Pipi Bayi Berbintik-bintik Merah
Masalah :
Ass. Wr. Wb.
Dokter Azhali yang terhormat.
Dokter, bayi saya baru berumur 3 bulan, secara umum dia sehat dan tubuhnya tumbuh sesuai dengan usianya.
Namun, akhir-akhir ini ada yang membuat saya khawatir. Di sekitar mulut dan pipi bayi saya, ada bintik-bintik kemerahan. Beberapa di antara bintik-bintik itu terlihat seperti ada "isinya".
Tampaknya dia merasa gatal karena tangannya seperti ingin menggaruk pipinya yang tembem.
Dok, kenapa ya anak saya itu? Selama ini saya hanya memberi bedak tabur bayi. Saya pikir itu bisa mengurangi rasa gatalnya. Akan tetapi, bintik-bintik itu kini masih tampak.
Bagaimana solusinya? Berbahayakah penyakit ini?
Terima kasih atas perhatian Dokter.
Ny. Mira-Bandung
Jawaban :
Ass. Wr. Wb.
Ibu Mira yang terhormat.
Tampaknya bayi Ibu mengalami dermatitis atopik (DA) yang diketahui muncul (50%) pada masa bayi di bagian wajah, kepala, telinga, leher, dan pipi.
Bila anak makin bertambah usia, biasanya bintik-bintik itu dapat ditemukan pada lipatan lengan dan tungkai. Tentu saja bayi akan merasa gatal dan biasanya bertambah gatal pada malam hari. Rasa gatal itu juga muncul bila ada rangsangan dari garukan, rangsangan keringat, udara kering, bahan iritan (sabun, detergen), atau bila terinfeksi oleh bakteri.
Timbulnya DA dapat dipicu oleh alergi makanan atau alergi terhadap inhalan (bahan yang terhirup oleh hidung). Perlu diketahui bahwa DA terjadi pada bayi yang ibunya memiliki riwayat alergi pula, seperti asma.
Beberapa cara dapat mengurangi rasa gatal akibat DA, namun diharapkan Ibu menghindari pemberian bedak (talk) karena mungkin dapat mengiritasi kulit bayi.
Kejadian DA juga dapat dikurangi dengan menambah kelembapan pada kulit bayi. Hal ini bisa dilakukan melalui penggunaan krim bayi, memberinya sabun tanpa detergen, memberikan pakaian yang menyerap keringat dan halus, serta menjaga ventilasi yang baik.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan DA dengan alergi makanan, seperti telur, susu sapi, serta kacang, khusus mengenai hal ini alangkah baiknya Ibu menghubungi dokter spesialis anak untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut. Saya juga sangat menganjurkan pemakaian ASI untuk bayi Ibu.
Untuk pengobatan selanjutnya adalah pemberian salep kulit yang mengandung bahan glukokortikoid. Akan tetapi, untuk pemakaian salep ini, saya mohon agar Ibu datang ke dokter yang biasa menangani bayi Ibu. Dengan demikian, kesehatan bayi Ibu terpantau dengan baik.
Prof.Dr. H. Azhali, M.S., Sp.A(K)
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Bayi Hanya Minum ASI
Masalah :
Prof. Azhali yang terhormat.
SAYA memiliki anak berumur 4 bulan. Hingga kini anak saya itu minum ASI dan belum diberi makanan tambahan. Bayi saya juga bahkan tidak minum susu formula.
Saya ingin menanyakan berapa lama sebaiknya bayi diberi ASI eksklusif?
Saya sering berpikir apakah bayi saya itu tidak kekurangan makanan jika hanya minum susu? Selama ini sih, jika diperhatikan berat badannya terus naik kok, dan pipinya pun terlihat segar.
Ada satu lagi masalah saya, kenapa bayi saya itu ngiler terus, Dok?
Terima kasih atas perhatian Dokter.
Ny. Puji di Bandung
Jawaban :
Ibu Puji yang terhormat.
AIR susu ibu atau ASI eksklusif merupakan pemberian ASI saja sampai bayi berumur 4 sampai dengan 6 bulan. Pemberian ASI selama 4 bulan atau 6 bulan tergantung keadaan ibu dan bayinya. Bila ASI banyak dan bayi tumbuh serta berkembang dengan baik, pemberian ASI saja boleh sampai enam bulan. Akan tetapi, kalau setelah 4 bulan produksi ASI berkurang atau tumbuh kembang bayi kurang baik, bayi perlu diberi makanan tambahan.
Sementara, bayi yang ngiler berarti produksi kelenjar air liurnya berlebihan. Kondisi ini bisa terjadi sementara maupun berkelanjutan, tergantung faktor penyebabnya. Bisa jadi, ngiler adalah sesuatu yang normal. Namun bisa juga bayi terkena infeksi tertentu, misalnya infeksi yang disebabkan oleh jamur, virus, maupun bakteri. Jika memang infeksi biasanya mulut bayi terlihat merah atau ada bercak-bercak putih dan berbau.
Jika keadaan tersebut berlanjut, sebaiknya Ibu membawa bayi Ibu ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.
Prof.Dr. H. Azhali, M.S., Sp.A(K)
Sumber : Pikiran Rakyat Online
Tags: Balita, dr. H. Azhali, Pikiran Rakyat Onlline