April 18, 2008

Stroke Akibat APS

Masalah :

Assalamualaikum Wr Wb
Dokter Zubairi Yth,
Istri saya enam bulan yang lalu sering sakit kepala. Sudah berobat ke beberapa dokter belum juga membaik. Tekanan darahnya normal, diperiksa beberapa kali tidak pernah tinggi. Oleh dokter saraf sudah diperiksa rontgen yang amat canggih dan mahal, MRI, namun tidak ditemukan kelainan. Tes rekam gelombang otak EEG juga normal. Diberi obat untuk migrain juga tidak mempan.

Sebulan kemudian, istri mengalami kelumpuhan badan sebelah kiri, sehingga dirawat di rumah sakit. Menurut dokter positif stroke, walaupun dokter jarang menemukan pada usia 35 tahun. Hasil tes darah ACA, ditemukan positif. Menurut dokter, penyebab sakit kepala dan penyebab stroke sama, yaitu darah istri saya terlalu mudah membeku, penyakit yang disebut APS (Anti Phospholipid Syndrome) yang bisa terjadi pada pasien lupus. Untuk dokter ketahui, istri saya sakit lupus sejak empat tahun yang lalu, dan bebas obat, sama sekali tidak minum obat selama setahun terakhir.

Pertanyaan saya, apakah sebenarnya APS itu? Apa benar ada hubungannya dengan lupus? Sejak APS-nya diobati, sakit kepala istri saya jauh berkurang, nyaris sembuh total dan kelumpuhan badan mulai pulih, Alhamdulillah.

Dedi, Jakarta

 

Jawaban :

Waalaikumussalam Wr Wb
Mas Dedi yang baik,
Istri anda memang benar sakit Anti Phospholipid Syndrome (disingkat APS) yaitu tubuhnya membentuk ACA (Anti Cardiolipin Antibody). ACA adalah autoantibodi, artinya antibodi yang ditujukan terhadap tubuh kita sendiri. Kita tahu, seharusnya antibodi tidak merusak tubuh, tetapi justru melindungi tubuh berperang melawan musuh dari luar, baik berupa bakteri, virus atau benda asing apapun yang masuk ke tubuh kita.

Jadi nama penyakitnya APS, dan nama penyebabnya adalah ACA. Autoantibodi tersebut menyebabkan dua masalah penting pada sirkulasi darah istri. Pertama, menyebabkan pembuluh darah menyempit dan permukaannya tidak teratur (istilah kedokterannya vaskulopati). Kedua, menyebabkan bekuan di dalam sirkulasi darah (thrombosis). Jadi, bisa dibayangkan bila bekuan darah terjadi di pembuluh darah otak, terjadilah stroke. Sakit kepala yang dikeluhkan sebelumnya, mungkin sekali akibat penyempitan pembuluh darah di otak.

Disebut sindroma antifosfolipid, karena antibodi ACA tersebut sebelum menyebabkan bekuan, bereaksi dulu dengan protein di dalam darah yang berikatan dengan fosfolipid, yaitu sejenis molekul lemak yang merupakan bagian normal dari permukaan sel. Selain dapat menyebabkan stroke dan sakit kepala, kelainan di pembuluh darah juga dapat menyebabkan serangan jantung, keguguran, bekuan di pembukuh darah tungkai (thrombophlebitis) dan gangren. Ada beberapa jenis antibodi antifosfolipid, antara lain antikoagulan lupus dan antibodi anticardiolipin (ACA) yang dapat menyebabkan APS.

Penjelasan dan pengobatan yang diberikan dokter sudah tepat, yaitu obat atau kombinasi obat-obat untuk mengencerkan darah misalnya warfarin/coumadin/simarc, kadang ditambahkan dengan aspirin. Namun karena ada riwayat lupus, mungkin sekali istri Anda juga memerlukan pengobatan dengan prednisone atau prednisolon. Tanyakan ke dokter istri Anda, apakah sudah tes darah untuk menilai aktivitas lupus. Mungkin juga dokter sudah mengobati, karena nama-nama obat golongan prednisone atau prenisolon banyak sekali.

Syukurlah kondisi kesehatan istri sudah mulai pulih, salam buat keluarga dan kontrol dokter yang teratur, serta jangan lupa mengonsumsi buah dan sayur, masing-masing tiga kali sehari dan teratur latihan jalan, setiap hari, latihan seperti waktu fisioterapi. Tips terakhir ini amat berguna untuk mencegah stroke berulang kembali.

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 16, 2008

Pelupa Setelah Operasi

Masalah :

Assalamualaikum Wr Wb
Saya seorang pensiunan berusia 61 tahun. Sekitar empat bulan yang lalu menjalani operasi by pass jantung. Hasil operasi baik. Namun ada satu masalah yang cukup mengganggu saya saat ini. Rasanya saya menjadi lebih pelupa, yang sebelumnya tidak pernah saya alami. Saya sering lupa di mana meletakkan barang-barang, juga lupa akan suatu kejadian yang baru saya alami.

Saya juga mengalami kesulitan saat membaca, karena untuk mengerti apa yang saya baca, saya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencernanya. Apakah ini berhubungan dengan operasi jantung yang saya jalani atau memang karena saya sudah makin tua?
Terima kasih atas jawaban dokter.

Muladi, Jawa Tengah

 

Jawaban :

Waalaikumussalam Wr Wb
Anestesi (pembiusan) dan tindakan pembedahan yang lebih dari dua jam dapat memengaruhi daya ingat jangka pendek (tiga bulan) dan kemampuan kognitif pada 10 persen pasien usia lebih dari 60 tahun. Itu kesimpulan dari para peneliti di Universitas Florida, Amerika Serikat. Untuk yang berusia 70 sampai 80 tahun, angka kejadian lebih banyak, yaitu sekitar 20 persen. Jadi, faktor penting yang memengaruhi timbulnya komplikasi pelupa adalah lama pembiusan dan usia. Jenis tindakan operasi tidak banyak memengaruhi.

Untuk operasi bedah pintas (by pass) jantung, salah satu gangguan yang dikeluhkan sesudah operasi adalah penurunan kemampuan kognitif, misalnya: lupa akan suatu kejadian, bisa kejadian yang baru (gangguan memori jangka pendek) atau yang sudah lama (gangguan memori jangka panjang) terjadi, kesulitan mencari kata-kata saat berbicara, kemampuan konsentrasi menurun saat membaca koran atau buku sehingga sulit mengerti apa yang dibaca, dan lain-lain. Keluhan ini dikemukakan oleh sekitar 7-33 persen pasien pada tiga bulan setelah operasi dan 4-33 persen pada 12 bulan setelah operasi.

Penyebabnya sampai saat ini masih menjadi perdebatan, apakah benar-benar hanya karena operasi itu sendiri atau karena hal-hal lain yang sudah dialami pasien sebelum operasi. Beberapa penelitian melaporkan, tidak ada perbedaan fungsi kognitif antara kelompok pasien yang dioperasi jantung dengan pasien berpenyakit jantung koroner yang tidak dioperasi.

Secara umum, penyebabnya dapat dibagi dua, yaitu yang terkait dengan pasien atau akibat prosedur operasi. Hal yang terkait dengan pasien misalnya umur dan adanya penyakit penyerta yang lain, seperti kencing manis dan darah tinggi. Hal yang berhubungan dengan prosedur operasi misalnya lamanya operasi, obat anestesi, teknik operasi, serta komplikasi pernapasan atau infeksi setelah operasi.

Penurunan kemampuan otak adalah hal yang normal terjadi seiring dengan pertambahan usia. Otak menjadi sedikit berkurang volumenya. Jika diibaratkan kumpulan kabel, jumlah kabel-kabelnya menjadi sedikit dan kompleksitas hubungan antarkabelnya menjadi berkurang. Adanya penyakit gula atau darah tinggi, yang kerap menyertai orang dengan penyakit jantung koroner, juga dapat menyebabkan kelainan pada pembuluh darah sehingga diduga juga memengaruhi fungsi otak.

Operasi bedah pintas jantung (by pass) adalah operasi untuk mengatasi sumbatan pada pembuluh darah koroner yang mensuplai darah ke otot jantung. Caranya dengan mengambil pembuluh darah dari tempat lain, kemudian ditempatkan dekat pembuluh darah yang tersumbat sehingga sumbatannya dapat di-bypass. Selama operasi dilakukan, pasien dibius total. Untuk menggantikan fungsi jantung dan paru selama operasi, dapat digunakan semacam mesin (tidak semua operasi menggunakan teknik ini).

Manipulasi saat operasi, saat pembiusan, juga mesin yang bagaimanapun canggihnya tidak dapat menggantikan fungsi jantung dengan sempurna. Karena itu, muncul dugaan kuat di kalangan para ahli bahwa hal ini mengakibatkan terjadinya trauma pada otak. Namun, ada juga beberapa penelitian yang menolak asumsi tersebut.

Faktor lain yang mungkin ikut berperan dalam masalah pelupa yang dialami Pak Muladi adalah obat-obatan. Apakah Pak Muladi mengkonsumsi obat, semisal obat penurun kolesterol golongan statin? Ada beberapa laporan (walaupun angka kejadiannya rendah) mengenai statin dan menghubungkannya dengan pelupa. Jadi, statin mungkin dapat menyebabkan pelupa. Jika Pak Muladi memang mengkonsumsi statin, ada kemungkinan penyebab pelupa adalah lama operasi, pembiusan pada usia lebih dari 60 tahun, dan efek samping statin.

Tidak dapat dimungkiri, operasi bedah pintas jantung sangat bermanfaat dalam menyelamatkan nyawa, tapi tentu gangguan seperti yang Pak Muladi alami tidak dapat diabaikan. Janganlah segan untuk mendiskusikan hal ini saat berkonsultasi dengan dokter jantung yang merawat Pak Muladi saat ini. Kurangilah stres dan lebih rileks agar kondisi Bapak cepat pulih. Jika Pak Muladi juga mempunyai sakit gula atau darah tinggi, upayakan agar kedua penyakit tersebut terkontrol. Jangan lupa untuk berolahraga teratur, yang jenis dan lamanya dapat dikonsultasikan dengan dokter Anda.

dr-zubairi-djoerban

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

March 25, 2008

Kenali Tumor Kandungan Mioma Uteri

Pertanyaan:

Dokter Denny yth,
Kami mohon penjelasan tentang penyakit miom yang diderita istri saya. Ada benjolan di dalam perutnya yang dapat bergeser-geser hampir sebesar telur ayam. Itu diketahui semasa istri saya hamil pertama lima tahun lalu hingga melahirkan anaknya, lalu hamil dan melahirkan anak kedua 1,5 bulan lalu. Terus-terang hal ini sangat mengganjal pikiran istri saya. Saya mohon penjelasan apakah penyakit tersebut, dan kepada ahli penyakit apa kami harus berkonsultasi?
Terima kasih.

Kurnijanto I
Madiun

Jawab:

Sering kali kita mendengar istilah miom (mioma uteri). Itu adalah tumor jinak kandungan (uterus) yang terdiri atas otot polos dan jaringan ikat sering disebut sebagai mioma. Angka kejadiannya sebanyak 20-25 persen pada wanita berusia di atas 35 tahun.

Hormon estrogen mempengaruhi timbulnya mioma uteri. Pada jaringan mioma jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya. Karena ada hubungan antara mioma dengan hormon estrogen maka:

1. Miom membesar pada usia reproduksi dan mengecil pada pascamenopause.

2. Miom sangat responsif terhadap terapi obat GnRH analog.

Berdasarkan lokasinya mioma uteri dibagi dalam tiga jenis:
1. Pertumbuhan tetap di dalam dinding rahim.
2. Pertumbuhan ke arah rongga rahim.
3. Pertumbuhan ke arah permukaan dinding rahim dan rongga perut.

Kerap kali tumor jinak rahim yang ke arah rongga membesar dan bertumbuh keluar dari mulut rahim. Tumor yang ada dalam rahim dapat tumbuh lebih dari satu, teraba seperti kenyal, bentuknya bulat dan berbenjol-benjol sesuai ukuran tumor. Ukuran dan beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram, namun dapat juga mencapai 3 kg atau lebih.

Gejala klinik mioma.
Sebagian penyakit ini ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan panggul rutin. Gejala yang timbul bergantung pada lokasi dan besarnya tumor. Yang paling sering ditemukan adalah

* Perdarahan yang banyak, karena permukaan rongga rahim yang lebih luas dan adanya gangguan kontraksi rahim akibat massa tumor.
* Penekanan pada kandung kemih, ureter, rektum atau organ rongga panggul lainnya sehingga menimbulkan gejala sakit kalau kencing, dan susah buang air besar.
Sering kali penderita merasa nyeri akibat miom mengalami degenerasi atau kontraksi uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim. Pasangan suami istri sering kali sulit untuk punya anak (infertilitas) disebabkan gangguan pada tuba, gangguan implantasi pada endometrium, penyumbatan, dan sebagainya.

Pada kehamilan, miom dapat mengganggu sehingga membawa dampak berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim, perdarahan yang banyak setelah melahirkan, dan gangguan pelepasan plasenta, bahkan bisa menyebabkan keguguran.

Kehamilan juga bisa memiliki dampak memperparah miom itu sendiri. Saat hamil, mioma uteri cenderung membesar, dan sering juga terjadi perubahan dari tumor yang menyebabkan perdarahan dalam tumor sehingga menimbulkan nyeri. Selain itu, selama kehamilan, tangkai tumor bisa terputar.

Bagaimana cara pengobatan atau penanganannya? Bila tumor berukuran kecil dan tidak membesar, cukup dilakukan pemeriksaan rutin setiap 3-6 bulan sekali, pengecilan tumor sementara dengan obat-obatan GnRH analog, mioma memiliki lapisan kapsul yang tegas, dapat dipisahkan/dikupas dari massa tumornya.

Operasi pembedahan: dengan histerektomi (pengangkatan kandungan) jika tidak ada rencana hamil lagi, atau miomektomi (mengangkat miomnya saja) pada usia reproduksi/masih rencana hamil. Namun jika massa tumor terlalu besar atau luas, kadang tidak memungkinkan hanya dilakukan pengangkatan massa tumor, sehingga tetap dilakukan histerektomi.

Jika terjadi komplikasi dan timbul perdarahan, pasien perlu diberikan transfusi darah dan obat penghilang rasa nyeri. Tindakan operasi dilakukan jika tumor membesar dan bila timbul gejala penekanan dan nyeri dan perdarahan terus-menerus.

Menjawab pertanyaan Bapak tentang istri yang menderita mioma terasa bergerser-geser kemungkinan besar termasuk miom jenis subserosum yang bertangkai. Sebaiknya Bapak membawa ibu ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan terdekat. Semoga Bapak mendapat jawaban yang memuaskan dan istri mendapat pengobatan yang baik.
Terima kasih.

dr Denny Dhanardono, MPH&TM, SpOG

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Kista Ovarium, Ganaskah?

Pertanyaan:

Ass Wr Wb

Dokter, sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah membaca e-mail saya. Saya seorang mahasiswi, menderita tumor kista. Saya bingung dan takut sekali. Apakah sebenarnya penyebab penyakit kista, khususnya pada gadis seusia saya (19 tahun), dan adakah cara pengobatan tradisional yang bisa membantu penyembuhan penyakit saya tanpa harus menjalani operasi karena saya takut tidak memiliki keturunan. Apakah pengaruhnya jika penyakit ini saya biarkan terlalu lama.
Terima kasih, dokter, atas balasannya.

Wassalam Wr Wb

Ina, Medan

 

Jawaban :

Kista umumnya tidak ganas, tetapi ada juga yang bersifat kanker. Walaupun tidak ganas, adanya kista di ovarium biasanya mengganggu siklus menstruasi dan menimbulkan rasa nyeri di perut bagian bawah. Karena itu, jika terdapat kista sebaiknya segera minta penanganan dokter ahli.

Kista yang bersifat fisiologis lazim terjadi dan itu normal-normal saja. Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya berkembang, dan gambarnya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran di bawah 5 cm, dan dalam tiga bulan akan hilang. Jadi, kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi, karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan.

Kista yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena dia masih mengalami menstruasi. Bila seseorang diperiksa ada kista, jangan takut dulu, karena mungkin kistanya bersifat fisiologis. Biasanya kista fisiologis tidak menimbulkan nyeri pada saat haid.

Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60 -70 persen pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent killer. Angka kejadian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.

Sampai sekarang belum ada cara deteksi dini yang sederhana untuk memeriksa adanya keganasan ovarium itu. Sekarang yang bisa dipakai masih menggunakan USG, tetapi itu agak sulit kalau diterapkan secara massal karena biayanya cukup mahal. Berbeda halnya dengan kanker serviks (mulut rahim -Red) yang bisa dideteksi dini dengan papsmear.

Untuk menurunkan risiko keganasan ovarium orang menggunakan pil KB. Risiko terjadinya kanker ovarium pada mereka bisa lebih kecil. Karena kanker ovarium terjadi kalau ovariumnya aktif, mengalami pertumbuhan folikel. Tapi dengan menggunakan kontrasepsi hormonal, terutama pil KB, proses itu pada ovarium ditekan, sehingga risikonya terjadi keganasan pada ovarium akan menurun.

Faktor apa saja yang dapat menyebabkan kanker? Cukup banyak! Makanan tinggi lemak dan kurang serat, zat-zat tambahan sintetik pada makanan, kurang olahraga, merokok, polusi, virus, sering stres, dan masih banyak lagi yang lain. Pokoknya gaya hidup yang tidak sehat berpotensi memicu dan memacu pertumbuhan kanker.

Faktor genetik juga berpengaruh. Ada sebagian orang yang secara genetik lebih besar kecenderungannya untuk menderita kanker, ada pula orang yang secara genetik lebih kecil kemungkinannya. Sebab itu, jika dalam riwayat kesehatan keluarga kita ada beberapa orang yang diketahui menderita kanker, misalnya ayah, ibu, kakak, paman, bibi, kakek, nenek, dan lain-lain, maka kita harus lebih waspada menghindari faktor-faktor lain yang dapat memicu kanker. Harus lebih selektif memilih makanan yang sehat, lebih teratur berolahraga, jangan merokok, dan hindari hidup di antara para perokok.

Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang potensial memicu kanker, yaitu yang disebut proto-onkogen. Karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen (karsinogen artinya dapat menyebabkan kanker), polusi, atau terpapar pada zat-zat kimia tertentu, atau karena radiasi, proto-onkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

Gejala dan tandanya
Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama.

Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut), dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas.

Karena sebagian besar dari kasus kanker ovarium bermula dari suatu kista, maka apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium). Kewaspadaan terhadap kista yang bersifat ganas dilakukan bila:

1. Kista cepat membesar.
2. Kista pada usia remaja atau pascamenopause.
3. Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan.
4. Kista dengan bagian padat.
5. Tumor pada ovarium.

Kista ovarium ini bersifat neoplasti, ada yang jinak dan ganas. Pada kista ovarium yang jinak sebaiknya diangkat. Terdapat risiko yang paling ditakuti yaitu mengalami degenerasi keganasan. Di samping itu juga bisa mengalami torsi atau terpuntir sehingga menimbulkan nyeri akut, perdarahan, atau infeksi. Sedangkan prosedur operasi pada pasien yang tersangka kanker ovarium sangat berbeda dengan kista ovarium biasa.

Hal terpenting pada operasi pasien yang tersangka kanker ovarium adalah semaksimal mungkin berusaha agar kista tersebut keluar secara utuh, kemudian dilakukan pemeriksaan ke laboratorium Patologi Anatomik (pemeriksaan potong beku). Apabila hasil pemeriksaan potong beku bukan suatu kanker, maka operasi selesai. Sebaliknya bila hasil pemeriksaan potong beku adalah kanker ovarium maka operasi dilanjutkan dengan mengangkat rahim, ovarium sisi lain, usus buntu, omentum, melakukan biopsi pada tempat yang dicurigai adanya penjalaran kanker di rongga perut dan melakukan pengambilan kelenjar getah bening di panggul.

Sebaiknya tidak mengobati kista ovarium dengan pengobatan tradisional melihat kemungkinan terjadi keganasan. Konsultasikan dengan dokter Anda. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Terima kasih.

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

March 9, 2008

Patah Tulang Panggul Pada Lansia

Masalah :

Assalamualaikum Wr Wb
Dokter Zubairi Yth,

Saya ingin bertanya mengenai keadaan ibu saya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ibu saya, saat ini berusia 76 tahun, sejak dua minggu lalu dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta karena patah tulang panggulnya akibat jatuh di kamar mandi.

Sejak awal dirawat, dokter spesialis bedah tulang sudah menyarankan operasi untuk mengganti bonggol tulang panggulnya. Saat itu kami, anak-anaknya, masih ragu-ragu menerima saran dokter mengingat usia ibu yang sudah lanjut, sehingga dokter saat itu hanya mengikat dan memberi beban pada tungkai yang patah agar tidak nyeri dan tulangnya tidak bergeser.

Masalahnya Dok, setelah tiga hari perawatan, kondisi ibu saya semakin menurun: nafsu makannya mulai berkurang, bicaranya mulai tidak jelas, meracau, tampak sesak napas, dan mulai muncul luka di tumit dan di bagian bokong-nya. Dokter spesialis bedah tulang yang semula menganjurkan operasi sekarang menjadi ragu-ragu untuk mengoperasi ibu saya, dan mengonsulkan ibu saya kepada dokter spesialis penyakit dalam untuk memperbaiki keadaannya.

Pertanyaan saya Dok: apakah ibu saya yang berusia 76 tahun itu memang masih memungkinkan untuk menjalani operasi patah tulang? Kami khawatir bahwa orang yang sudah berusia lanjut akan mengalami komplikasi operasi. Dengan kondisi ibu saya saat ini, apakah memang operasi kemudian menjadi tidak memungkinkan lagi? Kami merasa bahwa kondisi ibu saya seperti sekarang adalah akibat beliau tidak mampu bergerak karena patah tulang.

Perlu dokter ketahui, sebelum jatuh ibu saya termasuk orang yang masih aktif walaupun sudah berusia lanjut. Beliau memang mengidap hipertensi dan diabetes sejak lama, namun terkontrol dengan obat. Demikian pertanyaan kami, dokter. Mohon jawabannya. Terima kasih.

Dasrul, Jakarta

 

Jawaban :

Waalaikumussalam Wr Wb
Patah tulang memang sering dilaporkan terjadi pada mereka yang berusia lanjut. Diperkirakan, sekitar 250 ribu - 300 ribu kejadian patah tulang panggul setiap tahunnya terjadi di Amerika Serikat, yang sebagian besar terjadi pada mereka berusia lanjut.

Angka ini makin tahun makin meningkat. Sayangnya, kita belum punya data yang akurat mengenai kejadian patah tulang panggul pada orang tua di Indonesia. Patah tulang panggul merupakan salah satu penyebab cacat terbanyak pada kelompok usia lanjut selain stroke. Patah tulang pada orang tua sering dihubungkan dengan tulang yang makin keropos (osteoporosis), yang banyak terjadi pada perempuan yang telah mengalami menopause.

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya patah tulang pada orang berusia lanjut, salah satu yang paling sering adalah jatuh, seperti yang dialami oleh ibu Anda. Sebanyak 90 persen patah tulang panggul disebabkan oleh jatuh. Jatuh pada orang berusia lanjut dapat disebabkan oleh berbagai hal, secara umum dibagi menjadi dua sebab, yaitu:

1. Faktor yang berasal dari pasien itu sendiri, yaitu berupa ketidakseimbangan akibat kelemahan otot, nyeri akibat pengapuran pada lutut, gangguan penglihatan akibat katarak, gangguan pendengaran, penurunan tekanan darah akibat perubahan posisi, atau karena efek samping obat-obatan.

2. Faktor dari luar, yang cukup berperan misalnya lantai kamar mandi yang terlalu licin, ceceran air di lantai, karpet yang terlipat/ menggulung, penerangan yang kurang baik, dan sebagainya.

Pengobatan pasien patah tulang panggul adalah dengan operasi, termasuk pada mereka yang sudah berusia lanjut. Dengan operasi, baik dengan memasang sambungan metal (plate) atau mengganti bonggol tulang panggul, diharapkan penyembuhan dapat lebih cepat sehingga pasien lebih cepat dapat berjalan seperti sedia kala. Khusus pada orang tua, memang tindakan operasi harus dipertimbangkan matang-matang.

Bila fungsi organ-organ tubuh seperti ginjal, jantung, paru-paru dan hati masih baik serta tidak terdapat penyakit-penyakit kronis lain, risiko tindakan operasi tidak lebih besar dibandingkan mereka yang berusia lebih muda. Bahkan, pada mereka yang mengidap penyakit kronik seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, atau yang lain, asalkan terkontrol dan belum menimbulkan komplikasi yang berat, tindakan operasi masih dapat dipertimbangkan.

Bila seorang mengalami patah tulang panggul dan tidak segera dioperasi, maka umumnya ia akan berbaring saja di tempat tidur karena nyeri dan tidak mampu menggerakkan tungkainya. Kondisi ini disebut sebagai imobilisasi (ketidakmampuan dan ketidakmauan untuk bergerak seperti seharusnya).

Imobilisasi juga terjadi karena dalam rangka mencegah agar tulang yang patah tidak bergeser dan penyambungan tulang yang alamiah dapat terjadi dengan baik, maka biasanya dokter akan mengikat (fiksasi) dan menarik (traksi) tungkai tersebut dengan beban. Imobilisasi, apalagi bila terjadi pada seorang berusia lanjut, akan menimbulkan berbagai komplikasi yang saya yakin sudah terjadi pada ibu Anda.

Luka di daerah tumit dan bokong ibu Anda, muncul karena bagian-bagian tersebut terus-menerus tertekan ke kasur sehingga menjadi lecet dan luka. Seorang yang terus-menerus berbaring, fungsi paru-parunya akan terganggu yang pada akhirnya akan mengakibatkan infeksi paru (pneumonia) yang gejalanya adalah sesak napas.

Seorang berusia lanjut yang mengalami infeksi seringkali menjadi tidak nafsu makan dan pada infeksi yang cukup berat akan mengalami perubahan kesadaran (salah satu gejalanya adalah bicara yang kacau). Gejala seperti batuk dan demam, layaknya infeksi paru pada umumnya, terkadang tidak muncul pada usia lanjut akibat menurunnya fungsi dan daya tahan tubuh.

Selain komplikasi-komplikasi di atas, imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku, otot mengecil, peredaran darah tidak lancar, serta pasien menjadi depresi. Beberapa komplikasi tersebut dapat dicegah, seperti untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah balik akibat peredaran yang tidak lancar, dokter biasanya akan memberikan obat pengencer darah.

Kembali ke pertimbangan operasi pada orang tua, selain memerhatikan penyakit-penyakit kronis yang sudah diderita dan komplikasinya, khusus pada operasi patah tulang panggul ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan. Pertama, apakah sebelum jatuh dan mengalami patah tulang, pasien masih cukup aktif dan mandiri? Bila masih aktif sebelum patah tulang, maka operasi bisa disarankan.

Tujuan operasi adalah supaya pasien bisa berdiri dan berjalan kembali. Saat ini, banyak orang yang berusia lanjut sudah tidak mampu mengurus dirinya sendiri, berjalan harus dibantu bahkan dengan memakai kursi roda, juga lebih banyak duduk atau berbaring saja. Tentu pada pasien yang seperti ini, operasi bukan suatu pilihan karena hampir dapat dipastikan bahwa setelah operasi ia tetap tidak akan bisa berdiri atau berjalan.

Kedua, bagaimana fungsi pemahaman pasien sebelum jatuh? Atau apakah pasien sebelum jatuh sudah mengalami demensia atau kepikunan yang parah? Seperti kita ketahui, bahwa seorang berusia lanjut sering mengalami kepikunan, yang dianggap wajar terjadi. Pada beberapa orang, kepikunan ini terjadi sedemikian berat sehingga menimbulkan gangguan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari termasuk kemampuan berpikir. Hal ini disebut sebagai demensia.

Operasi patah tulang panggul harus dipertimbangkan benar pada mereka dengan demensia yang berat. Untuk diketahui, agar tulang panggul yang dioperasi dapat berfungsi secara optimal, pasien harus mampu melakukan latihan-latihan yang terprogram (fisioterapi). Tentu, fisioterapi tidak akan berjalan dengan baik bila pasien mengalami demensia berat. Sebab, ia tidak mampu menerima dan melaksanakan perintah-perintah untuk latihan. Bila fisioterapi tidak optimal, umumnya pasien tetap tidak mampu menggunakan tungkainya yang sudah diopreasi dan tidak bisa berjalan lagi. Tentu pada kasus seperti ini, operasi akan menjadi sia-sia bukan?

Kembali ke kasus yang dialami ibu Anda, saya sependapat dengan sikap dokter spesialis bedah tulang yang menunda operasi karena keadaan umum ibu Anda saat ini tidak memungkinkan menjalani operasi secara aman. Kondisi seperti ini, yang mungkin disebabkan oleh infeksi paru dan komplikasi-komplikasi akibat imobilisasi, harus segera diatasi.

Untuk kasus seperti ibu Anda, sebaiknya penanganan dilakukan oleh suatu tim interdisiplin. Makna interdisiplin di sini adalah selain dokter bedah tulang dan dokter spesialis penyakit dalam (internis), internis konsultan geriatri (khusus menangani usia lanjut), spesialis rehabilitasi medik, serta psikiatri perlu dilibatkan. Jadi, penanganan kasus ibu Anda, dilaksanakan secara komprehensif (paripurna), untuk mencapai target pengobatan dan perawatan yang optimal dan rasional.

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

January 6, 2008

Sakit Kepala dan Sindrom Antifosfolipid

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dr Zubairi Yth,

Istri saya, 29 tahun, akhir-akhir ini mengeluh sakit kepala hebat. Berbagai obat sudah dicoba, mulai dari Panadol, Aspirin sampai Ponstan. Namun semuanya tidak menolong. Saya sudah konsultasi ke dokter syaraf, sudah direkam otak (EEG), karena disangka semacam epilepsi, ternyata normal, tidak ada kelainan. Kemudian di lakukan MRI otak, juga normal.

Kemudian istri, saya ajak ke dokter penyakit dalam, penyebabnya dicari juga tidak ketemu, kemudian dianjurkan ke THT dan spesialis hematologi. Sebelum ke dokter THT dan hematologi, saya mau bertanya dulu ke dokter Zubairi, apakah ada hubungannya dengan sakit istri saya selama hamil yang terakhir? Ia melahirkan dua tahun yang lalu. Sebelum itu ia pernah keguguran dua kali.

Waktu hamil terakhir, istri saya ditangani oleh dokter kebidanan dan seorang ahli hematologi. Untuk menyelamatkan bayi, agar tidak keguguran lagi, istri saya mendapat suntikan setiap hari sejak kehamilan tiga bulan sampai melahirkan. Kalau nggak salah nama obatnya Fraksiparin. Alhamdulillah, lahir normal dan bayi saya sekarang sehat sekali. Untuk pertimbangan dokter, beberapa hasil pemeriksaan sewaktu istri hamil, yang masih saya simpan saya lampirkan. Terima kasih.

Donny, Jakarta

Jawaban :

Assalamualaikum wr wb

Mas Donny yang baik,

Dari data yang Anda kirimkan, dua kali keguguran yang lalu, disebabkan oleh penyakit darah yang disebut sindrom antifosfolipid atau APS (Anti Phospholipid Syndrome). Diagnosis tersebut khususnya berdasarkan riwayat keguguran dan tes ACA (Anti Cardiolipin Antibody) yang positif kuat beberapa kali, selain data yang lain. Syukurlah dengan penanganan yang tepat, kehamilan yang terakhir bisa tertolong.

Selain dapat menyebabkan abortus berulang, APS juga dapat menyebabkan sakit kepala. Namun tentu harus diperiksa langsung dengan teliti, untuk menetapkan penyebab sakit kepala. Saya kira nasihat dokter penyakit dalam yang terakhir sudah tepat, yaitu konsultasi ke THT dan hematologi. Untuk diketahui, penyebab sakit kepala memang bermacam-macam dan tentu saja obatnya berbeda.

Sakit kepala bisa disebabkan oleh tekanan darah tinggi, tumor otak, stroke, gangguan peredaran darah, APS, aneurisma, sinusitis, radang selaput otak, kelainan di mata, dan sebagainya. Sakit kepala yang paling sering ditemukan adalah tipe tension headache. Sebagian besar (95 persen) sakit kepala tidak membahayakan jiwa.

Kadang-kadang tidak mudah untuk menentukan jenis dan penyebab sakit kepala. Namun untuk istri Mas Donny, dengan riwayat pernah abortus dua kali, APS dan sakit kepala yang menahun, untuk usia dewasa muda, maka menurut pendapat saya, kemungkinan paling mendekati ya APS, sebagai penyebab sakit kepala.

Jadi, saya usulkan konsultasi ke dokter hematologi dulu, kemudian ke dokter THT dan mata bila diperlukan kemudian. Dokter biasanya akan minta beberapa pemeriksaan laboratorium seperti sewaktu kehamilan yang lalu, misalnya ACA, LA (Lupus Anticoagulant), ANA, Anti dsDNA, dan lain-lain. Sementara itu, kebiasaan hidup sehat perlu terus dijalankan, yaitu olahraga teratur, berjalan cepat setengah jam sehari, makan sayur tiga kali dan buah tiga kali sehari. Gaya hidup sehat ini, berdasarkan banyak penelitian, terbukti menekan risiko stroke, serangan jantung, dan kanker.

Misalnya istri mas Donny kemudian terbukti APS sebagai penyebab sakit kepala, risiko untuk stroke dan serangan jantung meningkat, maka gaya hidup sehat di atas menjadi suatu keharusan sebagai upaya pencegahan. Untuk diketahui APS cenderung menyebabkan pembekuan darah, thrombosis di banyak organ tubuh, termasuk otak (stroke) atau jantung. Bila istri Mas Donny merokok, harus segera dihentikan. Selain merokok bisa memicu dan memperberat sakit kepala, juga meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. Demikian pula untuk Mas Donny, harus segera menghentikan merokok, karena dampak asap rokok suami juga memperberat penyakit isteri Anda (passive smoker). Salam buat Ny Donny.

dr. Zubairi Djoerban

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Malu Karena Tangan Berkeringat

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dokter Zubairi Yth,

Sebagai gadis 16 tahun, saya malu banget karena setiap kali bertemu teman ataupun kenalan baru dan bersalaman, pasti langsung ketahuan kalau tangan saya (sebetulnya juga lengan saya) keringatan. Dan saya yakin, mereka memperhatikan kelemahan saya tersebut. Bagaimana mengatasi masalah saya ini dokter?

Mira, Jakarta

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Mira yang baik,

Sebetulnya Mira tidak perlu malu, karena masalah tangan berkeringat dialami juga oleh banyak orang. Salah satu cara mengatasinya juga tidak sulit. Selalu bawa saja bedak bayi di dalam tasmu atau tas punggungmu. Pakailah setiap kali sesudah cuci tangan. Tidak perlu malu kan membawa bedak di dalam tas. Biasanya masalah seperti yang dialami Mira akan menghilang sendiri pada umur sekitar 18 tahun.

Tips yang lain, seringkali keringat bertambah bila gelisah atau sesudah minum kopi atau minuman lain yang mengandung kafein misalnya teh kental, Coca Cola ataupun minuman penyegar lain. Lihat komposisi yang tertera di minuman kaleng atau botol tersebut. Karena itu, hindari minuman yang mengandung kafein. Keringat berlebih juga dapat pula dipicu oleh nikotin rokok, tetapi Mira tidak merokok kan?

Bila keringat tidak berkurang, pergilah ke dokter untuk konsultasi. Ada beberapa penyebab tangan berkeringat yang harus memerlukan pertolongan dokter. Pertama, yang disebut sebagai hipertiroidism. Yaitu, suatu kondisi di mana hormon tiroid diproduksi berlebihan. Untuk diketahui, hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid atau kelenjar gondok yang ada di bagian depan leher kita (untuk lelaki, dekat jakun). Gejala hipertiroid, selain keringat yang berlebihan (juga di tangan dan lengan) adalah badan menjadi kurus, berat badan turun, gelisah, berdebar-debar, tangan tremor, gemetaran, tidur tidak nyenyak, otot lengan atas dan paha terasa melemah.

Bila Mira mengalami juga gejala-gejala tersebut, ya ada baiknya langsung memeriksakan diri ke dokter. Biasanya dokter akan memeriksa leher kamu, kemudian menganjurkan periksa darah untuk mengukur kadar hormon tiroid, T4 misalnya. Hipertoidism dapat diobati.

Selain hipertiroidism, keringat yang berlebihan dapat juga disebabkan oleh hiperdrosis primer. Pengobatan dokter pun bisa amat bervariasi dari mulai olesan larutan aluminum chloride (hexahydrate), minum obat golongan beta-blocker, sampai operasi simpatektomi. Namun, biasanya tips yang disebutkan di awal tulisan, cukup menolong, selamat mencoba. Tips lain, adalah pede (percaya diri) saja. Percayalah, banyak hal positif dari Mira yang tidak dipengaruhi oleh masalah keringat.

dr. Zubairi Djoerban

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

December 27, 2007

Antibiotik Sebabkan Jamur

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dokter Zubairi Yth,

Leher saya rasanya tak enak, untuk menelan makanan terasa nyangkut di leher. Makanan terasa sukar turun dan waktu menelan terasa sakit. Menurut dokter spesialis penyakit dalam yang saya temui, saluran makanan saya terinfeksi jamur.

Menurut beliau, masalah jamur muncul akibat minum antibiotik selama sebulan terakhir. Memang, saya minum antibiotik doksisiklin setiap hari untuk mengatasi jerawat. Untuk dokter ketahui, jerawat saya mulai timbul sejak enam bulan yang lalu dan cukup mengganggu. Usia saya sekarang 50 tahun, pernah tekanan darah tinggi. Sekarang ini, tekanan darah saya selalu normal setelah saya minum teratur obat darah tinggi. Dok, apa benar penyebab nyeri menelan saya adalah infeksi jamur? Bagaimana mengobatinya? Bagaimana dong jerawat saya, kalau doksisiklin dihentikan?

Aam, Cikampek

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Mbak Aam yang baik,

Nyeri menelan dan rasa menelan tersangkut di leher atau di dada, ada banyak sebabnya antara lain infeksi kuman, infeksi jamur, penyempitan saluran makanan bagian atas dan lain lain. Kadang-kadang serangan jantung juga dapat menyebabkan keluhan serupa di tempat yang sama. Jadi, dokter harus teliti untuk mengungkapkan penyebabnya, karena pengobatannya berbeda-beda. Untuk itu, pasien juga perlu menyampaikan keluhannya dengan rinci, termasuk riwayat penyakit lain dan riwayat minum obat sebelumnya.

Melihat hasil laboratorium parasitologi yang Anda lampirkan, penyebabnya memang benar jamur, nama rinci jamurnya adalah Candida albicans. Sebagian besar penyebab gejala sariawan dan nyeri menelan memang jamur tersebut. Manifestasi infeksi jamur di mulut berupa sariawan, luka kecil-kecil yang terasa nyeri di bibir, lidah, dan gusi. Sedangkan sakit menelan dan terasa nyangkut yang Mbak Aam rasakan, biasanya akibat infeksi jamur di esofagus, yaitu saluran makanan bagian atas, sebelum makanan masuk lambung.

Sebetulnya, ada banyak jamur yang hidup normal di tubuh kita dan biasanya tidak berbahaya, artinya tidak menyebabkan penyakit. Namun, pada kondisi tertentu, jamur ini dapat menyebabkan penyakit, yaitu disebut sebagai infeksi jamur. Pada umumnya infeksi jamur mudah diatasi. Sebagian besar anak, remaja dan dewasa pernah mengalami infeksi jamur. Dokter Mbak Aam benar, minum antibiotik dapat menyebabkan infeksi jamur. Antibiotik membunuh kuman yang menyebabkan kita sakit, termasuk kuman penyebab kita diare, infeksi saluran napas atas ataupun jerawat.

Namun sayangnya, antibiotik juga membunuh berbagai bakteri di tubuh kita. Banyak bakteri yang tinggal di tubuh kita ini yang tidak menyebabkan penyakit, bahkan justru melindungi kita melawan jamur. Bisa dikatakan bakteri berebut tempat tinggal dengan jamur, agar bisa hidup di tubuh kita. Jadi, jamur dan bakteri ada dalam kondisi seimbang. Bila bakteri dibunuh antibiotik, maka keseimbangan terganggu, jamur bebas tumbuh berkembang dan menyebabkan penyakit. Karena itu, minum obat antibiotik tidak boleh sembarangan, harus dengan resep dokter.

Selain minum antibiotik jangka panjang, infeksi jamur juga lebih mudah terjadi, antara lain pada pasien diabetes, orang yang minum obat kortikosteroid, kekebalan tubuh yang rusak akibat kanker, kemoterapi atau infeksi virus HIV. Untuk orang dengan kekebalan tubuh yang amat menurun, beberapa jenis jamur tertentu dapat menginfeksi organ bagian dalam dan menyebabkan infeksi yang serius, misalnya jamur Aspergillus menginfeksi paru, Cryptococcus ke selaput otak, dan Histoplasma ke paru atau organ dalam yang lain.

Seperti disampaikan di atas, beberapa jamur dapat ditemukan di berbagai tempat di tubuh kita. Jenis jamur tertentu (yang paling sering Candida dan Tinea) dapat menginfeksi kulit atau selaput mukosa, mereka juga dapat tumbuh di kuku, di antara jari, lipat paha, mulut, vagina, atau di permukaan esofagus atau usus besar. Gejala yang terlihat adalah di tempat-tempat tersebut ada bercak kemerahan, lembab, gatal.

Bagaimana pengobatan infeksi jamur Bu Aam? Biasanya dokter memberikan obat tetes mycostatin/nystatin dan bila diperlukan ditambah dengan kapsul flukonasol (misalnya: Diflucan, Kifluzol), ketokonasol (misalnya: Nizoral, Mycoral) atau itrakonasol. Insya Allah cepat sembuh. Tentu, minum antibiotik doksisiklin harus dihentikan.

Bagaimana dengan jerawatnya, apakah akan segera kambuh bila doksisiklin dihentikan? Tidak selalu demikian. Seringkali setelah pengobatan jamurnya selesai, jamur hilang dan jerawat tak muncul lagi. Lagi pula Mbak Aminah sudah sebulan minum antibiotik, waktu yang lebih dari cukup untuk pengobatan jerawat dan memang sudah waktunya antibiotik dihentikan.

Ada beberapa tips untuk mencegah jewarat muncul lagi. Pertama, hindari makanan yang merangsang jerawat tumbuh, misalnya cokelat, es krim, kacang. Berikutnya, olahraga teratur, setengah jam setiap hari sudah cukup. Usahakan tidur cukup, 7-8 jam setiap hari. Tentu saja makan sayuran dan buah-buahan setiap hari merupakan keharusan, karena diperlukan sebagai sumber serat dan vitamin. Untuk mencegah infeksi jamur muncul lagi, ada baiknya Mbak Aam minum yogurt 1-3 kali seminggu.

dr. Zubairi Djoerban

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

December 25, 2007

Bisakah Pneumonia Disembuhkan?

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dr Zubairi Yth,

Tiga minggu yang lalu, kakak perempuan saya sakit panas, batuk, dan sesak selama seminggu. Menurut dokter, kakak saya sakit radang saluran napas yang berat, dan menganjurkan untuk segera rawat inap. Di rumah sakit, kakak saya dirawat dengan bantuan infus dan oksigen. Dari hasil rontgen, dikatakan pneumonia. Dokter berpesan untuk segera menghentikan kebiasaan merokok kakak saya. Sampai hari ini, sudah enam hari kakak dirawat. Pertanyaan saya, apakah pneumonia itu? Apakah bisa disembuhkan? Apakah ada hubungannya dengan merokok?

Fanny, Yogyakarta

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Mas Fanny di Yogya,

Pneumonia adalah infeksi paru yang dapat membuat kita sakit berat. Gejalanya persis seperti yang dirasakan kakak Anda. Batuk, panas, dan sesak napas. Batuk biasanya disertai dahak banyak. Panas tinggi, biasanya disertai menggigil. Pasien pneumonia seringkali merasa lelah dan lemah sekali, denyut nadi biasanya cepat melebihi 100 kali per menit. Sebagian pasien pneumonia dapat dirawat di rumah dengan minum obat dari dokter.

Untuk pasien usia lanjut, bayi atau yang mempunyai penyakit lain, atau kondisinya lemah, pneumonia dapat menyebabkan kondisi pasien amat buruk dan memerlukan perawatan di rumah sakit.

Masa inkubasi pneumonia, sekitar satu sampai 10 hari, artinya keluhan batuk, panas, dan sesak baru akan muncul 1-10 hari setelah terinfeksi, setelah kuman masuk ke tubuh kita.

Berat ringannya pneumonia tergantung beberapa hal:

1. Usia lanjut.
Pneumonia pada usia lanjut lebih berat daripada usia muda. Pneumonia pasa usia lanjut seringkali disertai komplikasi, misalnya bakterinya masuk ke sirkulasi darah, yang disebut bakteremia atau bahkan ke seluruh tubuh, disebut sebagai septikemia.

2. Jenis kuman penyebab. Pneumonia akibat infeksi virus, biasanya lebih ringan dibanding dengan infeksi bakteri.

3. Pengobatan yang diberikan. Pengobatan yang diberikan lebih awal akan menyembuhkan lebih cepat, dan memperkecil kemungkinan timbulnya komplikasi.

4. Kondisi kekebalan tubuh penderita. Kondisi kekebalan tubuh pasien yang menurun, semisal pneumonia pada pasien sakit kanker, atau diabetes yang belum terkontrol, atau juga pengguna narkotika, atau terinfeksi virus HIV maka makin sulit dokter untuk mengobati pneumonia.

Apakah pneumonia bisa disembuhkan? Ya, tentu saja pneumonia dapat disembuhkan. Dokter bisanya memberikan antibiotika selama 5-14 hari untuk mengobati pneumonia, karena penyebab tersering pneumonia adalah bakteri. Untuk pasien dengan kondisi kekebalan tubuh menurun, antibiotika bisa diberikan lebih lama. Jenis antibiotika yang dipilih dokter berdasarkan banyak hal, antara lain usia, berat ringannya gejala, pasien rawat jalan atau rawat inap. Untuk yang berobat jalan, seringkali dokter menuliskan resep eritromisin, azitromisin, doksisiklin atau florokinolon. Untuk yang dirawat, biasanya antibiotika dalam bentuk suntikan atau infus.

Mengenai merokok, dokter yang merawat kakak memang benar sekali. Merokok merupakan faktor risiko terkuat, yang memudahkan seseorang terkena pneumonia. Jadi, hentikan merokok! Faktor lain yang mempermudah seseorang mengalami pneumonia adalah penyakit paru menahun jenis obstruktif, asma yang tidak terkontrol, usia lanjut atau sebaliknya bayi usia kurang dari satu tahun, kekebalan menurun, atau kesadaran menurun.

dr. Zubairi Djoerban

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Mencegah Tertular Leptospira

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dokter Zubairi Yth,

Saya tinggal di Jakarta Barat, daerah Grogol, yang saat ini sedang kebanjiran. Beberapa waktu yang lalu, saya membaca artikel di media cetak tentang laporan dua orang pasien yang sedang dirawat di rumah sakit Jakarta Pusat karena sakit tertular leptospira. Disebutkan di artikel tersebut, hubungan antara infeksi leptospira dan musim hujan serta banjir. Apakah sebetulnya leptospira itu? Apakah gejalanya bila kita tertular? Apakah bisa fatal? Bagaimana mencegahnya? Kan katanya mencegah lebih baik daripada mengobati.

Erna, Jakarta Barat

 

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Mbak Erna yang baik,

Tepat sekali ungkapan Anda, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Leptospirosis memang bisa dicegah. Sebetulnya sebutan yang benar adalah leptospirosis untuk nama penyakitnya, sedangkan penyebabnya adalah bakteri leptospira. Leptospira menular ke manusia, masuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit, atau masuk langsung melalui mukosa mata dan mulut. Penularan antar manusia tidak ada.

Leptospira memerlukan hewan perantara dalam siklus hidupnya, yang paling sering adalah tikus, walaupun juga bisa melalui babi, anjing, kucing, dan hewan ternak. Manusia tertular penyakit tersebut bila bersentuhan dengan air kencing hewan tersebut, atau bersentuhan dengan sampah, tanah, atau air yang terkontaminasi air kencing tikus. Penularan juga bisa terjadi, bila menelan makanan yang terkontaminasi.

Jumlah pasien leptospirosis biasanya memang meningkat sewaktu musim hujan, karena leptospira bisa bertahan di air selama beberapa bulan. Jadi, memang Mbak Erna benar, bahwa penularan leptospira meningkat sewaktu musim hujan atau sewaktu banjir dan setelah banjir reda.

Apakah gejala penyakit leptospirosis? Pertama, tidak semua orang yang tertular leptospira menunjukkan gejala. Masa inkubasi penyakit ini sekitar 2-28 hari. Gejala antara lain mual, muntah, gejala serupa flu dengan demam menggigil, lemah, nyeri di betis, kadang disertai diare, nyeri perut. Mata kemerahan dan dapat disertai kulit dan mata kuning. Panas berlangsung sampai seminggu, kemudian turun. Fase ini disebut sebagai fase satu.

Sebagian pasien kemudian akan masuk fase dua, mengalami demam panas lagi, nyeri otot dan nyeri kepala yang lebih berat, mata menjadi merah karena peradangan, bahkan dapat terjadi radang selaput otak (meningitis) yang menyebabkan pasien kehilangan kesadaran. Komplikasi ke ginjal juga dapat terjadi, bahkan pasien bisa mengalami gagal ginjal akut, yang dapat berakhir dengan kematian.

Dokter mendiagnosis leptospirosis berdasarkan gejala tersebut di atas, dan pemeriksaan laboratorium seringkali menunjukkan kelainan di fungsi hati dan ginjal. Kepastian diperoleh dengan hasil tes leptospira dari sampel darah atau urine. Dengan memberikan cairan infus dan suntikan penisilin, atau minum doksisiklin, kondisi pasien seringkali dapat dipulihkan dalam beberapa hari sampai 3-4 minggu. Kadang-kadang leptospirosis dapat menyebabkan kematian.

Bagaimana pencegahannya? Pertama, hindari kontak dengan bahan yang mungkin tercemar leptospira. Anak-anak ataupun orang dewasa sebaiknya tidak bermain di tempat tergenang air sekarang ini, apalagi berenang di sana. Pakailah sarung tangan dan sepatu bot sewaktu membersihkan rumah setelah banjir usai. Minum doksisiklin sebelum datang ke daerah endemis dapat mengurangi risiko munculnya gejala yang berat dan kematian akibat leptospirosis.

dr. Zubairi Djoerban

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Tak Perlu Transfusi Trombosit untuk Demam Berdarah

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dr Zubairi Yth,

Adik saya (25 tahun), laki-laki, pada 24 Januari lalu dirawat di rumah sakit karena panas tinggi selama empat hari. Menurut dokter, ia sakit demam berdarah. Yang membuat saya khawatir adalah jumlah trombositnya yang makin menurun. Pada hari pertama di rumah sakit, trombositnya 16.000 (per mm3), hari kedua 8.000. Dokter yang merawat meyakinkan kami, walaupun trombosit amat rendah, namun tidak perlu transfusi trombosit. Bahkan dokter menyatakan, juga tidak perlu antibiotik. Yang diperlukan adalah pemberian cairan infus yang tepat.

Menurut logika kami, jumlah trombosit yang normal adalah lebih dari 150.000. Fungsi trombosit adalah untuk pembekuan darah, jadi kalau trombosit 8.000, maka akan menyebabkan perdarahan. Karena itu, amat logis kalau diberi transfusi trombosit. Terus terang, keluarga besar kami khawatir sekali, apalagi membaca di media bahwa cukup banyak pasien demam berdarah yang telah meninggal akhir-akhir ini.
Penjelasan dokter sangat kami harapkan. Terima kasih.

Adenan, Bekasi

 

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Mas Adenan yang baik,

Memang benar, akhir-akhir ini terjadi peningkatan drastis jumlah pasien demam berdarah. Kita juga membaca di koran dan melihat di televisi, betapa Unit Transfusi Darah PMI kekurangan persediaan trombosit akibat permintaan yang meningkat, untuk ditransfusikan kepada pasien demam berdarah.

Ada dua masalah penting sebetulnya. Pertama, apakah benar ledakan demam berdarah kali ini tidak dapat dicegah? Kedua, apakah pasien demam berdarah memerlukan transfusi trombosit?

Sebetulnya, ledakan demam berdarah dapat dicegah, namun memerlukan upaya yang serius, yang luar biasa, baik dari pemerintah, masyarakat maupun kalangan swasta. Demam berdarah menular melalui nyamuk Aedes aegypti, yang dikenal senang bersarang dan meninggalkan telur di genangan air bersih. Jadi, kita harus membersihkan secara berkala genangan air di gentong, vas bunga, kolam, dan bak mandi, paling tidak seminggu sekali.

Kita juga dapat memberikan bubuk abate di tempat penampungan air tersebut. Singkirkan semua wadah yang dapat menampung genangan air hujan di halaman kita. Nyamuk ini biasa menggigit pada siang hari, sehingga kita bisa melindungi diri dengan memakai pakaian lengan panjang berwarna terang atau pakai lotion antinyamuk. Upaya penyemprotan dengan insektisida untuk membunuh nyamuk juga bisa dijalankan, dengan kesadaran bahwa penyemprotan tidak membunuh nyamuk dalam rumah dan tidak dapat membunuh telur dan jentik nyamuk.

Semua upaya perlu ditingkatkan terutama sewaktu musim hujan tiba, seperti sekarang ini. Sistem survailans perlu ditingkatkan, dan sebaiknya semua upaya pencegahan dan pengobatan demam berdarah disebarluaskan di televisi dan media massa yang lain. Komitmen politik dari pemerintah dan penyediaan sumber daya dan dana, perlu ditingkatkan untuk memperbaiki upaya pencegahan yang berkesinambungan dan juga sosialisasi serta dukungan upaya pengobatan yang benar.

Mengenai adik Anda, dokternya telah memberikan pengobatan yang tepat. Pengobatan demam berdarah, prinsipnya adalah memberikan cairan yang cukup, tanpa antibiotik dan tanpa transfusi trombosit. Dokter tidak boleh memberikan pengobatan berdasarkan logika saja, namun yang lebih penting berdasarkan pembuktian, berdasarkan EBM (Evidence Based Medicine). Penelitian membuktikan, pemberian transfusi darah tidak memperbaiki kondisi pasien demam berdarah, bahkan cenderung berisiko. Untuk diketahui, transfusi trombosit, ataupun transfusi darah merah atau komponen darah yang lain, memang aman, tetapi tidak 100 persen aman.

Bahkan di negara maju, seperti di Amerika, yang melakukan uji saring dengan beberapa tahap yang lebih canggih dari Indonesia, risiko transfusi darah tetap ada. Risiko reaksi hemolisis lambat terjadi satu di antara setiap 1.000 transfusi, reaksi yang menyebabkan kerusakan di paru-paru terjadai satu di antara 5.000 transfusi. Setiap 676 ribu kantung darah, didapatkan satu kantung darah yang mengandung virus HIV yang tidak terdeteksi, demikian pula untuk virus hepatitis C yang terdapat pada satu di antara 63 ribu kantung darah. Dan untuk hepatitis B, satu di antara 103 ribu kantung. Jadi, pemberian transfusi darah harus rasional.

Kekecualian memang ada, yaitu bila terjadi perdarahan yang banyak, masif, yang menyebabkan penurunan kadar hemoglobin, pemanjangan masa perdarahan, maka transfusi trombosit perlu diberikan.

Pemberian antibiotik juga tidak rasional, karena virus demam berdarah tidak bisa dibunuh dengan antibiotik. Aspirin untuk penurun panas, juga tidak boleh diberikan, karena dapat menyebabkan perdarahan. Bila panas amat tinggi, selain dikompres, dapat diberikan parasetamol.

Saya yakin dan mendoakan adik Anda lekas sembuh, atau sudah sembuh sewaktu tulisan ini dimuat, karena demam berdarah memang penyakit infeksi akut, yang hampir semua pasiennya sembuh dalam waktu 10 hari.

dr. Zubairi Djoerban

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

December 24, 2007

Bolehkah Minum Kopi Selama Hamil?

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dokter Zubairi Yth,

Saya adalah seorang penggemar kopi. Saya biasa minum kopi minimal lima cangkir sehari, di rumah, di kantor, dan sepulang kantor seringkali ke kafe. Masalahnya, saat ini saya mendapati diri saya positif hamil. Suami saya mengatakan agar saya menghentikan kebiasaan minum kopi tersebut selama hamil, karena dapat berpengaruh buruk ke bayi. Ketika datang ke dokter kandungan pun beliau menyarankan hal yang sama. Cuma rasanya berat sekali jika harus berhenti sama sekali minum kopi. Apakah orang hamil sama sekali tidak boleh minum kopi? Mungkin ada batas aman berapa kali maksimal saya bisa minum kopi sehari?

Rita, Jakarta

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Ibu Rita,

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas kehamilan Anda. Minum kopi memang nikmat, dan banyak orang tidak bisa lepas dari kopi setiap harinya. Memang selama kehamilan, banyak hal yang perlu dicermati, salah satunya makanan/minuman yang dikonsumsi.

Penelitian-penelitian mengenai pengaruh kopi pada kehamilan saat ini masih memberikan hasil yang beragam, ada yang mengatakan efeknya buruk, sebagian mengatakan tidak ada pengaruhnya. Yang umumnya diteliti adalah efek kopi terhadap keguguran, kelahiran prematur, dan berat lahir bayi yang rendah.

Senyawa dalam kopi yang dianggap berpengaruh pada kehamilan adalah kafein. Namun perlu diingat, selain kopi, kafein juga terkandung dalam cokelat, teh, dan kola. Kafein juga sering dicampurkan dengan beberapa jenis obat, seperti obat flu, antinyeri, perangsang nafsu makan, dan lain-lain.

Hal yang banyak muncul dari penelitian mengenai pengaruh kopi pada kehamilan adalah efeknya terhadap keguguran dan berat janin meningkat sesuai dengan bertambahnya dosis kafein. Oleh karena itu, maka para ahli menganjurkan untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi dosis kopi yang diminum.

Dosis kopi yang dianggap 'aman' adalah 300 mg kafein per hari. Satu cangkir kopi dianggap rata-rata mengandung 100 mg per hari. Namun, harus hati-hati dengan anggapan ini. Seringkali penggemar kopi menyukai kopi yang kental, sehingga jumlah kafeinnya per gelas akan lebih banyak. Selain itu, tergantung ukuran gelasnya, jika menggunakan mug tentu lebih banyak dari cangkir.

Harus diingat pula, bahwa minum kopi juga dapat menurunkan penyerapan terhadap sejumlah mineral yang penting dalam kehamilan, seperti kalsium dan besi.

Maka, untuk praktisnya, sebaiknya Anda hanya minum kopi secangkir sehari. Karena selain mungkin secangkir kopi yang Anda minum kandungan kafeinnya lebih dari 100 mg, Anda juga mungkin makan/minum sumber kafein lain selama hamil, misalnya cokelat. Kalau bisa, minum kopinya tidak usah setiap hari.

dr. Zubairi Djoerban

 

Sumber : Republika Online

 

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Mata Ikan, Bisa Menjadi Kanker?

Masalah :

Assalamualaikum wr wb

Dokter Zubairi Yth,

Istri saya, 56 tahun, sejak awal Agustus lalu jalannya pincang dan nyeri pada tapak kaki. Saya lihat ada daerah putih seperti kapalan di tapak kaki, kira-kira 3 cm dari jari tengah. Oleh karena takut luka bernanah, saya bawa istri saya ke dokter.

Menurut dokter, istri saya menderita clavus. Untuk itu harus segera diangkat dengan operasi. Memang menurut dokter hanya operasi kecil, tapi istri saya takut juga.

Pertanyaan saya: apakah clavus itu? Semacam tumor? Bisakah menjadi kanker? Adakah cara lain untuk mengatasinya?

Oto, Jakarta

Jawaban :

Waalaikumussalam wr wb

Pak Oto yang baik,

Clavus (klavus) adalah istilah kedokteran, di masyarakat awam biasanya disebut mata ikan. Clavus bukanlah tumor, bukan pula tanda awal kanker, melainkan penebalan dari kulit. Penyebab terjadinya penebalan kulit ini adalah tekanan dan gesekan terus-menerus pada bagian kaki yang terkena. Misalnya, karena pemakaian sepatu yang terlalu sempit atau lama. Oleh karena tekanan terbesar ada pada telapak kaki, maka biasanya clavus timbul di telapak kaki.

Walaupun merupakan penyakit yang banyak terjadi, munculnya clavus kadang-kadang juga dapat berhubungan dengan penyakit lain. Clavus dapat merupakan tanda adanya gangguan saraf tepi akibat kencing manis, atau pada penderita artritis reumatoid (salah satu jenis rematik) menjadi tanda sudah ada perubahan sendi tulang-tulang kaki.

Jika clavus terjadi pada orang diabetes yang sudah mengalami gangguan saraf tepi kaki, biasanya tidak terasa nyeri. Tetapi hal ini malah dapat berbahaya, karena dapat meluputkan perhatian akan adanya luka/borok yang dapat berakibat serius pada penderita diabetes.

Sebenarnya pengangkatan clavus dengan operasi kecil merupakan cara cepat untuk menghilangkan nyeri. Tapi jika ingin mencoba cara tanpa operasi, mungkin dapat dicoba dengan memberikan obat-obat oles yang dapat menipiskan lapisan kulit yang menebal, yaitu yang mengandung urea, asam glikolat/malat/salisilat. Untuk mengurangi nyeri, sementara dapat ditempelkan plester tebal pada clavus. Namun untuk istri Anda, ada baiknya konsultasi langsung dengan dokter bedah, karena berjalan sudah mulai pincang, selain rasa nyeri.

Istri Anda juga harus memperhatikan sepatu atau sandal yang dipakainya selama ini. Apakah sudah nyaman atau terlalu sempit. Jika perlu, gantilah alas kaki yang dipakainya selama ini. Yang penting, hindari hak tinggi.

Jika clavus berulang kembali dan istri Anda juga menderita rematik, mungkin kakinya perlu dironsen untuk melihat kondisi tulang-tulang kaki dan sendi-sendinya, karena dikhawatirkan sudah terjadi perubahan pada tulang dan sendi. Bila hal ini terjadi, ada baiknya konsultasi juga dengan dokter spesialis penyakit dalam, konsultan rematologi.

dr. Zubairi  Djoerban

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Hiponatremia pada Usia Tua

Masalah :

Assalamualaikum wr wb,

Dr. Zubairi, kali ini saya ingin berkonsultasi mengenai ibu saya. Seminggu yang lalu ibu saya (70 tahun) harus dibawa ke rumah sakit karena pingsan setelah jatuh dari kamar mandi. Sebelumnya ia mengeluh mengantuk. Di RS kemudian dilakukan CT-scan, disimpulkan tidak ada tulang yang patah dan tidak ada stroke. Ibu saya mempunyai darah tinggi sejak lima tahun terakhir ini, tekanan darahnya sebelum diberi obat dapat mencapai 190 per 100. Kemudian dari pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa kadar natrium ibu saya sangat rendah (110), sehingga disimpulkan pingsan yang dialaminya adalah akibat kadar natrium rendah tersebut. Kemudian ibu saya diberi infus yang menurut dokter berisi cairan yang mirip dengan garam. Setelah dua hari, kondisinya membaik.

Yang ingin saya tanyakan:

Apakah natrium itu? Ibu saya direncanakan diberi kapsul garam (NaCl), padahal setahu saya penderita darah tinggi harus membatasi garam. Mengapa ibu saya justru akan diberi kapsul garam?

Wassalamualaikum wr wb

Budi, Bandung

 

Jawaban :

Assalamualaikum wr wb.

Natrium adalah salah satu zat yang ada di dalam tubuh kita, yang termasuk elektrolit. Sekadar informasi, elektrolit lain di tubuh kita adalah kalium dan chlorida. Salah satu fungsi elektrolit adalah menjaga stabilitas cairan tubuh. Bila kadar natrium kurang dari 135 mmol/l, kondisi ini disebut hiponatremia. Kadar natrium dinyatakan sebagai banyaknya natrium (mmol) per liter air. Hiponatremia dapat terjadi jika natrium banyak dikeluarkan dari tubuh atau jumlah air yang diserap tubuh meningkat.

Jika kadar natrium terlalu rendah, maka cairan di sirkulasi darah akan menjadi terlalu encer. Untuk menormalkan konsentrasi natrium, maka cairan akan pindah dari pembuluh darah ke sel-sel tubuh. Semakin rendah kadar natrium, semakin banyak cairan yang pindah. Akibatnya akan fatal jika terjadi di jaringan otak. Cairan yang menumpuk di sel-sel otak akan menyebabkan sel-sel otak bengkak. Akibatnya akan timbul gejala-gejala seperti mual, muntah, sakit kepala, dan mengantuk. Jika makin berat dapat terjadi penurunan kesadaran, pingsan sampai koma.

Orang berusia tua rentan terhadap hiponatremia, karena sering terjadi gangguan dalam proses pengaturan penyimpanan air dan keseimbangan natrium. Banyaknya air di tubuh diatur dengan mekanisme haus dan pengeluaran hormon tertentu (antidiuretic hormone, ADH). Pengaturan keseimbangan natrium terutama dilakukan oleh ginjal, selain itu juga dipengaruhi oleh kerja jantung dan tekanan darah.

Respons haus pada orang berusia lanjut, relatif berkurang dibandingkan usia muda. Peningkatan pengeluaran hormon ADH juga menyebabkan air banyak diserap di ginjal dan yang dikeluarkan melalui kencing menjadi berkurang. Pengaturan keseimbangan natrium pada usia tua, lebih diperberat lagi bila disertai dengan penyakit jantung dan ginjal.

Hiponatremia juga dapat terjadi jika terjadi pengeluaran natrium yang berlebihan, seperti pada muntah, diare, dan pemberian obat pelancar kencing (diuretika). Obat diuretik terkadang diberikan untuk terapi tekanan darah tinggi.

Sebagian besar, sekitar 60 persen, hiponatremia pada orang tua disebabkan karena gangguan pengeluaran hormon ADH. Gangguan ini sebagian terjadi akibat penyakit tertentu seperti kanker, pneumonia, alzheimer, dan diabetes atau penggunaan obat-obatan seperti diuretik, antirematik, antidepresi, karbamazepin, dan klorpropamid. Namun sebagian lagi tidak diketahui penyebab pastinya.

Oleh karena hiponatremia yang berat dapat berakibat fatal, maka perlu dicegah. Untuk itu harus dicari dahulu kemungkinan penyebabnya. Jika ada obat-obat yang selama ini dikonsumsi yang diduga berhubungan dengan terjadinya hiponatremia maka obat tersebut harus dihentikan. Tambahan asupan natrium dapat diberikan melalui kapsul NaCl tersebut. Selain itu, mungkin ibu Anda juga perlu membatasi minum, cukup 1 sampai 1,5 liter perhari.

Memang pada orang normal, terutama orang dengan tekanan darah tinggi, tidak dianjurkan mengonsumsi garam berlebihan. Namun, hiponatremi adalah kondisi khusus dimana orang tersebut memerlukan tambahan asupan garam dari luar. Untuk diketahui, tekanan darah dipengaruhi oleh banyak faktor, tidak hanya oleh keseimbangan natrium.

Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,