada varises. Padahal, sebelumnya saya tidak punya varises dan tidak pernah mendapat keluhan seperti ini.
Berkaitan dengan kejadian ini, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan:

1. Kenapa varises ini bisa terjadi?
2. Apakah varises muncul disebabkan oleh kehamilan? Jika ya, apakah setelah saya melahirkan nanti varises itu masih akan muncul?
3. Bagaimana mengatasi varises ini, minimal mengurangi jumlahnya?
4. Jika saya kelak hamil lagi, apakah varises juga akan muncul lagi lebih banyak?

Atas perhatian Dokter, saya ucapkan terima kasih.

Ny. Adri di Bekasi

 

Jawaban :

Ibu Adri yang terhormat.

Varises adalah pelebaran pembuluh darah balik yang mengalirkan darah dari seluruh tubuh kembali ke jantung. Pembuluh darah balik yang kecil-kecil dari ujung tungkai, akan bermuara ke pembuluh darah balik yang lebih besar dan akhirnya melalui satu pembuluh darah balik ia masuk ke jantung.

Pada saat hamil, terdapat beberapa hal yang membuat dinding pembuluh darah melemah misalnya perubahan hormonal, bendungan akibat tertahannya pembuluh darah balik oleh perut ibu yang membesar. Hal ini menyebabkan pembuluh darah balik melebar, sehingga dipenuhi oleh darah, dan pembuluh darah kadang-kadang berkelok-kelok dan melingkar membentuk benjolan pembuluh darah yang terlihat biru menonjol di permukaan kulit. Keadaan seperti itulah yang disebut varises.

Varises juga dapat terjadi pada wanita yang tidak sedang hamil, terjadinya dapat tidak diketahui/tidak diperhatikan. Genetik, usia ibu, diet kurang serat, kekurangan vitamin, kurang olah raga akan berpengaruh terhadap kejadian varises. Demikian juga pekerjaan yang membutuhkan berdiri lama dan berat badan yang berlebihan menambah risiko perempuan terkena varises.

Varises sering tidak bergejala. Beberapa wanita merasakan pegal dan rasa berat pada kaki, kadang-kadang disertai bengkak.

Varises juga dapat terjadi pada tempat lain. Dalam kehamilan dapat terjadi di daerah vagina dan bibir kemaluan. Bila terjadi peradangan pada varises, penderita akan merasa nyeri. Dapat juga terjadi luka sebagai komplikasinya.

Kebanyakan penderita varises tidak membutuhkan pengobatan. Pengobatan biasanya dibutuhkan bila terjadi komplikasi seperti luka, varises sangat menonjol (kepentingan kosmetik), atau untuk mengurangi rasa nyeri, terutama pada varises sekitar anus (hemorrhoid).

Tindakan pengobatan bisa bermacam-macam. Penderita dapat mengenakan kaus kaki khusus untuk varises, menjalani pembedahan untuk menghilangkan atau memperpendek pembuluh darah balik, menjalani pengobatan dengan suntikan. Pengobatan dengan laser pun bisa dilakukan untuk menutup varises pembuluh darah yang kecil.

Untuk mengatasi varises ini hendaknya penderita berolah raga teratur, diet banyak serat, minum yang banyak, hindarkan berat badan berlebih, hindari berdiri lama, saat istirahat tidak menyilangkan kaki, bergerak/ berjalan sejenak setelah duduk atau berdiri lama, tidur miring atau meninggikan kaki, menghindari mengenakan sepatu berhak tinggi, memakai baju yang santai/ tidak ketat. Upaya-upaya ini akan mengurangi kemungkinan varises dan hemorrhoid.

Meskipun pada kehamilan berikut biasanya varises terjadi lagi, namun setelah persalinan pada umumnya varises vagina dan vulva akan menghilang, sedangkan varises pada tungkai akan berkurang.

 Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 20, 2007

Kanker Payudara dan Rahim

Kanker Payudara Dapat Dicegah

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dokter Zubairi yang baik,

Kakak perempuan saya sedang menjalani pengobatan kemoterapi kanker payudara, setelah operasi yang dilanjutkan dengan radioterapi. Proses yang amat melelahkan dan stres untuk seluruh keluarga besar kami.

Saya takut sekali, jangan-jangan saya akan mengalami nasib serupa. Dari bacaan yang saya dapat, saya menjadi tahu bahwa kanker payudara dapat dan cukup sering menyebabkan kematian. Sementara faktor yang memudahkan timbulnya kanker payudara antara lain kegemukan. Apakah benar? Untuk dokter ketahui, berat badan saya 60 kg dan tinggi 155 cm, umur saya 41 tahun.

Pertanyaan saya apakah benar kanker payudara dapat dicegah? Bagaimana caranya?

Diana, Jakarta

 

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Mbak Diana Yang baik,

Memang benar, kanker payudara sering menyebabkan kematian. Sebetulnya, penyakit ini dapat dicegah, dan bila ditemukan pada tahap awal dapat disembuhkan dan angka kematian menjadi kecil. Ilmu kedokteran telah mencapai kemajuan pesat sekarang ini untuk pencegahan kanker payudara maupun untuk pengobatannya.

Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada wanita, baik di Indonesia, di Amerika maupun di banyak negara lain. Di Amerika misalnya, pada tahun 2000, ditemukan sekitar 180 ribu pasien baru kanker payudara dan 40 ribu wanita meninggal karena kanker ini pada tahun yang sama. Di Indonesia urutan kanker tersering menurut registrasi berdasarkan rumah sakit oleh POI-YKI (Perhimpunan Onkologi Indonesia-Yayasan Kanker Indonesia) tahun 2006 adalah sebagai berikut: kanker payudara, serviks, nasofaring, limfoma malignum, leher dan kepala, ovarium, paru, usus besar, prostat, dan jaringan lunak.

Angka kematian karena kanker payudara dapat ditekan sampai minimal, bila didiagnosis pada tahap dini, tahap awal. Pemeriksaan mamografi merupakan metode yang paling efektif untuk mendeteksi dini kanker payudara. Beberapa uji klinik membuktikan bahwa uji saring dengan mamografi dapat menekan angka kematian sebesar 20-39 persen untuk wanita usia 50-74 tahun. Sedangkan untuk usia 40-49 tahun, angka kematian turun menjadi 17 persen.

Kanker payudara dapat dicegah. Ada faktor yang memudahkan timbulnya kanker payudara yang bisa diperbaiki. Misalnya kelebihan berat badan. Bila badan kita upayakan tidak gemuk dengan olahraga teratur dan diet, khususnya pada wanita yang sudah menopause, terbukti merupakan upaya ampuh untuk mencegah kanker payudara. Apalagi bila kita lengkapi dengan makan sayur tiga kali sehari dan makan buah tiga kali sehari.

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa makan sayur, buah, olahraga, dan menjaga berat badan tidak kegemukan dapat mencegah timbulnya berbagai kanker (khususnya kanker payudara), bahkan juga mencegah stroke dan serangan jantung.

Memang ada beberapa faktor risiko yang tidak bisa kita intervensi, misalnya riwayat keluarga kanker payudara, riwayat penyakit payudara sebelumnya, etnik dan ras serta densitas payudara. Artinya, kita tidak bisa menghilangkan ada riwayat salah satu anggota keluarga yang telah sakit kanker payudara, demikian pula asal kita dari ras atau etnik.

Bila hanya ada satu anggota keluarga Mbak Diana yang sakit kanker payudara, tidak usah khawatir. Kanker bukan penyakit keturunan. Walaupun memang ada kekecualian, yaitu sekitar 7 persen pasien kanker payudara cenderung menurun dalam keluarga bila ada tiga orang yang sakit kanker payudara. Di keluarga Mbak Diana hanya ada satu, jadi bukan jenis kanker payudara yang cenderung menurun.

Mengenai berat badan Mbak Diana, ya memang kelebihan sedikit, ada baiknya diusahakan turun. Tetapi jangan terlalu dipikirkan mengenai berat badan ini, selama Anda setiap hari makan banyak sayur dan buah, dan olahraga atau paling tidak berjalan cepat setengah jam setiap hari. Selain itu, karena usia Mbak Diana sudah lebih dari 40 tahun, saya anjurkan untuk check up, yang dilengkapi dengan skrining kanker payudara, dengan mamografi misalnya.

Dr Zubairi Djoerban

 

Sumber : Republika Online

 


Kista Ovarium

Masalah :

Dokter, beberapa hari lalu saya diperiksa ke laboratorium (”general check up”). Hasil pemeriksaan darah, thorax, dan lain-lainnya bagus. Namun, ada satu yang mengganjal, ketika di-USG, kata dokter yang memeriksa, di rahim saya ada sesuatu massa yang diperkirakan kista kira-kira 2 mm. Namun demikian, dokter yang menganalisis pun terlihat masih ragu. Oleh karena itu, saya ingin bertanya kepada Dokter.

1. Apakah saya harus mengecek ulang?
2. Dengan cara apa saya harus mengecek ulang, apakah USG lagi di dokter yang lain?
3. Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa massa itu memang kista, yang ganas maupun jinak?
4. Bagaimana penanganan terhadap kista tersebut?

Terima kasih atas perhatiannya.

Ny. Arinda di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Arinda yang terhormat,

Yang dimaksud dengan kista ovarium adalah suatu rongga berisi cairan pada indung telur.

Kista pada ovarium sering merupakan gambaran fungsi ovarium yang normal.

Fungsi ovarium setelah pubertas adalah membentuk telur yang matang yang berada dalam folikel graaf. Telur tersebut dikelilingi oleh cairan sampai ia keluar dari folikel (ovulasi). Besarnya folikel yang berisi cairan tersebut rata-rata sampai 20 mm (2 cm), kadang-kadang lebih besar. Pada wanita dengan fungsi ovarium yang normal, folikel ini akan terbentuk setiap siklus haid. Lalu kira-kira 14 hari sebelum haid yang akan datang, akan ovulasi, sehingga apabila ditemukan bentuk kista sekitar 2 cm dalam ovarium saat masa subur, kemungkinan kista tersebut merupakan kista folikel yang sama sekali tidak berbahaya.

Kista folikel dapat mencapai ukuran kurang dari 5 cm. Apabila ukuran kista lebih dari 5 cm, dugaan bahwa kista tersebut adalah neoplasma (tumor, pertumbuhan jinak) harus dipikirkan. Apabila pada evaluasi selanjutnya kista terus menetap dan membesar sampai lebih dari 6 cm, kista tersebut dapat didiagnosis sebagai neoplasma (tumor jinak) dan dapat diangkat dengan cara operasi, baik secara laparoskopi (dengan alat teropong) atau laparotomi (membuka perut).

Selain kista folikel, kista yang berhubungan dengan fungsi ovarium juga sering ditemukan, bahkan pada saat hamil muda (kista lutein) yang besarnya bisa mencapai sekitar 6 cm. Kista ini tidak berbahaya, tidak perlu diangkat, dan akan mengecil dengan bertambahnya usia kehamilan.

Pada umumnya, kista tidak memberikan gejala apa pun, terutama bila ukurannya kecil. Kista fungsional yang terlalu besar (lebih dari 6 cm), dapat terpuntir dan menyebabkan nyeri perut akut. Dalam keadaan seperti ini kista harus diangkat.

Bentuk kista lainnya adalah kista endometriosis/kista cokelat. Kista tersebut sering berhubungan dengan nyeri haid atau subfertilitas (berkurangnya kesuburan). Kista lainnya adalah dermoid yang dapat berisi rambut, gigi, tulang, cairan pekat kental seperti sekret kelenjar keringat/sebum dll.). Kista dermoid harus diangkat (secara operatif), karena dapat menimbulkan infeksi atau kista terpuntir. Kista tumor (neoplasma) pada umumnya jinak, keganasan pada ovarium lebih sering membentuk tumor pada ovarium dan lebih sering terjadi pada usia tua.

Menurut hasil USG , kista pada ovarium ibu besarnya 2 mm (apa bukan 2 cm?), belum menunjukkan hal-hal yang mencemaskan. Mungkin hanya suatu kista folikel. Ibu dapat mengevaluasi apakah kista tersebut tetap ada, menghilang, atau membesar sekitar 3-6 bulan kemudian.

Pemeriksaannya daat dilakukan dengan USG. Untuk kista kecil pemeriksaan USG melalui jalan lahir (transvaginal) akan lebih baik. Apabila ibu ragu-ragu, dapat meminta konfirmasi USG di tempat lain.

 Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

 

 

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 15, 2007

KB

 Periksa KB Harus Rutin?

Masalah :

Dokter yang terhormat.

SAYA berusia 42 tahun, pemakai IUD cooper T sejak empat tahun lalu, untuk jangka waktu 5 tahun. Selama itu, saya tidak pernah melakukan kontrol kepada dokter kandungan, karena saya dan suami merasa tidak ada masalah dengan KB saya.

Apakah tindakan saya itu benar, tidak pernah memeriksakan diri ke dokter? Kalau harus memeriksakan alat KB, dalam kurun waktu berapa lama? Dalam usia saya sekarang, sebenarnya apa saja yang mesti saya periksakan secara teratur agar badan saya tetap sehat?

Sekadar tambahan informasi, kakak perempuan saya meninggal karena kanker payudara.

Terima kasih atas perhatiannya.

Ny. M. Anwar di Bandung

Jawaban :

Ibu Anwar yang terhormat.

TIDAK merasa ada masalah dengan KB belum tentu Ibu tidak mempunyai masalah lain yang menyangkut kandungan. Cukup sering ibu-ibu yang merasa tidak bermasalah ternyata mempunyai masalah pada saat ia melakukan pemeriksaan ke dokter. Misalnya saja, masalah kanker mulut rahim, banyak sekali wanita yang baru mengetahui mendapat kanker mulut rahim setelah stadiumnya lanjut, dan alasan ia tidak memeriksakan diri adalah tidak merasa ada masalah.

Masalah yang berhubungan dengan KB IUD umumnya masalah haid, keputihan, atau peradangan panggul. Umumnya, ibu yang memakai KB IUD haidnya lebih lama, lebih banyak, siklusnya lebih pendek, dan sering ada perdarahan bercak di luar haid. Gejala- gejala tersebut juga dapat merupakan akibat penyakit kandungan lain seperti mioma, polip serviks, erosi mulut rahim yang berat, bahkan kanker mulut rahim.

Gejala lain yang sering dianggap hal biasa oleh pemakai KB IUD adalah keputihan atau keluarnya cairan dari vagina yang berlebihan. Lendir berlebih akibat IUD biasanya bening, seperti air liur dan tidak berbau. Sering kali jenis keputihan lain akibat infeksi diduga sebagai efek samping IUD dan tidak dianggap sebagai penyakit, padahal itu dapat merupakan gejala radang mulut rahim atau bahkan tanda keganasan.

Kadang-kadang ada juga ibu yang ber-KB IUD tetapi hamil, karena posisi IUD dalam rahim berubah atau IUD lepas sebagian atau seluruhnya.

Yang harus Ibu lakukan adalah memeriksakan KB minimal 6 bulan sekali dan melakukan pemeriksaan Pap smear (deteksi dini kanker mulut rahim) setahun sekali.

Wanita seusia Ibu, sebaiknya sudah melakukan pemeriksaan kesehatan umum yang menyeluruh (general medical check up). Hal itu untuk mengetahui apakah ada penyakit yang Ibu derita dan tidak disadari gejalanya. Apabila dalam keluarga ada yang menderita atau meninggal karena kanker, saudara-saudaranya harus waspada dan memeriksakan diri secara teratur untuk deteksi dini.

Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

 


Peranakan Bisa Turun?

Masalah :

DOKTER Sofie, saya wanita 40 tahun. Kalau saya mengangkat benda-benda agak berat sering terasa sakit di bawah perut. Jika sudah begitu, saya mengangkat kaki ke atas (disenderkan ke tembok), agak lumayan.

Kata ibu saya, itu karena peranankan turun. Apakah benar ada istilah peranakan turun? Bagaimana cara mengatasinya?

Terima kasih.

Ny. Ida Z . di Bandung

 

Jawaban :

Ibu Ida yang terhormat.

ISTILAH peranakan turun memang ada, dan istilah kedokterannya adalah prolaps uteri.

Rahim wanita dipertahankan kedudukannya di dalam rongga panggul oleh otot-otot penyangga/ ligamen yang menjaga rahim tetap pada tempatnya. Namun demikian, ada faktor-faktor yang dapat melemahkan otot-otot penyangga dan ligamen tersebut sehingga rahim dapat turun, bahkan dapat keluar dari jalan lahir. Pekerjaan ibu yang berat, penyakit-penyakit menahun yang meningkatkan tekanan di dalam perut seperti batuk-batuk yang lama, sering melahirkan, robekan jalan lahir akibat persalinan yang tidak dijahit dengan baik, persalinan lama, adanya tumor dalam perut, atau faktor keturunan dapat merupakan faktor penyebab turunnya rahim.

Gejala yang dapat dirasakan antara lain rasa berat, pegal, tidak nyaman, atau nyeri di bagian perut bawah, sering kencing, kencing tidak puas, atau perasaan ingin kencing terus. Cara mencegahnya adalah menghindarkan faktor risiko tersebut di atas, senam kegel (otot vagina), mengobati batuk-batuk kronis, hindari mengangkat beban berat. Apabila memang telah terjadi dan tidak dapat diatasi dengan senam, tidakan operatif dapat dilakukan.

Dr. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, Sp.O.G.

 

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment