Masalah :
Assalamualaikum Wr Wb
Dokter Zubairi Yth,
Saya ingin bertanya mengenai keadaan ibu saya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ibu saya, saat ini berusia 76 tahun, sejak dua minggu lalu dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta karena patah tulang panggulnya akibat jatuh di kamar mandi.
Sejak awal dirawat, dokter spesialis bedah tulang sudah menyarankan operasi untuk mengganti bonggol tulang panggulnya. Saat itu kami, anak-anaknya, masih ragu-ragu menerima saran dokter mengingat usia ibu yang sudah lanjut, sehingga dokter saat itu hanya mengikat dan memberi beban pada tungkai yang patah agar tidak nyeri dan tulangnya tidak bergeser.
Masalahnya Dok, setelah tiga hari perawatan, kondisi ibu saya semakin menurun: nafsu makannya mulai berkurang, bicaranya mulai tidak jelas, meracau, tampak sesak napas, dan mulai muncul luka di tumit dan di bagian bokong-nya. Dokter spesialis bedah tulang yang semula menganjurkan operasi sekarang menjadi ragu-ragu untuk mengoperasi ibu saya, dan mengonsulkan ibu saya kepada dokter spesialis penyakit dalam untuk memperbaiki keadaannya.
Pertanyaan saya Dok: apakah ibu saya yang berusia 76 tahun itu memang masih memungkinkan untuk menjalani operasi patah tulang? Kami khawatir bahwa orang yang sudah berusia lanjut akan mengalami komplikasi operasi. Dengan kondisi ibu saya saat ini, apakah memang operasi kemudian menjadi tidak memungkinkan lagi? Kami merasa bahwa kondisi ibu saya seperti sekarang adalah akibat beliau tidak mampu bergerak karena patah tulang.
Perlu dokter ketahui, sebelum jatuh ibu saya termasuk orang yang masih aktif walaupun sudah berusia lanjut. Beliau memang mengidap hipertensi dan diabetes sejak lama, namun terkontrol dengan obat. Demikian pertanyaan kami, dokter. Mohon jawabannya. Terima kasih.
Dasrul, Jakarta
Jawaban :
Waalaikumussalam Wr Wb
Patah tulang memang sering dilaporkan terjadi pada mereka yang berusia lanjut. Diperkirakan, sekitar 250 ribu - 300 ribu kejadian patah tulang panggul setiap tahunnya terjadi di Amerika Serikat, yang sebagian besar terjadi pada mereka berusia lanjut.
Angka ini makin tahun makin meningkat. Sayangnya, kita belum punya data yang akurat mengenai kejadian patah tulang panggul pada orang tua di Indonesia. Patah tulang panggul merupakan salah satu penyebab cacat terbanyak pada kelompok usia lanjut selain stroke. Patah tulang pada orang tua sering dihubungkan dengan tulang yang makin keropos (osteoporosis), yang banyak terjadi pada perempuan yang telah mengalami menopause.
Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya patah tulang pada orang berusia lanjut, salah satu yang paling sering adalah jatuh, seperti yang dialami oleh ibu Anda. Sebanyak 90 persen patah tulang panggul disebabkan oleh jatuh. Jatuh pada orang berusia lanjut dapat disebabkan oleh berbagai hal, secara umum dibagi menjadi dua sebab, yaitu:
1. Faktor yang berasal dari pasien itu sendiri, yaitu berupa ketidakseimbangan akibat kelemahan otot, nyeri akibat pengapuran pada lutut, gangguan penglihatan akibat katarak, gangguan pendengaran, penurunan tekanan darah akibat perubahan posisi, atau karena efek samping obat-obatan.
2. Faktor dari luar, yang cukup berperan misalnya lantai kamar mandi yang terlalu licin, ceceran air di lantai, karpet yang terlipat/ menggulung, penerangan yang kurang baik, dan sebagainya.
Pengobatan pasien patah tulang panggul adalah dengan operasi, termasuk pada mereka yang sudah berusia lanjut. Dengan operasi, baik dengan memasang sambungan metal (plate) atau mengganti bonggol tulang panggul, diharapkan penyembuhan dapat lebih cepat sehingga pasien lebih cepat dapat berjalan seperti sedia kala. Khusus pada orang tua, memang tindakan operasi harus dipertimbangkan matang-matang.
Bila fungsi organ-organ tubuh seperti ginjal, jantung, paru-paru dan hati masih baik serta tidak terdapat penyakit-penyakit kronis lain, risiko tindakan operasi tidak lebih besar dibandingkan mereka yang berusia lebih muda. Bahkan, pada mereka yang mengidap penyakit kronik seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, atau yang lain, asalkan terkontrol dan belum menimbulkan komplikasi yang berat, tindakan operasi masih dapat dipertimbangkan.
Bila seorang mengalami patah tulang panggul dan tidak segera dioperasi, maka umumnya ia akan berbaring saja di tempat tidur karena nyeri dan tidak mampu menggerakkan tungkainya. Kondisi ini disebut sebagai imobilisasi (ketidakmampuan dan ketidakmauan untuk bergerak seperti seharusnya).
Imobilisasi juga terjadi karena dalam rangka mencegah agar tulang yang patah tidak bergeser dan penyambungan tulang yang alamiah dapat terjadi dengan baik, maka biasanya dokter akan mengikat (fiksasi) dan menarik (traksi) tungkai tersebut dengan beban. Imobilisasi, apalagi bila terjadi pada seorang berusia lanjut, akan menimbulkan berbagai komplikasi yang saya yakin sudah terjadi pada ibu Anda.
Luka di daerah tumit dan bokong ibu Anda, muncul karena bagian-bagian tersebut terus-menerus tertekan ke kasur sehingga menjadi lecet dan luka. Seorang yang terus-menerus berbaring, fungsi paru-parunya akan terganggu yang pada akhirnya akan mengakibatkan infeksi paru (pneumonia) yang gejalanya adalah sesak napas.
Seorang berusia lanjut yang mengalami infeksi seringkali menjadi tidak nafsu makan dan pada infeksi yang cukup berat akan mengalami perubahan kesadaran (salah satu gejalanya adalah bicara yang kacau). Gejala seperti batuk dan demam, layaknya infeksi paru pada umumnya, terkadang tidak muncul pada usia lanjut akibat menurunnya fungsi dan daya tahan tubuh.
Selain komplikasi-komplikasi di atas, imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku, otot mengecil, peredaran darah tidak lancar, serta pasien menjadi depresi. Beberapa komplikasi tersebut dapat dicegah, seperti untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah balik akibat peredaran yang tidak lancar, dokter biasanya akan memberikan obat pengencer darah.
Kembali ke pertimbangan operasi pada orang tua, selain memerhatikan penyakit-penyakit kronis yang sudah diderita dan komplikasinya, khusus pada operasi patah tulang panggul ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan. Pertama, apakah sebelum jatuh dan mengalami patah tulang, pasien masih cukup aktif dan mandiri? Bila masih aktif sebelum patah tulang, maka operasi bisa disarankan.
Tujuan operasi adalah supaya pasien bisa berdiri dan berjalan kembali. Saat ini, banyak orang yang berusia lanjut sudah tidak mampu mengurus dirinya sendiri, berjalan harus dibantu bahkan dengan memakai kursi roda, juga lebih banyak duduk atau berbaring saja. Tentu pada pasien yang seperti ini, operasi bukan suatu pilihan karena hampir dapat dipastikan bahwa setelah operasi ia tetap tidak akan bisa berdiri atau berjalan.
Kedua, bagaimana fungsi pemahaman pasien sebelum jatuh? Atau apakah pasien sebelum jatuh sudah mengalami demensia atau kepikunan yang parah? Seperti kita ketahui, bahwa seorang berusia lanjut sering mengalami kepikunan, yang dianggap wajar terjadi. Pada beberapa orang, kepikunan ini terjadi sedemikian berat sehingga menimbulkan gangguan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari termasuk kemampuan berpikir. Hal ini disebut sebagai demensia.
Operasi patah tulang panggul harus dipertimbangkan benar pada mereka dengan demensia yang berat. Untuk diketahui, agar tulang panggul yang dioperasi dapat berfungsi secara optimal, pasien harus mampu melakukan latihan-latihan yang terprogram (fisioterapi). Tentu, fisioterapi tidak akan berjalan dengan baik bila pasien mengalami demensia berat. Sebab, ia tidak mampu menerima dan melaksanakan perintah-perintah untuk latihan. Bila fisioterapi tidak optimal, umumnya pasien tetap tidak mampu menggunakan tungkainya yang sudah diopreasi dan tidak bisa berjalan lagi. Tentu pada kasus seperti ini, operasi akan menjadi sia-sia bukan?
Kembali ke kasus yang dialami ibu Anda, saya sependapat dengan sikap dokter spesialis bedah tulang yang menunda operasi karena keadaan umum ibu Anda saat ini tidak memungkinkan menjalani operasi secara aman. Kondisi seperti ini, yang mungkin disebabkan oleh infeksi paru dan komplikasi-komplikasi akibat imobilisasi, harus segera diatasi.
Untuk kasus seperti ibu Anda, sebaiknya penanganan dilakukan oleh suatu tim interdisiplin. Makna interdisiplin di sini adalah selain dokter bedah tulang dan dokter spesialis penyakit dalam (internis), internis konsultan geriatri (khusus menangani usia lanjut), spesialis rehabilitasi medik, serta psikiatri perlu dilibatkan. Jadi, penanganan kasus ibu Anda, dilaksanakan secara komprehensif (paripurna), untuk mencapai target pengobatan dan perawatan yang optimal dan rasional.
Sumber : Republika Online
Tags: Dr Zubairi Djoerban, Patah Tulang Panggul, Republika Online