April 18, 2008

Tips Agar Gigi Tetap Sehat

Tanya:

Dokter tips dan cara agar gigi kita selalu sehat bagaimana ya, terimakasih.

BGM, Sekadau

Jawab:

Gigi sehat adalah gigi yang bersih tanpa lubang. Maka dengan merawat gigi secara baik dan teratur seperti sudah diterangkan sebelumnya. Kalau ada gigi yang berlubang, segera ditambal. Pasti gigi selalu sehat.

Apa saja kerusakan gigi yang terjadi karena faktor makanan/minuman? Makanan yang manis seperti coklat dan lengket seperti dodol kalau tidak segera disikat/kumur akan tertinggal dan menyebabkan kerusakan gigi. Juga minuman seperti teh, kopi, minuman ringan (coca-cola dsbnya), serta rokok dapat menimbulkan lapisan tipis di gigi yang disebut stain sehingga warna gigi jadi kusam, kecoklat-coklatan.

Lapisan stain yang kasar itu mudah ditempeli sisa-sisa makanan dan kuman, yang akhirnya membentuk plak, jika tidak dibersihkan akan mengeras dan menjadi karang gigi (calculus) dan bisa merambat ke akar gigi. Akibatnya gigi mudah berdarah, gigi gampang goyah dan mudah tanggal. Juga bisa terjadi abses atau bengkak pada gigi tersebut.

Sebaiknya sesudah makan/minum yang telah disebutkan tadi kita berkumur atau sikat gigi. Apa yang harus dilakukan atau bagaimana cara merawat gigi pada manula? Lebih sering kontrol ke dokter gigi, sebab: Pada manula gigi lebih rapuh karena email semakin tipis, sehingga lebih dekat ke lapisan bawahnya yaitu dentin yang lebih lunak dari email.

Lebih banyak komplikasi-komplikasi penyakit usia lanjut yang terjadi pada gigi. Misalnya diabetes melitus (kencing manis) yang dapat menyebabkan gigi-gigi goyang dan gusi mudah berdarah. Mengganti gigi-gigi yang hilang karena dicabut dengan gigi palsu, baik yang cetak maupun yang lepasan, supaya fungsi-fungsi gigi dapat dipulihkan seperti:

1. Estetis: kalau banyak gigi yang hilang, pipi terlihat peyot dan kelihatan lebih tua.

2. Pengunyahan: sehingga tidak terjadi penyakit pencernaan.

Suara: terutama jika kehi-langan gigi bagian depan.

3. Pede atau percaya diri: kalau gigi ompong, akan mudah minder.

Bila ada masalah gigi berlubang dan ada makanan masuk ke lubang, apa boleh menggunakan tusuk gigi?Kalau ada makanan masuk ke dalam lubang gigi pasti amat tidak menyenangkan, tidak enak, kadang-kadang sakit. Keluarkan dengan tusuk gigi yang bersih, tapi sesudah itu datang ke dokter gigi untuk dirawat dan ditambal.

Apabila orang baru mencabut gigi apakah bisa menular pada gigi lain? Bila sesudah pencabutan, gigi tidak diganti dengan gigi palsu, maka gigi yang ada di kanan kirinya akan bergeser ke arah gigi yang baru dicabut, akibatnya gigi menjadi renggang, sisa-sisa makanan banyak yang terselip di sana, susah untuk dibersihkan, yang akhirnya sisa-sisa makanan tersebut akan membusuk, menyebabkan bau mulut tidak sedap dan suasana mulut asam, banyak kuman yang mengakibatkan terjadinya kerusakan atau lubang pada gigi tersebut.

Jadi bukan menular tetapi dapat menyebabkan kerusakan pada gigi yang lain. Bagaimana cara menggairahkan anak-anak balita agar rajin menggosok gigi?Dengan memperlihatkan gambar-gambar yang menarik mengenai gigi, berikan contoh orang-orang dewasa disekitarnya bahwa dengan menggosok gigi, gigi akan menjadi sehat dan tidak mudah sakit gigi.

Diberi odol dan sikat gigi yang berwarna-warni dan enak rasanya, misalnya odol berwarna pink dengan rasa strawberry. Tentu saja semua sikat gigi dan odol yang dipergunakan tentu sudah disetujui oleh Depkes dan tidak ada efek sampingan dan tidak berbahaya.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Apa Sebenarnya Glaukoma?

Tanya:

Ibu dokter, saya wanita usia 35 tahun ingin mengetahui lebih banyak tentang penyakit glaukoma. Apa sebenarnya glaukoma? Saat ini dikatakan saya juga menderita glaukoma. Saya sangat takut, karena glaukoma bisa menyebabkan kebutaan. Kurang lebih 2 tahun yang lalu bapak saya juga mengalami kebutaan akibat glaukoma.

Marieta, Pontianak

Jawab:

Marieta, glaukoma adalah kondisi gangguan mata yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata, sehingga menyebabkan kerusakan syaraf optik yang memicu penurunan daya penglihatan. Normalnya mata kita membutuhkan sejumlah tekanan tertentu agar dapat berfungsi baik. Pada orang tertentu, tekanan bola mata ini dapat meninggi sehingga menyebabkan kerusakan pada saraf optik.

Glaukoma disebut sebagai pencuri penglihatan karena berkembang tanpa ditandai dengan gejala yang nyata. Oleh karena separuh dari penderita glaukoma tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Biasanya nanti diketahui saat penyakitnya sudah lanjut dan telah kehilangan penglihatan.

Berhubung kerusakan yang disebabkan oleh glaukoma tidak dapat diperbaiki, maka deteksi dini, diagnosis dan perawatan harus dilakukan sedini mungkin.

Walaupun belum sepopuler katarak, glaukoma tidak kalah berbahaya. Di Indonesia, kini glaukoma sudah menjadi penyebab kebutaan nomor dua setelah katarak dengan angka prevalensi 0,20 %, sementara katarak 0,78 %.

Sekitar 90% masyarakat Indonesia tidak tahu soal glaukoma. Ini menunjukkan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat tentang glaukoma. Yang memprihatinkan adalah jumlah penderitanya terus meningkat. Dari data yang ada di Indonesia, glaukoma diderita oleh 3% dari total populasi penduduk.

Dampaknya, sekitar 50% masyarakat yang berobat ke rumah sakit, rata-rata sudah mencapai stadium lanjut. Tahun ini untuk pertama kalinya di seluruh dunia dilakukan peringatan Hari Glaukoma Dunia yang merupakan inisiatif dari Asosiasi Glaukoma Dunia (WGA) dan Asosiasi Pasien Glaukoma Dunia (WGPA). Melalui pencanangan ini diharapkan jumlah kebutaan karena glaukoma di Indonesia dapat dikurangi.

Glaukoma disebabkan oleh tingginya tekanan bola mata akibat sudut bilik mata bagian depan sebagai saluran keluarnya cairan bola mata tersumbat, akibatnya cairan tidak bisa keluar dan tekanan dalam mata (TIO) meningkat, sehingga menyebabkan kerusakan saraf optik.

Saraf optik ini berfungsi menyambung jaringan–jaringan penerima cahaya dengan bagian otak yang memproses informasi penglihatan. Glaukoma menyebabkan hilangnya penglihatan. Apabila telah terjadi hilangnya penglihatan akibat glaukoma maka keadaan ini tidak dapat disembuhkan kembali.

Tetapi proses ini dapat dicegah dengan obat-obatan, terapi laser dan pembedahan. Oleh sebab itu penting sekali pencegahan atau menghentikan proses hilangnya penglihatan ini. Sehingga kalau tiba-tiba pandangan kabur, mata merah dan terasa nyeri sebaiknya segera ke dokter mata. Bisa jadi itu gejala glaukoma.

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 17, 2008

Kelainan Kulit Akibat Alergi Obat

Tanya:

Dokter yang terhormat, saya ingin mengetahui berbagai kelainan kulit akibat alergi obat dan obat-obat apa saja yang bisa menyebabkan hal tersebut, karena saya pernah mendengar ada alergi obat yang bisa menimbulkan kematian. Bagaimana cara pencegahannya agar kita terhindar dari alergi obat tersebut? Terimakasih

Sany, Pontianak

Jawab:

Adik Sany kasus alergi obat dewasa ini sering terjadi mulai dari yang gejala ringan berupa bercak merah gatal sampai gejala yang sangat berat berupa pengelupasan kulit dan mukosa serta kerusakan berbagai organ yang dapat mengancam jiwa bahkan dapat menimbulkan kematian.

Erupsi obat alergi pada kulit atau daerah mukokutan yang terjadi akibat pemberian obat secara sistemik yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung, vagina, dan suntikan. Reaksi kulit terhadap obat dapat terjadi melalui mekanisme inunologi dan non imunologi. Erupsi obat alergi terjadi melalui mekanisme imunologik, secara umum terdapat empat tipe reaksi alergi yaitu: reaksi anafilaktik, reaksi sitotoksik, reaksi komplek imun, dan reaksi alergi selular tipe lambat.

Secara klinis erupsi alergi obat dapat menampakkan berbagai bentuk, alergi terhadap satu macam obat dapat memberi gambaran klinis yang beraneka ragam, sebaliknya gambaran klinis yang sama dapat disebabkan oleh alergi berbagai macam obat. Berikut ini berbagai kelainan kulit akibat alergi obat:

1. Syok anafilaksis

Syok anafilaksis merupakan reaksi alergi tipe cepat, obat yang masuk ke dalam badan dapat menimbulkan reaksi cepat berupa syok kadang tidak terdapat kelainan kulit. Obat yang sering menimbulkan syok anafilaksis antara lain obat suntik golongan penisilin. Untuk menghindari hal tersebut maka setiap hendak menyuntikkan obat maka selalu dilakukan skin tes. Bila pada skin tes tampak edema maupun kemerahan yang meluas disekitar tempat yang suntikkan maka sebaiknya tidak dilakukan penyuntikkan karena dapat menimbulkan syok anafilaksis.

2. Urtikaria

Bentuk alergi obat tipe cepat yang lain adalah tipe urtikaria. Urtika atau biduran berupa bentol bentol merah terasa panas dan gatal muncul setelah beberapa saat minum obat tertentu. Obat yang sering menimbulkan urtikaria antara lain bebrapa jenis antibiotik dan analgesik.

3. Fixed Drug Eruption

Erupsi kulit akibat alergi obar tipe ini selalu muncul kelainan kulit di tempat yang sama. Kelainan kulit berupa kulit kemerahan, vesikel/bula atau ulkus biasanya terjadi pada kemaluan atau bibir. Bila sembuh akan meninggalkan bercak hitam/hiperpigmentasi yang sering menetap/sulit hilang. Kelainan kulit ini akan muncul di tempat yang sama bila minum obat yang sama pernah menyebabkan alergi. Berbagai obat yang dapat menyebabkan FDE antara lain: obat-obat golongan barbiturat, sulfonamid, tetrasiklin, salisilat dan NSAID (berbagai obat eanalgesik dan antiinflamasi).

4. Tipe makulopapular

Erupsi obat tipe makulopapular ditandai dengan kemerahan pada kulit yang tersebar pada seluruh badan dengan berbagai ukuran. Kulit terasa gatal dan panas. Obat yang sering menimbulkan alergi tipe ini antara lain golongan antibiotik dan obat penghilang nyeri serta beberapa jenis obat tranquilizer.

5. Eritroderma

Erupsi kulit akibat alergi obat berbentuk eritroderma dermatitis eksfoliatif ditandai dengan kemerahan seluruh badan disertai pengelupasan kulit berbentuk sisik seluruh tubuh Penderita sering demam dan menggigil. Berbagai obat yang sering menimbulkan antara lain golongan antibiotik, obat penghilang rasa nyeri/analgesik.

Sindrom Steven Johson dan Toksik Epidermal Nekrolizing

Sindrom Steven Johnson (SJS) dan toksik epidrmal nekolizing (TEN) merupakan kasusalergi obat yang berat dan dapat menimbulkan kematian. Pada kasus SJS dan TEN ditandai dengan pengelupasan kulit epidermal.

Seluruh tubuh dan peradangan berat pada seluruh jaringan mukosa, penderita demam tinggi. Diagnosis kedua penyakit ini sering overlap namun untuk kasus TEN biasanya lebih berat yaitu adanya pengelupasan epidermal kulit lebih dari 30% luas tubuh.

Pada SJS kulit badan mengelupas semua dan berdarah disertai mulut dan bibir dan kemaluan berdarah-darah dan matanya juga berdarah serta lengket sedangkan pada TEN keluhan kulit seperti luka bakar hampir seluruh tubuh. Kulit tampak terbakar hitam disertai luka-luka pada mulut, kemaluan dan tidak dapat menelan makanan.

Obat yang sering menyebabkan SJS dan TEN antara lain: golongan sulfa, alopurinol, karbamazepin, penilbutazon, piroksikam, aminopilin.

Beberapa langkah untuk menghindari alergi obat antara lain:

1. Bila seseorang minum obat tertentu dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman baik berupa gatal, kemerahan, bentol-bentol, demam, menggigil adalah menghentikan pemakaian obat tersebut. Kulit adalah etalase tubuh jadi bila ada sesuatu yang tidak beres dibadan reaksi akan tampak di kulit.

2. Jangan memakai obat yang tidak diketahui manfaatnya yang hanya berdasarkan kata orang yang tidak tahu tentang obat, karena anda dapat minum obat yang sama namun merk dagangnya berbeda. Ingat alergi obat ini dapat terjadi bukan hanya akibat dari obat yang diresepkan namun juga obat-obat herbal/tradisional karena obat ini sering juga dicampur dengan obat anti nyeri.

3. Bila terjadi muncul reaksi yang tidak diinginkan hubungi dokter yang memberikan obat tersebut sehingga segera dapat diambil langkah untuk mengantisipsinya.

4. Bila anda sudah dinyatakan dicurigai alergi obat tertentu maka kemanapun anda berobat harus memberitahukan kepada dokter/paramedis agar tidak diberikan obat yang isinya sama karena akan menyebabkan reaksi yang lebih berat.

Pada kasus alergi obat penderita harus segera menghentikan obat yang dicurigai, dan harus segera hubungi dokter untuk mendapatkan pengobatan. Pada kasus dermatitis eksfoliatif SJS dan TEN penderita harus dirawat inap dan mendapatkan penangan yang cepat.

Berdasarkan hal di atas berhati-hatilah dalam pemakaian obat, karena obat dapat menjadi bumerang tidak menyembuhkan namun dapat meracuni.

Ingat bahwa obat hanyalah sarana membantu penyembuhan, yang penting jagalah kesehatan dengan gaya hidup yang sehat dan benar karena pepatah bijak mengatakan hati yang gembira adalah obat, tetapi semangat yang patah keringkan tulang.

Demikianlah bila kurang jelas atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah kulit dan kelamin dapat menghubungi:hp 0818464018 atau pontianak post atau poli Kulit dan Kelamin RS Soedarso/ RS Antonius atau apotek Mitra jl Jend Urip.

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 15, 2008

Obat Semprot, Bikin Ketagihan?

Tanya :

Dok, saya pengidap asma sejak kecil terutama bila minum es dan kalau hujan. Saya biasa minum obat asma yang dijual bebas. Akhir-akhir ini serangan asma saya semakin sering, saya ke dokter dan disarankan untuk menggunakan obat semprot, tapi saya takut karena banyak yang bilang obat semprot akan membuat ketagihan. Apa benar dok dan saya mesti minum obat atau pakai obat semprot? Terima kasih

Nn W, 19 thn, Ptk

Jawab :

Asma adalah penyakit radang kronik saluran napas yang menyebabkan saluran napas hipersensitif terhadap berbagai allergen (zat/bahan yang menyebabkan alergi). Asma bukan penyakit menular dan asma terjadi karena faktor keturunan yang disebabkan oleh gen yang jumlahnya ratusan. Alergen atau zat yang mencetuskan asma bervariasi tiap individu.

Gejala serangan asma yaitu sesak napas, rasa berat di dada, batuk dan napas yang berbunyi (mengi, bengek). Frekuensi dan beratnya serangan asma bervariasi. Beberapa penderita lebih sering terbebas dari gejala dan hanya mengalami serangan serangan sesak nafas yang singkat dan ringan, yang terjadi sewaktu-waktu.

Tujuan pengobatan penyakit asma adalah membebaskan penderita dari serangan penyakit asma. Hal ini dapat dicapai dengan jalan mengobati serangan penyakit asma yang sedang terjadi atau mencegah serangan penyakit asma jangan sampai terjadi.

Mengobati disini bukan berarti menyembuhkan penyakitnya, melainkan menghilangkan gejala-gejala yang berupa sesak, batuk, atau mengi. Keadaan yang sudah bebas gejala penyakit asma ini selanjutnya harus dipertahankan agar serangan penyakit asma tidak sering kambuh. Obat-obatan bisa membuat penderita penyakit asma menjalani kehidupan normal.

Obat obat asma terbagi 2 yaitu pelega yang bertujuan untuk mengendalikan serangan penyakit asma segera dan obat yang berfungsi untuk mengontrol supaya serangan asma tidak sering terjadi. Pengobatan berbeda tergantung beratnya, biasanya obat semprot lebih cepat. Obat golongan Beta-2 Agonis (bronkodilator) dan steroid lebih kuat.

Sebaiknya gunakan obat semprot karena lebih aman bila dibandingkan obat minum atau suntik. Cuma karena kurangnya informasi dari dokter, banyak informasi salah yang menyebutkan bahwa obat semprot malah membuat ketagihan.

Obat semprot atau hirup relative lebih aman karena dosisnya lebih kecil dibandingkan obat minum atau suntik serta langsung ke saluran napas si penderita. Selain itu karena dosis kecil jadi efek samping juga relative lebih kecil dibandingkan obat minum atau suntik. Bila serangan asma hampir tiap hari, obat yang dipergunakan adalah kombinasi obat pelega dan pengontrol. Sebagian besar bronkodilator bekerja dalam beberapa menit, tetapi efeknya hanya berlangsung selama 4-6 jam.

Bronkodilator per-oral (ditelan) dan dipergunakan bila serangan asma tidak dapat diatasi dengan obat semprot atau hirup dan memiliki efek samping dan mula kerjanya cenderung lebih lambat. Pada serangan penyakit asma yang berat, bisa diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah). Hal lain untuk mengontrol serangan asma anda adalah dengan mengenal pencetus yang menyebabkan timbulnya serangan asma serta hindari pencetus tersebut.

Pasien asma juga dianjurkan untuk memeriksakan diri secara teratur ke dokter. Karena bisa saja kondisi penyakit bertambah ringan atau sebaliknya sehingga baik obat maupun cara hidup perlu disesuaikan. Selain itu untuk menjaga kebugaran tubuh, anda dapat juga mengikuti senam asma yang bertujuan untuk melatih otot-otot pernapasan.    
 
Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 13, 2008

Kerisauan Pelaut Terhadap AIDS

Tanya:

Pengasuh Yth. Ketika saya masih berlayar ke luar negeri, antara lain ke Cina, Jepang, Singapura dan Malaysia saya sering kencan dengan pekerja seks komersial (PSK) di negara-negara tersebut. Selama berlayar di Indonesia saya juga suka berganta-ganti pasangan bila kepepet. Terkadang saya menggunakan kondom tapi terkadang pula tidak, jujur kuakui, terkadang saya lupa menggunakan kondom bila sudah keenakan.

Padahal, masalah HIV/AIDS sudah saya ketahui sejak masih duduk kuliah. Ayah saya seorang dokter di Surabaya. Saya tahu bahwa dengan berganta-ganti pasangan dan tidak menggunakan kondom, saya akan mudah terinfeksi HIV. Tetapi saya perlu jelaskan bahwa selama ini saya lebih memilih kencan di tempat ‘lokalisasi resmi’ karena kesehatannya terjaga.

Yang ingin saya tanyakan: (1) Apakah ada jaminan bahwa semua PSK yang berada dalam lokalisasi resmi bebas dari HIV? Selama ini saya hanya mau kencan dengan PSK yang berada dalam lokalisasi resmi, bila daerah yang saya kunjungi tidak ada tempat lokalisasi resmi, saya memilih onani. (2) Apakah onani dengan PSK ada risikonya (kami tidak melakukan seks oral atau seks anal)? Selama ini saya tidak pernah terkena penyakit kelamin, kondisi tubuh saya tetap sehat.

Su, Ketapang

Jawab:

Maaf, perilakumu memang berisiko tinggi tertular HIV karena melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan, dalam hal ini pekerja seks komersial (PSK). Ada kemungkinan salah satu di antara pasanganmu yang berganti-ganti itu HIV-positif karena mereka juga kencan dengan laki-laki yang berganti-ganti. Laki-laki ini pun kencan pula dengan perempuan yang berganti-ganti. Begitu seterusnya sehingga ada kemungkinan salah satu di antara mata rantai itu HIV-positif.

Pasangan seks yang sering berganti-ganti pasangan tidak hanya PSK. Perempuan yang sering kawin-cerai pun merupakan pasangan yang berisiko karena laki-laki yang mengawini mereka juga sudah mempunyai pasangan sebelumnya. Mungkin, pasangan mereka sebelumnya pun mempunyai pasangan pula.

Jadi, jangan hanya melihat PSK atau waria sebagai orang yang sering berganti-ganti pasangan karena kawin-cerai juga termasuk orang yang berganti-ganti pasangan walaupun dalam ikatan nikah. Soalnya, ada kemungkinan salah satu dari pasangan mereka HIV-positif maka ada risiko penularan HIV.

Status HIV seseorang tidak bisa permenen. Misalnya, seorang PSK di pagi hari dites HIV. Hasilnya HIV-negatif. Tapi, kalau siang hari dia melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan beberapa laki-laki yang menjadi pelanggannya maka ada risiko tertular HIV karena ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang mengencaninya HIV-positif.

Jadi, dalam waktu hanya hitungan jam pun status HIV seseorang bisa berubah kalau dia melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV. Maka, tidak ada manfaat ‘kartu sehat’ yang dipegang PSK biar pun di ‘lokalisasi resmi’.

Soalnya, laki-laki yang datang ke sana tidak menjalani tes HIV sebelum berkencan sehingga ada risiko penularan. Kondisinya kian runyam karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang HIV-positif. Tapi, biar pun tidak ada tanda-tanda AIDS dia sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain, al. melalui hubungan seks yang tidak memakai kondom di dalam atau di luar nikah.

Tidak ada kaitan langsung antara ‘penyakit kelamin’ dengan penularan HIV karena penularan HIV tidak hanya melalui hubungan seks. Tapi, kalau seseorang tertular ‘penyakit kelamin’ maka kalau yang menularkan ‘penyakit kelamin’ itu HIV-positif maka ada kemungkinan terjadi juga penularan HIV. Lagi pula tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada diri seseorang yang tertular HIV sebelum mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV).

(1) Tidak ada jaminan bagi siapa saja apakah dia bebas HIV atau tidak karena status HIV seseorang tergantung dari perilakunya, terutama dalam hal seks. Orang yang sering melakukan hubungan seks tanda kondom, di dalam atau di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan (PSK dan waria) maka berisiko tinggi tertular HIV.

Dalam kaitan ini PSK yang di ‘lokalisasi resmi’, lokalisasi liar, di jalanan, di apartemen atau di hotel mewah perilakunya tetap berisiko tinggi tertular HIV karena berkencan dengan laki-laki yang silih berganti.

(2) Onani bukan perilaku berisiko. Tapi, kalau yang melakukan onani orang lain, seperti PSK, ada risiko penularan HIV karena ada kemungkinan PSK tadi HIV-positif dan ketika onani ada darah atau cairan vagina yang masuk ke tubuh yang dionani. Maaf, kalau kau melakukan ‘kegiatan’ lagi ketika PSK tadi melakukan onani terhadap dirimu maka ada risiko kalau tangan bersentuhan dengan cairan vagina atau terjadi ciuman ketika PSK tadi sariawan.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 12, 2008

Membersihkan Gigi Perokok

Tanya:

Dok mau tanya nih, kan kebetulan saya perokok. Gigi saya pastinya banyak nikotinnya. Untuk membersihkannya bagaimana ya Dok? Bila ke dokter untuk membersihkan gigi ngomongnya apa ya? Bilang terus terang, ingin membersihkan gigi gitu? Atau bagaimana? Biayanya biasanya berapa?

ITS, Sintang

Jawab:

Membersihkan kotoran gigi (karang gigi, stain atau plak gigi) biasa disebut dengan istilah scaling, jadi kalau datang ke Puskesmas, poli gigi rumah sakit, praktek dokter gigi atau klinik gigi bilang saja ingin dibersihkan stain dan karang giginya karena sudah tidak nyaman.

Untuk biaya, kalau standar klinik dokter gigi umum (puskesmas) biasanya dengan perda tarif, kalau di klinik dokter gigi lebih mahal karena belum menggunakan asuransi kesehatan, semua perawatan dipastikan menyeluruh dan dijamin gusi dan gigi semua bakalan bersih dan jadi lebih sehat. Semoga dapat menjawab pertanyaan anda, terimakasih. (*)

Tanya:

Dokter , saya sering banget panas dalam yang ujung-ujungnya sariawan (sometimes dibarengin dengan shorethroat)! Itu kenapa ya? Apa karena pola makan saya yang tidak teratur? Bagaimana pengobatannya, pakai apa? Selama ini jika saya sariawan, saya pakai obat bubuk china itu loh, yang bubuknya warna hijau, saya lupa nama obatnya.

KJM, Kota Baru Pontianak

Jawab:

Kira-kira sariawannya muncul tiap kapan (frekuensinya tiap bulan berapa kali?) juga lokasinya di tempat yang sama apa pindah-pindah? Bila di lokasi yang sama sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter gigi terdekat untuk diperiksa dan seksama apakah ada tanda-tanda keganasan apa tidak? Soalnya kalau tempat muncul luka di lokasi yang sama menandakan ada yang tidak beres dengan kondisi jaringan tersebut.

Sariawan yang timbul karena panas dalam sering kambuh bisa karena faktor asupan nutrisi/gizi yang kurang baik maksudnya bisa saja timbul karena jarang minum sehingga timbul dehidrasi deh, atau juga karena kurang makan buah-buahan serta sayur-sayuran, kurang vitamin C ataupun B12.

Coba diperiksakan lagi pola makannya ya. Untuk pengobatannya bisa dengan pakai obat kumur (albotyl, minosep, betadine kumur,dll) bisa juga diperbaiki pola makannya dengan ditambah mengkonsumsi vitamin juga buah-buahan dan sayur-sayuran secukupnya. Semoga membantu, terimakasih.

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 11, 2008

Nyeri Bokong Yang Menjalar ke Kaki Kanan

Masalah :

Dokter, saya seorang ibu rumah tangga berusia 52 tahun sehari-hari mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyuci baju, menyapu, mengepel lantai dan juga mengangkat air untuk mengisi bak mandi. Sejak beberapa bulan terakhir ini, kurang lebih 3 bulan, saya mengeluhkan nyeri pada bokong dan dirasakan menjalar ke kaki kanan, daerah paha, betis dan sampai kaki kanan. Hal ini dirasakan terutama kalau saya banyak membungkukkan badan pada saat menyapu, mengepel rumah atau mengangkat air. Saya sudah pernah berobat ke dokter serta juga diurutkan tapi belum banyak membantu. Mohon saran Dokter, apakah yang dapat saya lakukan? Karena keadaan ini sangat mengganggu aktifitas sehari-hari saya. Atas penjelasan dan saran Dokter saya ucapkan banyak terima kasih.

(Ny. Km, Pontianak).

Jawaban :

YTH Ny. Km di Pontianak, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan. Kami akan mencoba menjawab pertanyaan tentang penyakit yang ibu derita. Kemungkinan ibu menderita suatu penyakit yang disebut Ischialgia. Yaitu suatu kondisi dimana Saraf Ischiadikus yang mempersarafi daerah bokong sampai kaki terjepit, dalam kasus ibu yang terjepit adalah Saraf Ischiadikus sebelah kanan. Penyebab terjepitnya saraf ini ada beberapa faktor, yaitu antara lain: kontraksi/ radang otot-otot daerah bokong, adanya perkapuran tulang belakang atau adanya keadaan yang disebut dengan Herniasi Nukleus Pulposus (HNP), dan lain sebagainya. Ketiga sebab yang kami sebutkan diatas adalah kasus yang banyak terjadi sehingga menyebabkan Ischialgia. Untuk mengetahui penyebab pasti perlu dilakukan pemeriksaan fisik secara seksama oleh dokter, jika perlu dilakukan pemeriksaan tambahan radiologi/ Rontgen pada tulang belakang.

Gejala yang sering ditimbulkan akibat Ischialgia adalah:

- Nyeri punggung bawah.

- Nyeri daerah bokong.

- Rasa kaku/ terik pada punggung bawah.

- Nyeri yang menjalar atau seperti rasa kestrum, yang dirasakan dari bokong menjalar ke daerah paha, betis bahkan sampai kaki, tergantung bagian saraf mana yang terjepit.

- Rasa nyeri sering ditimbulkan setelah melakukan aktifitas yang berlebihan, terutama banyak membungkukkan badan atau banyak berdiri dan berjalan.

- Rasa nyeri juga sering diprovokasi karena mengangkat barang yang berat.

- Jika dibiarkan maka lama kelamaan akan mengakibatkan kelemahan anggota badan bawah/ tungkai bawah yang disertai dengan mengecilnya otot-otot tungkai bawah tersebut.

Penatalaksanaan:

1. Obat-obatan: analgetik, NSAID, muscle relaxan, dsb.

2. Program Rehabilitasi Medik.

3. Operasi: dilakukan pada kasus yang berat/ sangat mengganggu aktifitas dimana dengan obat-obatan dan program Rehabilitasi Medik tidak dapat membantu.

Program Rehabilitasi Medik bagi penderita Ischialgia adalah:

1. Terapi Fisik:

Diatermi, Elektroterapi, Traksi lumbal, Terapi manipulasi, Exercise, dsb.

2. Terapi Okupasi:

Mengajarkan proper body mechanic, dsb.

3. Ortotik Prostetik:

Pemberian korset lumbal, alat bantu jalan, dsb.

4. Advis:

o Hindari banyak membungkukkan badan.

o Hindari sering mengangkat barang-barang berat.

o Segera istirahat jika telah merasakan nyeri saat berdiri atau berjalan.

o Saat duduk lama diusahakan kaki disila bergantian kanan dan kiri atau menggunakan kursi kecil untuk menumpu kedua kaki.

o Saat menyapu atau mengepel lantai pergunakan gagang sapu atau pel yang panjang, sehingga saat menyapu atau mengepel punggung tidak membungkuk.

o Jika hendak mengambil barang dilantai, usahakan punggung tetap lurus, tapi tekuk kedua lutut untuk menggapai barang tersebut.

o Lakukan Back Exercise secara rutin, untuk memperkuat otot-otot punggung sehingga mampu menyanggah tulang belakang secara baik dan maksimal.

o Dll.

Demikian yang dapat kami sampaikan tentang Nyeri bokong yang menjalar ke tungkai bawah akibat Ischialgia, serta penatalaksanaannya dan Program Rehabilitasi Medik yang dapat diberikan. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Untuk konsultasi lebih lanjut dapat menghubungi kami.

Dr. Jonaidi Teramihardja, SpRM

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 10, 2008

Tumor Kulit di Mata, Bisakah Sembuh?

Tanya:

Ibu dokter yang terhormat, saya wanita usia 38 tahun sejak satu tahun yang lalu di bawah mata saya terdapat banyak bintik-bintik bergerombol seperti jerawat/komedo sewarna kulit ukuran bervariasi dengan diameter 0,3 cm- 0,5 cm, tidak sakit.

Saya sudah mencoba mengobati dengan berbagai macam salep, krim yang dijual dipasaran, bahkan satu minggu sekali saya melakukan facial di salon, dipencet-pencet namun tidak ada perbaikan. Sebenarnya saya sakit apa bu dokter? Apakah ini sakit kanker kulit yang bisa berkembang luas dan menggerogoti wajah saya? Terima kasih atas perhatiannya.

Ibu Lalita, Pontianak

Jawab:

Ibu Lalita, berdasarkan keluhan ibu berupa bintik-bintik bergerombol seperti jerawat/komedo sewarna kulit yang terletak di bawah mata, kemungkinan ibu menderita tumor kulit jinak yang dikenal sebagai siringoma. Siringoma merupakan tumor kulit jinak kelenjar keringat yang biasa terdapat di bawah mata dengan karakteristik papul-papul sewarna kulit bergerombol di bawah mata. Tumor ini biasanya menyerang usia dewasa pubertas setelah terutama wanita.

Tumor ini bukan tumor ganas seperti karsinoma sel basal yang dapat menggerogoti wajah ibu. Perbedaan yang dapat dilihat antara siringoma dengan karsinoma sel basal adalah pada karsinoma sel basal terutama menyerang area yang terpapar sinar matahari, tumor tumbuh berkembang cepat menjadi besar, bentuk permukaan tumor tidak rata dan kotor serta dipinggir tumor seperti gigitan tikus.

Siringoma kadang mirip dengan komedo/jerawat yang letaknya bergerombol, namun tumor ini mempunyai karakteristik khas berupa papul-papul multipel di bawah mata, sedangkan komedo bisa tersebar. Sebenarnya penyakit ini tidak berbahaya, namun secara kosmetik mungkin mengganggu penampilan, sehingga perlu dihilangkan

Penyakit ini tidak dapat diobati dengan aneka krim maupun segala macam bentuk facial. Penyakit ini hanya dapat diobati dengan cara menghilangkan tumor tersebut yang dapat dilakukan dengan cara operasi dengan bedah listrik maupun dengan bedah beku atau cryosurgery menggunakan nitrogen cair. Di Pontianak lebih sering dilakukan dengan operasi bedah listrik atau dikenal dengan elektro cauter.

Operasi ini relatif aman dan mudah dilakukan, ibu tidak perlu dirawat inap. Untuk menghilangkan rasa sakit saat dilakukan bedah listrik, sebelumnya ibu diberikan obat anestesi topikal dan setelah dua jam kemudian dapat dilakukan operasi tersebut. Setelah dilakukan operasi ibu bisa langsung pulang untuk melakukan perawatan sendiri dengan memakai krim untuk mencegah infeksi dan menyembuhkan peradangan.

Demikianlah penjelasan saya, bila kurang jelas atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah kulit dan kelamin dapat menghubungi:hp 0818464018 atau pontianak post atau poli Kulit dan Kelamin RS Soedarso atau RS Antonius atau apotek Mitra jl Jend Urip.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 3, 2008

Lupus Eritematosus, Apakah Itu?

Tanya:

Ibu dokter, saya Ibu Marina ingin berkonsultasi tentang penyakit lupus, sebenarnya sakit lupus itu apa bu karena saya pernah mendengar katanya penyakit ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.Apakah itu benar bu dokter?

Saya juga pernah membaca bahwa salah satu tanda sakit lupus itu ditandai dengan bercak merah di wajah merupakan salah satu tanda terkena lupus disamping itu pendertia lupus tidak boleh terkena sinar matahari. Bagaimana membedakan bercak merah yang tidak berbahaya. Apakah penyakit ini dapat diobati? Mohon penjelasan. Terimakasih

Ibu Marina Singkawang

 

Jawab:

Ibu Marina yang terhormat, penyakit lupus eritematosus (LE) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan gambaran klinik yang karakteristik yang berhubungan dengan produksi autoantibody tertentu yang menyerang sistem konektif dan vaskular. Lupus berasal dari bahasa Yunani yang berarti srigala, karena pada penderita lupus sering terdapat gambaran bercak merah pada wajah terutama di area pipi dan hidung seperti belang warna pada wajah srigala. Secara LE epidemiologi lebih banyak terjadi pada kulit berwarna, onset usia sekitar 30-40 tahun, wanita lebih banyak terserang dibanding pria (8:1).

Lupus eritematosus terdiri atas spectrum ringan sampai berat. Spectrum ringan berupa lupus terlokalisir atau discoid lupus eritematosus (DLE) sedangkan yang berat bahkan mengancam jiwa berupa sistemik lupus eritematosus (SLE). Discoid lupus eritematosus (DLE) bersifat kronis dan tidak berbahaya. Gejala klinis berupa bercak eritem atrofik tanpa ulserasi sedangkan SLE bersifat akut, dan melibatkan multiorgan seperti kulit, otot, sendi, darah, dan ginjal.

Discoid Lupus Eritematosus (DLE)

Manifestasi klinis DLE berupa gangguan kulit terutama terjadi pada area yang terpapar sinar matahari. Distribusi dan presileksi DLE dapat terlokalisir maupun meluas, terutama terjadi pada wajah dan kepala, namun dapat juga muncul pada lengan ,tangan, kaki maupun badan.

Gejala klinis terdapat pada muka terutama hidung dan pipi atau telinga berupa pacth atau plak eritem, berbatas tegas dengan sumbatan keratin pada folikel rambut. Kelainan kulit tersebut pada pipi dan hidung dapat berkonfluen berbentuk kupu-kupu atau dikenal dengan gambaran butterfly rash eritem. Diskoid lupus eritematosus pada kepala menyebabkan alopesia scaring/kebotakan dan sumbatan keratin pada folikel rambut. Penyakit ini dapat meninggalkan sikatrik atrofi maupun hipertrofi.

Penegakkan diagnosis berdasarkan gejala klinis, laboratorium, dan baku emas dengan pemeriksaan histopatologis. Pada kasus DLE 5-10% dapat berkembang menjadi SLE.

Pengobatan penderita DLE selain dengan obat-obatan juga harus dilakukan edukasi pada penderita. Penderita harus menghindari trauma fisik, sinar matahari, stres emosional, dan lingkungan yang sangat dingin. Dengan demikian penderita harus memakai tabir surya baik tabir fisik berupa baju payung topi maupun tabir surya yang dioleskan pada badan.

Pengobatan dapat menggunakan kloroquin 100mg/hari selama 3-6 minggu obat maksimal diberikan selama 3 bulan untuk menghindari kerusakan mata. Kortikosteroid sistemik dapat diberikan pada DLE diseminata. Pengobatan topikal menggunakan steroid topikal poten maupun suntikan triamsinolon asetat.

Sistematik Lupus Eritematosus (SLE)

Gejala klinis sangat bervariasi karena menyerang multiorgan. Spektrum klinis bervariasi dari penyakit yang akut, fulminan dan sangat berat sampai penyakit yang ringan. Manifestasi klinis dapat dibagi menjadi empat kelompok besar sebagai berikut:

1. Gejala konstitusional berupa perasaan cepat lelah, penurunan berat badan dan demam merupakan gejala yang timbul selama berbulan-bulan sebelum ada gejala lain.

2. Kelainan kulit dan mukosa berupa bercak merah pada kulit yang terutama pada area yang terpapar sinar matahari yang bersifat akut sub akut maupun kronis. Kelainan kulit non spesifik berupa vaskulitis, maupun Ranaud’s fenomen. Kelainan mukosa ditandai dengan ulkus/luka pada mukosa mulut. palatum, buccal dan gusi.

3. Kelainan organ dalam yang menyerang ginjal, jantung dan paru serta hati berupa lupus nefritis yang menyebabkan proteinuria. Selain itu terjadi perikarditis, pleuritis dan maupun kolitis ulseratif dan hepatosplenomegali

4. Kelainan pada sendi, tulang. otot, kelenjar getah bening, dan sistem saraf berupa atralgia, limfadenopati, neuropati, gangguan otak.

Ada banyak pendapat bahwa penyakit ini disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik dan imunologik, serta faktor hormonal. Penyakit ini dapat juga dinduksi oleh obat tertentu seperti procainamid, hidantoin, fenilbutazon, penisilin, streptomisin, tetrasiklin dan sulfonamid yang dikenal sebagai SLE like sindrom.

Diagnosis SLE ditetapkan berdasarkan kriteria ARA, bila terdapat 4 kriteria dari 11 kriteria maka diagnosis SLE dapat ditegakkan. Kriteria ARA adalah sebagai berikut:

Kriteria Ara

1. Malar rash Discoid rash

2. Photosensitivity

3. Oral ulcers

4. Arthritis

5. Serositis

6. Renal disorder

7. Neurologic disorder

8. Hematologic disorder

9. Immunologic disorder

10. Antinuclear antibody

Pengobatan

Seperti pada penderita DLE maka pada penderita SLE selain dengan obat-obatan juga harus dilakukan edukasi pada penderita. Penderita harus menghindari trauma fisik, sinar matahari, stres emosional, dan lingkungan yang sangat dingin. Dengan demikian penderita harus memakai tabir surya baik tabir fisik berupa baju payung topi maupun tabir surya yang dioleskan pada badan.

Bila penderita SLE yang sedang fase akut harus dirawat. Terapi menggunakan kortikosteroid sistemik terutama pada penderita yang kritis, seperti krisis lupus nefritis, pleuritis, perikarditis, atau banyak mengalami hemoragi.

Dosis kortikosteroid lebih banyak bergantung pada gejala klinis daripada hasil laboratorium, dapat diberikan prednison 1mg/kg berat badan atau 5 mg/minggu dan dicari dosis pemeliharaan yang diberikan selang sehari. Pada penderita kritis dimana SLE dalam kondisi mengancam jiwa penderita seperti pada nefritis dan gangguan kesadaran akibat serangan pada otak dapat diberikan kortikosteroid 1gr /hari selanjutnya bila kondisi telah membaik dapat dilakukan tapering/ penurunan dosis.

Obat-obat antibiotik, antiviral dan antifungal harus diberikan, bila terdapat komplikasi, misalnya infeksi sekunder, pneumonia bakterial, atau infeksi virus, dan mikosis sistemik. Pada penderita SLE dengan anemia hemolitik atau lupus nefropatia acapkali dosis tinggi kortikosreroid tidak efektif, maka harus diberi terapi sitostatik, misalnya azatioprin 50-150 mg per hari, dengan dosis maksimal 200 mg per hari.

Dapat pula diberikan siklofosfamid dengan dosis sama. Bila kurang jelas atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah kulit dan kelamin dapat menghubungi:hp 0818464018 atau pontianak post atau poli Kulit dan Kelamin RS Soedarso atau apotek Mitra jl Jend Urip.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 2, 2008

Mencurigai Suami

Tanya:

Pengasuh Yth. Sejak berita yang menyebutkan bahwa sudah ada penduduk Pontianak yang terinfeksi HIV perasaan saya selalu gelisah. Saya takut anggota keluarga saya tertular HIV. Bukan hanya itu saya sering bertengkar dengan suami karena saya sering bertanya kalau dia pulang malam. Saya takut suami saya kencan dengan perempuan lain sehingga dia tertular HIV.

Yang ingin saya ketahui: (1) Bagaimana caranya mengetahui seseorang sudah terinfeksi HIV? (2) Apakah penularan HIV bisa melalui makanan dan udara? (3) Saya juga ingin tahu penyebab penularan HIV secara keseluruhan.

Bukan hanya saya yang resah dengan adanya berita soal HIV di Pontianak, beberapa tetangga saya juga mengalami hal yang sama. Masalahnya, karena orang yang terinfeksi HIV tidak disebutkan nama dan alamat rumahnya. Karena itu: (4) Saya sangat mengharapkan penjelasan tentang ciri-ciri orang yang terinfeksi HIV. Saya juga ingin tahu: (5) HIV itu sejenis penyakit apa? (6) Apakah orang kelihatan bopeng  atau bagaimana? (7) Ataukah badannya kurus seperti orang TBC?

Wi, Pontianak

Jawab:

Kita tidak hanya gelisah kalau di daerah kita ada penduduk yang terdeteksi HIV-positif karena tidak ada satu pun tempat di muka bumi ini yang bebas HIV/AIDS. Ke mana pun kita pergi di dunia ini tetap ada kasus HIV/AIDS. (1) Kita tidak bisa mengetahui apakah seseorang sudah tertular HIV hanya dari kondisi fisiknya. Yang bisa kita lakukan adalah dengan menimbang-nimbang perilakunya. Kalau seseorang perilakunya berisiko tinggi maka dia pun berisiko tinggi pula tertular HIV.

Perilaku berisiko tinggi tertular HIV adalah (a) melakukan hubungan seks penetrasi yakni penis masuk ke vagina (heteroseks), seks oral dan seks anal di dalam atau di luar ikatan pernikahan yang sah serta homoseks tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti, (b) melakukan hubungan seks penetrasi yakni penis masuk ke vagina (heteroseks), seks oral dan seks anal di dalam atau di luar ikatan pernikahan yang sah serta homoseks tanpa kondom dengan seseorang yang suka berganti-ganti pasangan (seperti dengan pekerja seks perempuan atau waria), (c) menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV, dan (d) memakai jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo dan alat-alat kesehatan secara bersama-sama dengan bergiliran.

(2) Penularan HIV hanya melalui cairan darah, air mani (sperma tidak mengandung HIV) dan cairan vagina. HIV hanya bisa hidup di darah, air mani dan cairan vagina. Di luar cairan ini HIV akan mati. HIV juga tidak bisa melepaskan diri dari darah, air mani dan cairan vagina. Jadi, penularan HIV hanya bisa terjadi jika ada darah, air mani atau cairan vagina yang mengadung HIV masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seks (di dalam atau di luar nikah) yang tidak memakai kondom, jarum suntik atau transfusi darah.

(3) Penularan HIV hanya terjadi seperti cara di atas (2).

(4) Tidak ada ciri-ciri atau gejala-gejala yang khas pada diri seseorang yang sudah tertular HIV sebelum mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV). Tapi, ingat biar pun tidak ada ciri-ciri atau gejala pada diri seseorang yang sudah tertular HIV dia sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain melalui hubungan seks yang tidak memakai kondom, transfusi darah, serta jarum suntik, jarum tindik, jarum tattoo dan alat-alat kesehatan.

(5) HIV adalah virus. Virus yang lain ada virus influenza, hepatitis B dan hepatitis C, dll. Sedangkan AIDS adalah kondisi kesehatan seseorang yang sudah tertular HIV yang ditandai dengan infeksi oportunistik, seperti diare, ruam, TB, dll. Jadi, AIDS bukan penyakit tapi cacat kekebalan tubuh dapatan yang terjadi karena daya tahan tubuh dirusak oleh HIV.

(6) Tidak ada gejala yang khas pada diri atau fisik seseorang yang HIV-positif. Gejala-gejala pada masa AIDS, seperti ruam, diare, kurus, dll. juga terjadi pada orang dengan penyakit lain.

(7) Tidak ada kaitan langsung antara seseorang yang HIV-positif dengan TBC. Tapi, orang-orang yang HIV-positif akan lebih mudah tertular TBC karena daya tahan tubuhnya rendah. Sebaliknya orang yang mengidap TBC juga lebih mudah tertular HIV melalui perilaku berisiko.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 1, 2008

Pergelangan Tangan Lemah Akibat Cidera

Tanya:

Dok, saya seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun. Beberapa bulan lalu saya mengalami kecelakaan dan terjadi benturan pada lengan atas saya sebelah kanan. Saat itu dirontgen tidak terdapat patah tulang lengan atas kanan, jadi hanya saya urutkan saja ke tukang urut.

Kemudian yang saya keluhkan adalah pergelangan tangan kanan saya tidak dapat diangkat keatas karena lemah, juga dirasakan sebal-sebal dan tampaknya otot-otot tangan kanan mengecil. Hal ini menyebabkan saya tidak dapat mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dengan baik seperti mencuci, memasak, menyapu dan sebagainya. Padahal daerah lengan atas saya yang cidera kemarin sudah tidak bengkak dan nyeri.

Apa yang harus saya perbuat Dok? Mohon keterangan dari Dokter. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan Dokter, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Ny S, Pontianak

Jawab:

YTH. Ny S di Pontianak. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas surat yang Ibu kirimkan. Tentang kondisi ibu saat ini, bisa kami jelaskan sebagai berikut. Cidera yang terjadi pada lengan atas sebelah kanan Ibu beberapa bulan lalu mengakibatkan gangguan pada saraf di lengan tersebut yang disebut Nervus Radialis.

Nervus Radialis ini berjalan sepanjang lengan, dari lengan atas sampai bawah ke daerah tangan. Saraf ini berada pada daerah superficial/ permukaan pada lengan atas, terutama bagian 1/3 tengah lengan atas tersebut.

Hal ini yang menyebabkan saraf tersebut sangat mudah mengalami cidera jika terjadi benturan pada lengan atas. Kondisi cideranya saraf ini dalam istilah kedokteran disebut sebagai Parese Nervus Radialis. Dalam kasus Ibu terjadi Parese Nervus Radialis Kanan.

Nervus Radialis ini mempersarafi otot lengan atas, otot lengan bawah, serta otot-otot tangan terutama daerah dorsal/ punggung tangan. Karena adanya gangguan pada saraf tersebut mengakibatkan terjadinya kelemahan pada otot-otot tersebut.

Hal ini bermanifestasi sebagai tidak dapatnya ibu mengangkat pergelangan tangan ke atas, juga dapat disertai mengecilnya otot-otot lengan dan tangan daerah dorsal, terdapat rasa sakit atau sebal didaerah tersebut.

Jika proses makin berlanjut dapat mengakibatkan kontraktur/ kaku pada jari-jari tangan dan pergelangan tangan, sehingga fungsi tangan akhirnya akan terganggu sama sekali.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan Elektromyografi (EMG), untuk mengetahui kondisi saraf dan derajat kerusakkan saraf tepi tersebut.

Program Rehabilitasi Medik yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

Terapi Fisik:

Infra red dan Elektrostimulasi.

Parafin bath.

Exercise untuk stretching dan strengthening.

Okupasi terapi:

Latihan fine motor seperti menggenggam, meremas, dll.

Latihan peningkatan sensibilitas.

Mengajarkan cara-cara efektif untuk dalam bekerja.

Ortotik prostetik:

Pemasangan cock-up splint untuk menghindari terjadinya kontraktur pada pergelangan tangan.

Advis:

Hindari tidur dengan mengangkat lengan keatas dan beralaskan lengan atas sebagai sandaran kepala dalam jangka waktu lama.

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai Parese Nervus Radialis yang berakibat terjadinya kelemahan pada pergelangan tangan karena cidera pada lengan atas, beserta program rehabilitasi medik yang dapat dilakukan Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca semua. Untuk konsultasi lebih lanjut dapat menghubungi kami.

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

March 28, 2008

Lemah Lengan Kanan Setelah Lahir Sungsang

Tanya:

Dokter, saya mempunyai bayi yang berusia 1 bulan. Bayi saya setelah dilahirkan ternyata terdapat kelemahan pada lengan kanannya. Dimana tampak lemah dan tidak kuat untuk diangkat keatas, berbeda dengan lengan sebelah kirinya yang dapat bergerak aktif terutama saat dia sedang menangis.

Perlu dokter ketahui, saya hamil cukup bulan, ditolong bidan, waktu dilahirkan bayi letak sungsang serta terdapat lilitan tali pusat pada leher bayi tersebut sehingga saat lahir memerlukan waktu yang cukup lama disertai tindakan berupa tarikan untuk membantu persalinan.

Kondisi bayi setelah dilahirkan baik, menangis kuat dan tidak tampak kebiru-biruan. Mohon penjelasan Dokter untuk kasus bayi saya ini. Atas bantuan dan penjelasan Dokter, saya ucapkan banyak terima kasih.

Ny. Bk di Mempawah

Jawab:

YTH Ny. Bk di Mempawah. Sebelumnya terima kasih atas pertanyaan yang telah ibu sampaikan. Kami akan mencoba menjelaskan secara ringkas untuk kasus bayi ibu tersebut.

Penyebab terjadinya kelemahan pada anggota gerak atas/ lengan kanan bayi ibu tersebut kemungkinan akibat adanya cedera pleksus brakialis kanan. Dimana pleksus brakialis ini yang mempersarafi otot-otot lengan atas tersebut. Pleksus brakialis ini sering cedera akibat proses persalinan yang lama dan beresiko seperti bayi letak sungsang dan terdapatnya lilitan tali pusat pada leher bayi sehingga menyebabkan terhambatnya proses persalinan secara normal dan diperlukan tindakan manipulatif untuk membantu mengeluarkan kepala bayi tersebut. Jika tindakan manipulatif ini tidak dilakukan secara hati-hati dan bukan oleh tenaga ahlinya sering akan menyebabkan cedera pada pleksus brakialis ini.

Selain trauma persalinan, penyebab lain yang dapat mencederai pleksus brakialis adalah: adanya tumor leher, toxic infeksi, kesalahan saat posisi tidur, dll.

Gejala Klinis:

Dibedakan atas 3 tipe:

1. Upper plexus type (Erbs palsy):

Gejalanya berupa kelemahan/ kelumpuhan dan mengecilnya otot-otot lengan atas. Juga dapat disertai hilangnya rasa sensibilitas otot-otot daerah tersebut.

2. Lower plexus type (Klumpke palsy):

Gejalanya berupa kelemahan/ kelumpuhan dan mengecilnya otot-otot lengan bawah, terutama otot-otot punggung dan jari-jari tangan. Rasa sensibilitasnya menghilang. Sering juga disertai bengkak dari kulit, kebiruan dari jari-jari dan perubahan tropic dari kuku.

3. Total plexus palsy:

Gejalanya merupakan gabungan dari Erbs palsy dan Klumpke palsy seperti diatas.

Penatalaksanaan:

1. Terapi obat-obatan: anti inflamasi dan neurotropik vitamin.

2. Rehabilitasi Medik:

a. Terapi Fisik:

- Posisioning: posisi lengan abduksi dan elevasi.

- Superficial heating, faradisasi, ROM exercise dan stretching.

b. Terapi Okupasi:

- Latihan Aktifitas Kegiatan Sehari-hari.

- Latihan fungsional.

- Terapi Supportif.

c. Ortotik Prostetik:

- Cock-up splint.

- Night splint.

Demikian yang dapat kami sampaikan secara ringkas tentang kelemahan anggota gerak atas/ lengan akibat cedera Pleksus Brakialis beserta program Rehabilitasi Medik yang dapat diberikan. Prinsip terapi adalah jika semakin dini diterapi maka akan didapatkan hasil yang semakin baik, serta dapat dicegah terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Untuk konsultasi lebih lanjut dapat menghubungi kami.

Team Pengasuh

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Gigi Berlubang, Bisakah Ditambal?

Tanya:

Gigi berlubang, digosok tidak hilang hitamnya bisakah ditambal karena masih gigi susu?

SDA, Pontianak

Jawab:

Penyakit gigi ini dapat menimbulkan rasa sakit, rendah diri, berkurang produktifitas bahkan mengganggu pertumbuhan. Karies gigi atau biasa disebut gigi kerowok adalah kerusakan pd struktur jaringan keras gigi (email, dentin) yang diakibatkan oleh asam yang dihasilkan oleh bakteri yang terdapat pada plak gigi.

Proses terjadinya karies gigi disebabkan oleh adanya interaksi antara gigi (tuan rumah), bakteri (penyebab), karbohidrat (lingkungan yg memfasilitasi), serta waktu. Proses terjadinya karies gigi diawali oleh terjadinya pelepasan kalsium pd email, sehingga menyebabkan terjadinya bercak putih (white spot) pada permukaan gigi yang ditumpuki oleh plak gigi.

Biasanya pada daerah cekungan-cekungan gigi, leher gigi di dekat gusi atau permukaan samping antara gigi. Pada kondisi ini masih bisa kembali pada keadaan semula (reversible) apabila plak gigi dibersihkan dan diolesi flour.

Apabila dibiarkan berlangsung terus akan berkembang menjadi suatu lubang pada email gigi, tapi penderita belum merasakan adanya rasa sakit, sehingga biasanya tidak disadari oleh penderita. Kondisi ini sudah tidak dapat kembali seperti semula sehingga harus ditambal agar karies tidak berkembang terus.

Mencegah karies gigi lebih baik/murah daripada mengobati. Dalam upaya pencegahan penyakit/karies gigi ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu memperkuat gigi dengan pemberian suplemen, flour dan calsium misalnya pada susu atau minuman.

Untuk pemberian flour harus hati-hati jangan berlebihan justru dapat merusak struktur gigi, membersihkan gigi dari plak dan sisa-sisa makanan, mengontrol diet makanan.

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Mata Sering Pegal

Masalah :

Saya seorang gadis usia 28 tahun, pekerjaan sebagai pegawai di sebuah perusahaan swasta. Keluhan mata saya sering merasa pegal, berair, merah dan gatal. Keadaan ini kadang–kadang membuat saya merasa terganggu. Mohon informasi lebih lanjut tentang keadaan mata saya. Terima kasih

Liliana, Pontianak

Jawaban:

Liliana Yth, keluhan seperti ini seringkali ditemukan pada orang–orang yang bekerja di dalam kantor dengan pemakaian AC yang lama. Saya curiga keluhan yang Liliana rasakan adalah keadaan yang disebut sebagai DRY EYE (mata kering). Saat ini mata kering seringkali dijumpai, bahkan anak–anakpun banyak juga yang menderita seperti ini.

Kemungkinan hal ini bisa dihubungkan dengan keadaan lingkungan eksternal (iklim, polusi) kita yang tidak bersih dan sehat lagi. Lingkungan yang tidak baik akan membuat lapisan airmata (tear film) menjadi tidak stabil, sehingga tear film tidak dapat melapisi permukaan bola mata dengan baik.

Tear film berfungsi untuk membuat permukaan mata menjadi licin, sehingga fungsinya sebagai media refraksi akan baik, mempertahankan lingkungan lembab bagi epitel kornea dan konjungtiva, melumasi permukaan kornea, sebagai antibakterisidal, menyalurkan oksigen dan karbondioksida, menyingkirkan dan mengencerkan benda asing dan toksin.

Biasanya dry eye disebabkan oleh: adanya gangguan produksi salah satu komponen air mata dan adanya kelainan di permukaan konjungtiva dan kornea. Dry eye juga dapat disebakan oleh penyakit-penyakit lain dan obat-obatan tertentu.

Keluhan lain yang sering dirasakan adalah sensasi benda asing (rasa mengganjal), rasa panas, bangun tidur terasa lengket, serta sekret yang kental. AC dapat membuat penguapan tear film berlangsung lebih cepat.Terapi awal yang diberikan biasanya berupa air mata pengganti.

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

February 25, 2008

Biduran Yang Tak Sembuh

Tanya:

Ibu dokter yang terhormat, saya wanita 40 tahun ingin berkonsultasi mengenai keluhan saya yang hilang timbul. Sudah enam bulan ini saya mengalami kulit bentol-bentol, bengkak-bengkak merah dan sangat gatal dan panas yang mungkin biasa dikenal dengan biduran, penyakit ini kadang hilang sendiri, namun sering juga menetap.

Ibu dokter yang membuat saya sangat tersiksa bila bengkak mengenai kelopak mata dan bibir selain terasa gatal dan panas hal tersebut juga membuat saya tidak percaya diri, kebetulan pekerjaan saya selalu berhadapan dengan customer sehingga kondisi ini sangat mengganggu pekerjaan saya.

Beberapa kali saya telah berobat ke berbagai dokter namun tidak menyembuhkan secara total, karena saat minum obat saya bisa sembuh sebentar namun kemudian kambuh lagi. Saya juga telah pantang makan makanan laut, telur, maupun daging ayam namun tetap juga tidak berhasil.

Bu dokter penyakit ini disebabkan karena apa dan bagaimana cara mengobatinya? Terimakasih

(Ibu Rearnita, Pontianak)

Jawab:

Ibu Rearnita yang sedang dilanda gatal, berdasarkan keluhan ibu memang ibu menderita biduran atau dalam istilah medisnya dikenal sebagai urtikaria. Urtikaria adalah bentuk reaksi vaskuler pada kulit yang ditandai oleh edema dan eritema berbatas tegas (urtika) disertai rasa gatal yang bervariasi seperti, tersengat, rasa terbakar, seperti tertusuk-tusuk. Bila proses meluas sampai ke dermis bagian dalam dan lapisan submukosa dikenal dengan angioedema seperti yang ibu derita ketika mengenai kelopak mata dan bibir. Urtikaria dapat timbul tiba-tiba, dengan waktu serangan jarang melebihi 24 sampai 48 jam, dan dapat berulang dalam jangka waktu tidak terbatas.

Urtikaria dan angioedema sering terjadi dan dapat mengenai semua umur, ras, jenis kelamin, pekerjaan, lokasi geografi dan musim. Hampir 15-20% dari seluruh populasi pernah menderita urtikaria semasa hidupnya. Angka insiden tertinggi ditemukan pada usia dewasa muda.

Berdasarkan keluhan ibu yang telah menderita urtikaria selama 6 bulan kondisi ini merupakan urtikaria kronik. Urtikaria dikatakan akut (UA) bila berlangsung kurang dari 6 minggu dan penyebabnya sering kali diketahui, sedangkan urtikaria kronik (UK) berlangsung lebih dari 6 minggu.

Urtikaria merupakan suatu bentuk reaksi alergi yang menyebabkan terjadinya vasodilatasi kutan dengan ekstravasasi cairan yang menyebabkan kulit membengkak dan gatal.

alergi adalah suatu reaksi hipersensitifitas yang dimediasi oleh sistem imun, sebagai respon tubuh terhadap bahan-bahan alergen yang ada di lingkungan.sekitar kita.

Pada kasus ibu Rearnita dikatakan bahwa pada saat ibu minum obat alergi dari dokter bidurannya sembuh, namun pada saat obat habis akan kambuh lagi. Obat alergi merupakan obat anti histamine yang hanya berfungsi menangkap histamine yang dihasilkan dari proses alergi tersebut, bukan menghilangkan penyebabnya. Penyebab urtikaria tidak diketahui dengan pasti, namun beberapa teori mengatakan bahwa urtikaria dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti alergi makanan, alergen hirup, kontaktan, stress psikis, cuaca dan trauma fisik.

Ibu Rearnita meskipun ibu sudah menghindari makanan tertentu seperti ikan laui, telur, ayam namun urtikaria tetap timbul, karena ibu belum tentu alergi bahan tersebut. Untuk mengetahui penyebab alergi sebaiknya dilakukan tes alergi.

Tes alergi berupa alergen yang dibuat secara khusus untuk diujikan yaitu allergen hirup seperti: debu, serbuk bunga, serbuk padi, dll dan berbagai jenis bahan makanan seperti ikan laut, gandum, telur susu, dll.

Berdasarkan hasil tes tersebut dapat dilacak penyebab alergi. Apabila dari bahan-bahan yang diujikan bereaksi maka sebaiknya bahan tersebut dihindari baik untuk dihirup maupun dimakan supaya urtikaria tidak muncul lagi.

Demikianlah bila kurang jelas atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah kulit dan kelamin dapat menghubungi:Hp 0818464018 atau Pontianak Post atau poli Kulit dan Kelamin RS Soedarso/RS Antonius atau apotek Mitra jl Jend Urip.

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment